new icn messageflickr-free-ic3d pan white
View allAll Photos Tagged Seni rupa

Kleines Experiment mit Kamera und Bearbeitungssoftware.

Little experiment with camera and editing software

 

Bayern (Bavaria) - Deutschland (Germany)

Cham Oberpfalz

Februar (February) 2012

 

follow me on Facebook:

www.facebook.com/neumeier.carmen

Ciri-ciri Umat Nabi Muhammad SAW

 

Karakteristik atau Ciri-ciri Umat Nabi Muhammad SAW. Di dalam Kitab Suci

Alquran surah al-Fath ayat terakhir menyebutkan empat karakteristik yang

harus dimiliki oleh umat Nabi Muhammad SAW.

 

Pertama, asyidda ‘alal kuffar (bersikap keras terhadap orang-orang kafir).

Bersikap keras dalam ayat ini bukanlah berarti umat Islam harus menempuh

jalan radikal terhadap kelompok non-Muslim, akan tetapi maknanya adalah

umat Islam harus berpegang teguh terhadap prinsip-prinsip dan nilai-nilai

ajaran Islam serta mengamalkannya secara utuh.

 

Ungkapan lain, umat Islam tidak mengenal adanya kompromistis terhadap cara

hidup orang-orang kafir yang tidak kenal batas halal dan haram.

 

Ciri kedua, ruhama bainahum (menebarkan kasih sayang terhadap sesama).

Umat Islam dituntut untuk menebarkan kasih sayang terhadap sesama mereka,

membela yang lemah, meringankan kesusahan saudaranya, dan memberikan

manfaat kepada orang lain. Tentu semua itu harus dilakukan dengan penuh

ketulusan hati, tanpa pamrih dan tanpa embel-embel yang sarat dengan

kepentingan sesaat pribadi atau kelompoknya.

 

Oleh sebab itu, dalam menanamkan nilai-nilai kasih sayang ini, seorang

tokoh pahlawan Indonesia, KH Ahmad Dahlan mengajarkan surah al-Ma’un kepada

murid-muridnya secara berulang-ulang. Tidak lain, ini bertujuan agar

kandungan atau pesan ayat tersebut dipahami dengan baik sehingga nilai

kasih sayang tidak sebatas kata-kata, tetapi dibuktikan dengan aksi nyata,

seperti gemar membantu orang lain, khususnya membantu dan menyantuni kaum

dhu’afa, baik keperluan pendidikannya, pakaiannya, makanannya, maupun

keperluan asas lainnya.

 

Ketiga, dzikrullah (mengingat Allah). Allah dan rasulNya telah

memerintahkan umat Islam supaya banyak berzikir kepada Allah SWT. Nash

al-Qur’an dan hadis Nabi SAW banyak menjelaskan tentang keutamaan dan

pentingnya zikir. Jadi, ciri umat Muhammad selanjutnya adalah senantiasa

mengingat Allah SWT, seperti menunaikan shalat, puasa, ibadah haji, membaca

dan mendalami pemahaman Alquran, shalat malam, dan bentuk-bentuk zikir

lainnya.

 

Namun, ibadah zikir ini tidak hanya dimaknai dengan zikir syafawi (lisan),

tetapi perlu dimaknai dengan zikir yang lebih luas, yaitu dzikir fi’li

(perbuatan) yang melahirkan watak dan perilaku yang baik dan terpuji ketika

bergaul di tengah lingkungan kehidupan masyarakat yang kompleks dengan

tanpa sifat kepura-puran dan kebohongan.

 

Ada pun ciri yang keempat, Simaahum fi Wujuhihim min Atsaris Sujuud

(terdapat tanda bekas sujud pada wajah mereka). Maknanya, bahwa wajah umat

Muhammad SAW akan memancarkan cahaya putih disebabkan keimanan dan

ketakwaannya kepada Allah SWT. Jadi, zikir ritual yang disertai aktivitas

sosial kemanusiaan inilah yang menyebabkan wajah pelakunya bercahaya, yaitu

pada air mukanya kelihatan kekuatan iman dan kesucian hatinya.

 

Demikianlah karakteristik mereka yang disebutkan dalam kitab Taurat dan

Injil yang asli, perumpamaannya laksana tanaman yang mengeluarkan tunasnya

maka tunas tersebut menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia

dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati

penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir

(dengan kekuatan orang-orang Mukmin). Dan Allah telah menjanjikan kepada

orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh di antara mereka

ampunan dan pahala yang besar. (QS Al-Fath [48]:29).

 

///////////////////////////////////////////

Inilah Lima Jalan Menuju Surga

 

Posted: 07 Jun 2013 01:08 AM PDT

feedproxy.google.com/~r/duniabaca/~3/iduMP-lA_u4/inilah-l...

 

5 Jalan atau Tiket Menuju Surga. Segala kenikmatan di surga tentu tidak

gratis. Ibarat tempat wisata, untuk masuk ke dalamnya diperlukan tiket.

Siapa tidak mengantongi tiket harus rela mundur.

 

Surga merupakan tempat di akhirat yang dijanjikan Allah bagi orang-orang

beriman. Kehidupan surga penuh keselamatan, kebahagiaan, dan kemuliaan.

Masyarakat dalam surga mendapatkan kenikmatan yang tidak pernah mereka

rasakan di dunia. “Para penghuni surga pada hari itu paling baik tempat

tinggalnya dan paling indah tempat istirahatnya” (QS Al-Furqan: 24).

 

Masyarakat surga mengenakan pakaian berwarna hijau, terbuat dari sutra

halus dan tebal (QS Al-Kahfi: 31). Perhiasan mereka berupa gelang-gelang

emas dan mutiara (QS Al-Haj: 23). Mereka bertelekan pada bantal-bantal

hijau dan permadani-permadani yang indah (QS Ar-Rahman: 74-76).

 

Bahkan, menurut keterangan Rasulullah yang dituturkan Muslim, masyarakat

surga tidak buang air kecil maupun air besar. Tidak meludah dan beringus.

Keringat mereka berupa minyak kesturi. Mereka selalu muda, bersih, halus,

tidak berambut kecuali pada kepala dan bulu mata. Tinggi badan mereka

setinggi Nabi Adam, yakni 60 hasta dan seusia Nabi Isa, yakni 33 tahun.

 

Mereka memperoleh segala yang diinginkan (QS Al-Furqan: 16). Tidak berduka,

lelah, apalagi lesu (QS Fathir: 34-35). Setiap hari selalu riang gembira

(QS Yasin: 56-57). Karena dikelilingi anak-anak muda yang siap melayani.

Wajah mereka bagai mutiara tersimpan (QS At-Thur: 24). Juga disediakan

pendamping yang lebih sempurna dari pendamping mereka di dunia. Para pria

beristrikan bidadari-bidadari cantik dan bermata indah (QS At-Thur: 20).

Rumah tangga mereka selalu rukun dan memuji Allah sepanjang pagi dan petang.

 

Fasilitas dalam surga juga serba lengkap dan istimewa. Piring-piring

terbuat dari emas (QS Az-Zukhruf: 71), bejana dan gelas dari perak (QS

Al-Insan: 15-16). Ada pohon bidara tidak berduri dan pohon pisang yang

bersusun-susun buahnya (QS Al-Waqiah: 27-34), kebun-kebun dan buah anggur

(QS An-Naba’: 31-34).

 

Semua buah-buahan itu mudah dipetik (QS Al-Insan: 4). Juga ada minuman jahe

(QS Al-Insan: 17), aneka daging yang lezat (QS At-Thur: 22), minuman keras

yang tidak memabukkan (QS As-Shaffat: 45-47), dan sungai susu, madu, arak,

serta bermacam buah-buahan lain (QS Muhammad: 15).

 

Segala kenikmatan di surga tentu tidak gratis. Ibarat tempat wisata, untuk

masuk ke dalamnya diperlukan tiket. Siapa tidak mengantongi tiket harus

rela mundur. Berikut lima kebaikan untuk mendapatkan tiket itu. Pertama,

mencegah diri dari kemaksiatan.

 

Sepele, tetapi dalam praktiknya sangat tidak mudah. Sering kita mampu

melanggengkan ibadah, tetapi gagal menanggalkan kemaksiatan. Boleh dikata,

tidak bermaksiat rasanya lebih berat ketimbang taat. Karena itu, Allah

berfirman, “Dan menahan diri dari dorongan nafsu, maka sungguh surga tempat

tinggalnya” (QS An-Naziat: 40-41).

 

Kedua, siap hidup sederhana. Kelemahan utama manusia adalah mudah tergiur

oleh kesenangan sesaat dengan mengorbankan kebahagiaan abadi. Melihat

kekayaan Qarun, orang-orang yang gila harta berseru, “Amboi, andai kita

memiliki seperti apa yang diberikan kepada Qarun. Sungguh ia mempunyai

keuntungan yang besar (QS Al-Qashash: 79). Padahal Rasulullah berkisah,

“Saya berdiri di pintu surga, sebagian besar yang memasukinya adalah

orang-orang miskin. Orang-orang kaya ditahan dulu” (HR Bukhari dan Muslim).

 

Ketiga, gemar mengerjakan ketaatan kepada Allah. Umat Islam adalah umat

yang dididik untuk taat kepada aturan. “Sungguh Allah menetapkan

hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya” (QS Al-Maidah: 1). Islam disebut

sebagai ‘din’, yang artinya sistem ketundukan atau kepatuhan. Masyarakatnya

disebut ‘madinah’, artinya suatu tempat yang kehidupannya teratur, karena

orang-orangnya tunduk dan patuh kepada aturan. Mereka diganjar oleh Allah

dengan surga. “Dan itulah surga yang diwariskan kepadamu, karena amal yang

dahulu kamu kerjakan” (QS Al-A’raf: 43).

 

Keempat, mencintai orang-orang saleh. Dunia ini hancur karena adanya

orang-orang jahat yang merasa berbuat baik. Hatinya bukan lagi nurani

tetapi sudah zulmani. Rugilah bergaul dengan orang-orang demikian.

Orang-orang saleh akan memberikan syafaat kepada kita. Tepatlah pesan

Rasulullah, “Jangan kamu bersahabat, kecuali dengan orang Mukmin dan jangan

pula makan makananmu, kecuali orang yang bertakwa” (HR Tirmidzi).

Pentingnya bergaul dengan orang-orang saleh, kata Rasulullah, karena setiap

orang akan bersama dengan kekasihnya (HR Bukhari dan Muslim).

 

Kelima, memperbanyak doa kepada Allah agar dapat menutup hidup dengan

khusnul khatimah. Tiada daya tanpa pertolongan Allah. Memperbanyak doa

merupakan wujud pengakuan bahwa kita memang hamba yang serba lemah.

Sepanjang berkenan melangitkan doa, niscaya Allah akan menjawabnya. “Aku

mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka

hendaklah mereka memenuhi segala perintah-Ku dan beriman kepada-Ku, agar

mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS Al-Baqarah: 186).

 

///////////////////////////////////////////

Kisah Para Penulis Terkenal di Dunia yang Mati Bunuh Diri

 

Posted: 06 Jun 2013 09:55 PM PDT

feedproxy.google.com/~r/duniabaca/~3/pHggqeRqXz4/kisah-pa...

 

Kisah Bunuh Diri para Penulis Terkenal di Dunia. Sejumlah penulis yang

terkenal di dunia telah berjuang melawan depresi dan godaan untuk bunuh

diri. Meski, tidak semua penulis mengakhiri hidup mereka dengan bunuh diri.

 

Sayangnya, tak sedikit dari mereka yang akhirnya memutuskan untuk

mengakhiri kebuntuan dalam berkarya ataupun depresi dengan bunuh diri. Nah,

berikut adalah lima penulis yang tewas bunuh diri, sebagaimana Dunia Baca

dot Com lansir dari laman Merdeka.

 

#5. Hunter S. Thompson

 

Hunter Thompson sering menulis dengan caranya yang sangat subyektif,

menggabungkan pengalamannya sendiri dan kreativitas artistik dalam

bercerita. Hasilnya adalah suatu bentuk tulisan yang mengaburkan garis

antara kebenaran dan fiksi.

 

Selama bertahun-tahun ia bekerja di berbagai tempat yang berbeda di seluruh

Amerika Serikat dan bahkan di tempat-tempat seperti Puerto Rico dan Brasil.

Kemudian saat dirinya mulai meneliti kisah di balik pembunuhan jurnalis

Ruben Salazar oleh polisi Los Angeles, Hunter memiliki ide untuk mengarang

novel Fear and Loathing, yang awalnya muncul di majalah Rolling Stone pada

1971, memberinya kesempatan untuk menulis lebih banyak untuk majalah.

 

Hunter kemudian menderita berbagai masalah kesehatan, yang mungkin menjadi

faktor di balik keputusannya untuk bunuh diri. Pada tanggal 20 Februari

2005, Hunter mengakhiri hidupnya dengan menembak kepalanya dengan senpi.

 

#4. Iris Chang

 

Wanita bernama lengkap Iris Shun-Ru Chang ini adalah seorang sejarahwan dan

wartawati lepas Tionghoa-Amerika. Namanya kemudian dikenal luas karena

bukunya yang kontroversial tentang pembantaian Nanking yang diberi judul

The Rape of Nanking. Ia melakukan bunuh diri pada tahun 2004 setelah

menderita depresi yang disebabkan oleh bipolar disorder.

 

#3. David Oliver Relin

 

David Oliver Relin adalah salah satu penulis buku terlaris di dunia yang

berjudul Three Cups of Tea. Menurut pengakuan pihak berwajib, David

melakukan bunuh diri di Portland pada tanggal 14 November 2012. Polisi

mengatakan bahwa David meninggal karena cendera parah di bagian kepala yang

disebabkan oleh benda tumpul.

 

#2. Ernest Hemingway

 

Lahir dan dibesarkan di Oak Park, Illinois, Amerika, bakat sastra Ernest

Hemingway telah terlihat sejak dirinya remaja. Ketika akhirnya ia bekerja

sebagai penulis dan editor untuk koran sekolah, nama Ernest cukup disegani

oleh teman-temannya.

 

Pasca wisuda, ia pun segera bekerja sebagai reporter pemula di The Kansas

City Star dan akhirnya memutuskan untuk berhenti dan menjadi sopir ambulans

milik Palang Merah di Italia selama Perang Dunia I, dan setelah ia kembali

ke Amerika Serikat, Ernest akhirnya pindah ke Toronto dan mendapatkan

pekerjaan di Toronto Star Weekly, di mana ia bekerja sebagai freelancer,

staf penulis, dan koresponden asing.

 

Ernest terkenal karena mampu menulis beberapa novel terlaris yang sekarang

dianggap sebagai sastra klasik Amerika, seperti For Whom The Bell Tolls

(1940) dan The Old Man And The Sea (1952). Kontribusinya terhadap sastra

membuatnya memenangkan Penghargaan Pulitzer (1953) dan Hadiah Nobel (1954).

 

Namun sayangnya, Ernest kemudian mengalami kecanduan alkohol yang

menyebabkan dirinya menderita tekanan darah tinggi dan masalah hati. Tak

lama berselang pada tahun 1961, ia mencoba mengakhiri hidupnya dengan bunuh

diri di rumahnya sendiri di Sun Valley. Meski sempat digagalkan, Ernest

berhasil merenggut nyawanya dengan menembakkan pistol di mulutnya.

 

#1. Yukio Mishima

 

Yukio Mishima atau bernama pena Kimitake Hiraoka, adalah seorang penulis,

aktor, dan penulis naskah yang sangat produktif di Jepang. Di bawah asuhan

sang nenek yang terlalu protektif hingga berusia 12 tahun, Yukio tidak

diizinkan untuk bermain dengan anak-anak lain, ikut tanding olahraga, atau

bahkan terkena sinar matahari.

 

Ketertarikan awal Yukio pada sastra dan menulis memicu bentrokan dengan

ayahnya yang berlatar belakang militer. Saking bencinya, ayah Yukio bahkan

rela menghancurkan semua naskah putranya. Namun, Yukio tetap teguh pada

pendiriannya dengan menjadi anggota termuda dewan redaksi sekolah elit dan

kemudian menerbitkan puisi dan prosa di sejumlah majalah bergengsi. Untuk

melindungi dirinya dari cemoohan teman-teman sekelasnya, Yukio kemudian

mengganti namanya dengan nama pena.

 

Yukio lulus dari Universitas Tokyo pada tahun 1947 dan terus

mempublikasikan cerita, puisi, dan dramanya. Sangat tertarik pada kebugaran

fisik dan seni bela diri, ia kemudian bergabung dengan Angkatan Bela Diri

Jepang dan membangun tim prajurit sendiri yang disebut Shield Society.

 

Pada tahun 1970, Yukio dan empat anggotanya mengambil alih markas Angkatan

Bela Diri Jepang. Yukio memberikan pidato tentang tuntutannya untuk

mengambil alih kekuasaan kaisar Jepang, dan kemudian mengakhiri hidupnya

dengan melakukan seppuku. Dia telah merencanakan secara matang bunuh diri

tersebut selama setahun. Seppuku adalah bentuk ritual bunuh diri Jepang,

yang awalnya hanya diperuntukkan bagi samurai.

 

///////////////////////////////////////////

Asal Usul Sejarah Jengkol jadi Makanan Rakyat

 

Posted: 06 Jun 2013 06:46 PM PDT

feedproxy.google.com/~r/duniabaca/~3/07iFS3UGLtM/asal-usu...

 

Sejarah Asal Usul Jengkol jadi Makanan Rakyat. Baru-baru ini diberitakan

harga jengkol melesat tinggi, melebihi harga daging ayam, telor dan sembako

lain. Di Kota Bekasi misalnya, harga buah polong-polongan ini menembus Rp

50 ribu per kilogram atau naik 100 persen dari harga biasanya Rp 25 ribu

per kilogram.

 

Harga jengkol ini bahkan lebih tinggi dari harga daging ayam boiler.

Menurut data Kementerian Perdagangan, per 28 Mei, harga ayam boiler di

pasaran sebesar Rp 26.122 per kilogram. Sementara harga telur ayam kampung

Rp 35.127 per kilogram. Hebat bukan?

 

Nah, bicara jengkol, ada baiknya kita mengenal lebih dekat asal usul

jengkol atau buah polong-polongan, yang bila dimasak digandrungi sebagian

besar orang Indonesia ini.

 

Jengkol atau Pithecollobium Jiringa atau Pithecollobium Labatum, merupakan

jenis tanaman khas wilayah tropis Asia Tenggara. Pohon ini bisa anda

temukan di Indonesia, Malaysia, Myanmar dan Thailand. Di negara-negara itu

pula biji jengkol diolah menjadi rupa-rupa menu makanan.

 

Di Indonesia, beberapa daerah memiliki istilah sendiri-sendiri untuk

menyebut tanaman ini. Misalnya jengkol atau erring dipakai orang Jawa, lubi

istilah orang Sulawesi, jariang untuk wilayah Minangkabau, jaring untuk

daerah Lampung dan joring atau jering untuk daerah Batak.

 

Bagi orang Indonesia, biji pohon jengkol ini juga bisa diolah menjadi

berbagai menu makanan. Misalnya dijadikan keripik, semur atau jenis kudapan

lain.

 

Dalam buku Sejarah Keraton Yogyakarta cetakan 2009, penulis Ki

Sabdacarakatama mengutip buku babad Giyanti tulisan Yosodipuro. Dia

menyebut, pohon erring atau jengkol pernah digunakan sebagai patok cikal

bakal calon kota Yogyakarta oleh Sultan Hamengku Buwono I, usai perjanjian

Giyanti.

 

Namun demikian, makanan dari biji jengkol atau erring itu kurang popular

bagi masyarakat Jawa. Jengkol lebih popular di kalangan masyarakat Betawi,

Pasundan dan Sumatra. Bagi orang Sumatera jengkol cenderung dianggap

sebagai makanan murahan.

 

Penyebabnya, biji jengkol bisa menimbulkan bau tak sedap pada napas dan

sisa pencernaan. Pemakan jengkol sering menjadi korban ejekan dari

sekelilingnya. Tapi uniknya, tetap banyak orang-orang yang makan jengkol.

 

Di Sumatera, pohon jengkol tumbuh di lereng-lereng pegunungan Bukit

Barisan, pekarangan dan ladang-ladang penduduk. Orang Sumatera belum

terbiasa membudidayakan tanaman jengkol. Mereka umumnya memperoleh

biji-biji jengkol mentah dari tanaman liar di sekitar hutan atau yang

tumbuh secara tak sengaja di ladang-ladang.

 

Begitu juga di Jakarta. Konon orang-orang Betawi banyak yang menanam pohon

ini di pekarangan-pekarangan rumah. Misalnya di wilayah Pondok Gede dan

Lubang Buaya. Sekarang dua daerah itu terkenal karena semur jengkolnya,

yang disebut-sebut sebagai makanan khas orang Betawi.

 

Selama ini memang tidak ada catatan resmi sejak kapan Jengkol dikenal di

tengah penduduk Indonesia ini. Jengkol agaknya sudah ada sepanjang umur

peradaban manusia di Nusantara. Seperti dikatakan Sejarawan Jakarta JJ

Rizal, jengkol ini bukan hanya dikenal di Jakarta, tapi juga di daerah lain

di Indonesia.

 

Tidak ada catatan resmi. Tapi jengkol sepertinya identik dengan makanan

rakyat miskin, rakyat pinggiran. Makanan ini kan baunya tidak sedap,

dianggap makanan sampah. Dulu mungkin orang kota tidak terlalu peduli, tapi

sekarang sepertinya banyak yang suka, terangnya.

 

Menurut ahli botani asal Inggris, Isaac Henry Burkill (1935) lewat buku

catatan berjudul; dictionnary of the economic products of the Malay

peninsula, jengkol selain dipakai sebagai lauk pauk, juga dipakai untuk

obat diare dalam dunia medis, bahan keramas rambut, dan bahan penambah

karbohidrat.

 

Pohon jengkol berbuah secara musiman, antara November hingga Januari.

Tanaman ini banyak ditemukan di Indonesia dan Malaysia. Tinggi pohon

mencapai 26 meter, bisa hidup di dataran tinggi maupun rendah. Meski bisa

dimakan, jengkol juga mengandung racun berasal dari asam jengkolat

(L-Djengkolid acid).

 

Kasus keracunan jengkol di Indonesia pernah dilaporkan dokter peneliti

Belanda, Van Veen dan Hyman. Hyman menulis buku yang menjadi rujukan medis

terbit pada 1933 berjudul on the toxic component of the djenkol bean. Dia

menyebut pada zaman penjajahan Belanda dulu kasus keracunan jengkol banyak

dialami orang-orang Jawa.

 

Namun demikian, dalam buku itu dia tidak mengungkap detail jumlah kasus.

Dia lebih fokus pada penemuan asam jengkolat yang terkandung dalam jengkol

dari penelitianya di Jawa. (Merdeka.com)

 

///////////////////////////////////////////

Inilah 10 Orang yang Menjadi Temannya Iblis

 

Posted: 06 Jun 2013 03:32 PM PDT

feedproxy.google.com/~r/duniabaca/~3/towZUozh6m4/inilah-1...

 

10 Orang yang Menjadi Temannya Iblis. Dalam riwayat Imam Bukhari,

diceritakan, suatu saat ketika sedang duduk, Rasulullah saw didatangi

seseorang. Rasul bertanya kepadanya: “Siapa Anda?” Ia pun menjawab: “Saya

Iblis.”

 

Rasul bertanya lagi, apa maksud kedatangannya. Iblis menceritakan

kedatangannya atas izin Allah untuk menjawab semua pertanyaan dari

Rasulullah saw.

 

Kesempatan itu pun digunakan Rasulullah saw untuk menanyakan beberapa hal.

Salah satunya mengenai teman-teman Iblis dari umat Muhammad saw yang akan

menemaninya di neraka nanti? Iblis menjawab, temannya di neraka nanti ada

10 kelompok.

 

Yang pertama, kata Iblis, haakimun zaa`ir (hakim yang curang). Maksudnya

adalah seorang hakim yang berlaku tidak adil dalam menetapkan hukum. Ia

menetapkan tidak semestinya.

 

Tak hanya hakim, dalam hal ini bisa juga para penegak hukum secara umum,

seperti polisi, jaksa, pengacara, dan juga setiap individu, karena mereka

menjadi hakim dalam keluarganya.

 

Yang kedua, kata Iblis, ghaniyyun mutakabbir (orang kaya yang sombong). Ia

begitu bangga dengan kekayaan dan enggan mendermakan untuk masyarakat yang

membutuhkan.

 

Dia menganggap, semua yang diperolehnya merupakan usahanya sendiri tanpa

bantuan orang lain. Contohnya seperti Qarun.

 

Ketiga, taajirun kha’in (pedagang yang berkhianat). Ia melakukan penipuan,

baik dalam hal kualitas barang yang diperdagangkan, maupun mengurangi

timbangan.

 

Bila membeli sesuatu, dia selalu meminta ditambah, namun saat menjualnya

dia melakukan kecurangan dengan menguranginya.

 

Disamping itu, ia menimbun barang. Membeli di saat murah, dan menjualnya di

saat harga melambung tinggi. Dengan begitu, dia memperoleh untung besar.

 

Demikian juga pada pengerjaan proyek tertentu, ia membeli barang dengan

kualitas rendah untuk meraih keuntungan berlipat (mark up).

 

Kelompok keempat yang menjadi teman Iblis adalah syaaribu al-khamr (orang

yang meminum khamar). Minuman apapun yang memabukkan, ia termasuk khamar.

Misalnya arak, wine, wisky, atau minuman yang sejenisnya.

 

Dalam sebuah riwayat disebutkan, peminum khamar (pemabuk) dikatakan tidak

beriman, jika dia meninggal nanti masih terdapat khamar dalam tubuhnya.

 

Yang kelima, al-fattaan (tukang fitnah). Fitnah lebih berbahaya dari pada

pembunuhan (al-fitnatu asyaddu min al-qatl). Lihat QS al-Baqarah [2]: 191.

 

Membunuh adalah menghilangkan nyawa lebih cepat, namun fitnah ‘membunuh’

seseorang secara pelan-pelan. Fitnah ini bisa pula ‘pembunuhan’ karakter

seseorang.

 

Fitnah itu di antaranya, mengungkap aib seseorang yang kebenarannya tidak

bisa dipertanggungjawabkan, gosip, ghibah, dan lainnya.

 

Keenam adalah shaahibu ar-riya` (orang yang suka memamerkan diri). Mereka

selalu ingin menunjukkan kehebatan dirinya, menunjukkan amalnya,

kekayaannya, dan lainnya. Semuanya itu demi mendapatkan pujian.

 

Ketujuh, //aakilu maal al-yatiim// (orang yang memakan harta anak yatim).

Mereka memanfaatkan harta anak yatim atau sumbangan untuk anak yatim demi

kepentingan pribadi atau kelompoknya. Lihat QS al-Ma`un [107]: 1-7.

 

Kedelapan, al-mutahaawinu bi al-shalah (orang yang meringankan shalat).

Mereka memahami perintah shalat adalah kewajiban, namun dengan berbagai

alasan, akhirnya shalat pun ditinggalkan. Allah juga mengancam Muslim yang

melalaikan shalat.

 

Kesembilan, maani’u az-zakaah (orang yang enggan membayar zakat). Mereka

merasa berat untuk mengeluarkan zakat, walaupun tujuan zakat untuk

membersihkan diri dan hartanya.

 

Teman Iblis yang ke-10 adalah man yuthiilu al-amal (panjang angan-angan).

Enggan berbuat, namun selalu menginginkan sesuatu. Dia hanya bisa

berandai-andai, tapi tak pernah melakukan hal itu. Wallahu a’lam.

 

///////////////////////////////////////////

Inilah 10 Tempat Paling Berhantu di Dunia

 

Posted: 06 Jun 2013 08:25 AM PDT

feedproxy.google.com/~r/duniabaca/~3/9rWsdyI8ElQ/inilah-1...

 

10 Tempat Paling Serem Berhantu di Dunia. Ada beberapa tempat di dunia yang

terkenal dengan kisah hantu dan roh jahat. Konon sebagian orang berhasil

melihat sosok hantu yang menghuni tempat-tempat angker ini. Bukannya takut,

kisah hantu bergentayangan bikin banyak turis penasaran.

 

Kini, tempat-tempat berhantu ini menjadi tujuan wisata dunia, seperti

dilansir Oddstuffmagazine. Dan berikut adalah sepuluh tempat paling

berhantu di dunia.

 

Osuarium Sedlec

 

Osuarium Sedlec adalah sebuah kapel Roma Katolik kecil, yang terletak di

bawah pemakaman gereja di Sedlec, pinggiran Kutná Hora di Republik Ceko.

Osuarium (arti: kuburan) ini diperkirakan berisi kerangka 40.000 dan 70.000

orang.

 

Tulang kerangka itu ditata secara artistik untuk membentuk dekorasi dan

peralatan kapel tersebut. Kini, Osuarium ini merupakan salah satu tempat

wisata yang paling banyak dikunjungi di Republik Ceko.

 

Bukit Salib

 

Bukit Salib adalah sebuah situs ziarah, yang terletak sekitar 12 km sebelah

utara Å iauliai, bagian utara Lithuania. Pengunjung bisa melihat jajaran

salib di bukit ini. Jumlah pasti dari salib belum diketahui, tetapi

diperkirakan sekitar 55.000 tahun 1990 dan 100.000 tahun 2006.

 

Winchester Mystery House

 

The Winchester Mystery House adalah sebuah rumah besar yang terkenal di

California. Dulu, ini adalah kediaman pribadi Sarah Winchester, janda dari

raja William Wirt Winchester. Pembangunan rumah ini berjalan selama 38

tahun dan konon sering terjadi penampakan hantu.

 

Pripyat

 

Pripyat adalah kota hantu di dekat pembangkit listrik tenaga nuklir

Chernobyl di Oblast Kiev, utara Ukraina, dekat perbatasan Belarus.

 

Bhangarh (India)

 

Wisatawan yang mengunjungi tempat ini mengatakan bahwa ada perasaan aneh

ketika memasuki perbatasan Bhangarh sebelum matahari terbit dan setelah

matahari terbenam. Kadang suasana di sekitar Bhangarh membuat orang merasa

cemas dan gelisah.

 

Pelabuhan Ratu, Indonesia

 

Menurut legenda, Nyai Roro Kidul adalah putri Raja Prabu Siliwangi, yang

kini menjadi Ratu Laut Selatan. Konon seseorang yang memakai baju hijau

saat berenang (warna favorit Ratu), akan ditarik oleh hantu ke dalam laut.

Bahkan, kamar 308 di Hotel Samudra Beach sengaja tidak disewakan karena

dipakai sebagai kamar sang Ratu.

 

Aokigajara, Jepang

 

Aokigahara, hutan di bagian lereng Gunung Fuji, adalah lokasi yang populer

untuk bunuh diri. Hal ini menimbulkan mitos tentang lokasi angker.

 

Manila Film Centre, Filipina

 

Manila Film Center adalah lokasi kecelakaan konstruksi pada awal 80-an.

Ketika itu, gedung ini dibangun untuk event festival film. Sayangnya,

penyangga langit-langit runtuh dan membunuh beberapa pekerja di bawahnya.

Setelah kejadian tragis itu, warga sering menemui suara misterius dan

penampakan roh pekerja yang tertimbun hidup-hidup.

 

Hotel Hyat, Taiwan

 

Hotel Hyatt yang berada di pusat kota Taipei ini diduga berhantu dan

angker. Konon warga juga sering menemui kejadian aneh dan misterius di

ruang hotel.

 

Beechworth Lunatic Asylum, Australia

 

Kabarnya, Beechworth Lunatic Asylum, Australia, dihantui oleh beberapa

hantu pasien. Rumah ini dibuka sejak tahun 1867 sampai 1995. Saking

terkenalnya, rumah hantu ini sering muncul dalam beberapa buku, acara

televisi, dan film dokumenter, termasuk A.C.T Paranormal lho.

 

Berhantu atau tidak itu tergantung persepsi masing-masing orang. Namun,

sebagian orang percaya bahwa kehidupan lain di sekitar manusia, yakni alam

gaib.

 

--

You are subscribed to email updates from "Dunia Baca dot Com."

To stop receiving these emails, you may unsubscribe now:

feedburner.google.com/fb/a/mailunsubscribe?k=5vjiFG5dQO4l...

 

Email delivery powered by Google.

Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610

Here is another sculpture of “Goni” by Indonesian artist Samsul Arifin (b. 1979) seen earlier [1]. According to the gallery, Goni is quite well known in Indonesia, though this is the first time they are showing his work in the international stage.

 

When I first these works, I was reminded of Gumby [2], the green clay humanoid character created and modelled by Art Clokey.

 

Titled “Pembajak Seni Rupa” or “Art hijackers” in English, Goni is seen here with artist tools ready to take on the world.

 

Samsul Arifin

Pembajak Seni Rupa #1

2013

resin, wood, steel

210 x 60 x 60 cm

 

# Samsul Arifin

b. March 5, 1979 in Malang, Indonesia

 

# Nadi Gallery

Based in Jakarta, Nadi Gallery is an art gallery founded by Biantoro Santoso, a young collector of Indonesian art. The Indonesian word nadi means "aorta", "artery", "vein" that evokes the idea of signaling pulsation. Without pulsation, the aorta soon looses its significance for life. As the name indicates, the Gallery's principal programs of exhibitions have been aspiring to present the pulses of recent developments in contemporary art in Indonesia.

 

Jl. Kembang Indah III Blok G3 no. 4-5 Puri Indah

Jakarta 11610

Indonesia

www.nadigallery.com/

 

# Notes

1. “Mixed Media Sculpture by Samsul Arifin (b.1979): Musafir Artist #1, 2013 (“Goni”: Resin, leather, jute, steel, wood)” / Nadi Gallery / Art Basel Hong Kong 2013 / SML.20130523.6D.13970: www.flickr.com/photos/seeminglee/8909814961/

2. Gumby is a green clay humanoid character created and modeled by Art Clokey, who also created Davey and Goliath. Gumby has been the subject of a 233-episode series of American television as well as a feature-length film and other media. Since the original series' run, he has become well known as an example of stop motion clay animation and an influential cultural icon, spawning many tributes and parodies, including a video game and toys. en.wikipedia.org/wiki/Gumby

 

# SML Data

+ Date: 2013-05-23T14:29:14+0800

+ Dimensions: 3406 x 5109

+ Exposure: 1/125 sec at f/2.0

+ Focal Length: 22 mm

+ ISO: 100

+ Camera: Canon EOS M

+ Lens: Canon EF-M 22mm f/2 STM

+ GPS: 22°16'59" N 114°10'22" E

+ Location: 香港會議展覽中心 Hong Kong Convention and Exhibition Centre (HKCEC)

+ Workflow: Lightroom 4

+ Serial: SML.20130523.EOSM.03999

+ Series: 新聞攝影 Photojournalism, SML Fine Art, Art Basel Hong Kong 2013

 

# Media Licensing

Creative Commons (CCBY) See-ming Lee 李思明 / SML Photography / SML Universe Limited

 

“Mixed Media Sculpture by Samsul Arifin (b. 1979 Indonesia): Pembajak Seni Rupa #1, 2013 (resin, wood, steel)” / Nadi Gallery / Art Basel Hong Kong 2013 / SML.20130523.EOSM.03999

/ #Photojournalism #CreativeCommons #CCBY #SMLPhotography #SMLUniverse #SMLFineArt #Crazyisgood #SMLProjects

/ #中國 #中国 #China #香港 #HongKong #攝影 #摄影 #photography #Art #FineArt #ArtBasel #ABHK #SamsulArifin #NadiGallery #Indonesia #Goni #sculpture #mixedmedia

 

www.flickr.com/photos/seeminglee/9023497884/

  

Ketenangan pagi di kampung Lubuk Tampui serentak pecah oleh teriakan keras Mat Boneh. Lelaki bujang tua itu berlari tunggang langgang dari arah sawah Tanjung Raya. Wajahnya pucat pasi seperti baru berjumpa hantu kesiangan.

 

Seperti orang gila ia menjeritkan warta yang membuat puluhan butir kepala bermunculan dari balik pintu dan jendela.

 

“Ada orang mati tergantung! Ada orang mati tergantung!”

 

“Di mana? Di mana?” tanya orang-orang yang bergegas menghampirinya.

 

“Tergantung di pohon kepayang dekat sawah Mang Saleh!” jawab Mat Boneh terbungkuk-bungkuk dengan napas tersengal-sengal.

 

Sekejapan, berbondonglah orang-orang menuju tempat yang dimaksud. Setibanya di sana tampak di dahan pohon kepayang tua yang tumbuh di dekat pondok milik Mang Saleh, sedikit terlindung oleh gerumbul daun-daun, sesosok mayat perempuan berayun-ayun memilukan.

 

Melihat pemandangan itu, bukannya menolong, orang-orang malah menjauh. Tidak ada lagi keriuhan. Kerumunan berangsur menyusut begitu saja. Hanya satu-dua saja yang berusaha menurunkan mayat, sedangkan sisanya pergi tanpa bicara.

 

***

 

Satu bulan sebelum peristiwa pahit itu terjadi, serombongan laki-laki bertandang ke rumah Pacik Awang. Rombongan itu adalah utusan Pacik Hambali yang bermaksud mengajukan pinangan untuk Kemala — dara jelita, putri satu-satunya Pacik Awang untuk Anwar, putranya semata wayang.

 

Dari hulu sampai ke hilir kampung Lubuk Tampui tak ada yang meragukan ken cantikannya Kemala. Telah banyak pula pemuda yang berniat meminangnya, tetapi mahar yang dicanangkan Pacik Awang membuat mereka harus menimbang niat beribu kali.

 

Lelaki tua itu tak tanggung-tanggung meletakkan mahar untuk Kemala. Bila tak sanggup menyediakan perhiasan emas ratusan gram serta sutra pengikat berlarat-larat, jangan harap bisa menikahi putrinya. Tetapi syarat itu tidak berlaku bagi Pacik Hambali. Ia adalah saudara terpandang di kampung Lubuk Tampui. Mahar yang diminta Pacik awang bukan sesuatu yang sulit baginya.

 

Lagi pula, Pacik Hambali bersahabat dekat dengan Pacik Awang. Persahabatan yang terjalin bukan setahun dua tahun belaka. Mereka bersahabat lebih dari saudara. Namun, persoalan datang justru dari Kemala. Gadis itu menolak rencana perjodohan yang digadang-gadang untuk dirinya.

 

“Pernikahanmu dengan Anwar adalah ujian martabatku. Jangan sesekali menolak, kecuali kau ingin mengguyur kepalaku dengan kotoran.”

 

“Bukan aku menolak, Ayah,” sahut Kemala ragu-ragu.

 

“Tapi….” “Tapi kenapa?” potong Pacik Awang tak sabar. Wajah Kemala berubah pucat seperti mayat. Tusukan tajam mata lelaki tua itu membuat jantungnya menciut. Hampir dua puluh tahun hidupnya tak pernah sekali pun ia membantah kata-kata ayahnya.

 

“Apakah anak bujang Kasim itu yang membuat kau durhaka padaku seperti ini?” Pacik Awang muntab. Ia tegak berkacak pinggang, sebilah skin tersembul dari balik bajunya.

 

“Aku tak punya hubungan apa-apa dengan Bang Radin, Ayah.” Kemala menundukkan wajah. “Bang Radin hanya teman sesama guru.”

 

“Nah, kalau begitu apa alasan kau menolak perjodohan ini?”

 

“Aku tak setuju jika cengkung dipakai dalam adat pernikahanku,” jawab Kemala pelan. Wajahnya menunduk semakin dalam.

 

“Kenapa kau tak setuju? Tak perlu takut jika kau tak berbuat apa-apa.” Pacik Awang mulai melunak. Tatapannya pisaunya menumpul.

 

“Aku tak takut.”

 

Pacik Awang menatap Kemala penuh selidik. “Tapi, kenapa kau menolak? Apa karena alasan kau tak suka pada Anwar. Sudahlah, Kemala, rasa suka itu akan muncul jika kalian berumah tangga. O, atau kau sudah melanggar adat, hingga takut cengkung tak berbunyi di malam pengantinmu?”

 

“Demi Tuhan dan demi Ibu yang melahirkanku. Aku masih suci, Ayah. Aku selalu menjunjung tinggi harga dirimu.”

 

Mata Kemala berkilat, suaranya berderak di antara hening yang memantul di rumah panggung berdinding papan itu. Matanya berair saat memandaang potret bisu perempuan yang sedang tersenyum beku di dinding rumah itu.

 

“Aku tak mungkin menistakan diri dan membuat ibu menangis di alam kubur,” isak Kemala.

 

“Jika begitu tak ada yang perlu kau cemaskan. Lagi pula siapa yang akan meneruskan adat di kampung ini kalau bukan kalian-kalian yang masih muda.”

 

“Tidak, Ayah! Tidak!” seru Kemala. Ia berdiri menantang, bagai menjelma harimau luka. Gadis itu menantang mata ayahnya. “Cengkung adalah adat yang menghina. Ayah harus tahu bahwa kesucian wanita tak selamanya berpaut pada tetes darah di lembar pembungkus orang mati!”

 

“Cukup!” bentak Pacik Awang dengan wajah merah padam.

 

“Kau tak usah membantah. Aku dan Hambali sudah sepakat. Kau dan Anwar akan menikah bulan depan!” tegasnya menyudahi perdebatan. Lelaki itu lantas meninggalkan Kemala duduk terdiam tanpa mampu menjawab apa-apa.

 

Selepas pertengkaran hebat itu, Kemala menjadi batu. Di punggungnya bagai ada sebongkah es yang merayap. Dentang cengkung adalah sangkakala penanda kiamat. Pengadilan adat akan menjerat lehernya, tak peduli meskipun ia tak pernah mencurangi dirinya sendiri.

 

Kemala dirundung bingung, sebab tak tahu harus berbuat apa. Kesucian wanita memang tak selamanya dibuktikan setetes darah di malam pertama. Namun, ayahnya dan orang-orang di kampungnya mana tahu dan mana peduli perihal itu. Kemala menekur diri, membayangkan musibah besar yang akan jatuh menimpa apa apabila perjodohan itu betul-betul terlaksana.

 

Di dalam aturan ada yang berlaku turun-temurun, usai pesta pernikahan digelar, kehormatan dan kesucian pengantin wanita harus dibuktikan di atas sehelai kain putih dan dentang cengkung di malam pertama. Hanya dengan cara itu kesucian akan dijamin. Bagai hitam di atas putih, terang-gelapnya tak bisa dipersengketa.

 

Ketika sepasang pengantin menyibak tirai kamar, seisi kampung akan menunggu. Apabila cengkung berbunyi bertalu-talu, itu pertanda pengantin wanita masih perawan dan apabila cengkung membisu, maka kampung dianggap telah ternoda dan harus melakukan upacara tolak bala.

 

Hujat gunjing akan menjadi racun yang menusuk tulang belikat. Orangtua yang ketahuan anak gadisnya tak lagi suci akan dicemooh dan dihina. Sedangkan sang gadis akan diusir. Adat inilah yang menjadi hantu di benak Kemala, berpuluh hari sejak diterimanya pinangan itu oleh ayahnya.

 

***

 

Apa yang diucapkan Pacik Awang satu bulan yang lalu menjadi kenyataan.Hari yang paling ditakuti Kemala tiba juga. Akad nikah dilaksanakan dan Kemala tak memiliki kesempatan untuk menghindarinya.

 

Rumah panggung yang panjangnya hampir tiga puluh depa itu ramai oleh tamu-tamu undangan. Ruang berbentuk aula dijadikan tempat untuk berkumpul. Pacik Awang dan Pacik Hambali sibuk meladeni tamu-tamu yang berasal dari beragam latar belakang. Ada pejabat, ada saudagar, ada rakyat biasa. Sesekali mereka tertawa dan saling menepuk bahu tanda memuji.

 

Di atas kursi pelaminan, Kemala dan Anwar duduk bersanding bagai raja dan permaisuri. Anwar duduk gagah dengan senyum yang tak henti-henti. Ia bangga telah menyunting Kemala, kembang kampung Labuk Tampui. Tapi Kemala terlihat kuyu. Ada ketakutan yang membayang di wajah cantiknya.

 

Kemilau songket bersulam emas tak sanggup menyulan senyum di bibir Kemala. Risau terpahat begitu nyata. Gadis itu bagai bidadari yang terperangkap di samping raksasa jahat. Meski ia tak menangis, namun ketakutan itu membayang jelas.

 

Siang menyasar menuju sore, sore beringsut menuju malam. Tibalah pada acara puncak yang paling ditunggu-tunggu. Malam pertama pengantin baru. Seperangkat cengkung sudah dipersiapkan di atas panggung dan kain putih telah digelar dia tas ranjang pengantin.

 

Detik berjalan senyap bagai tak bernyawa. Orang-orang menunggu berkasak-kusuk. Ada yang tertawa, ada yang berbisik mengumbar canda. Permpuan-perempuan juru masak di dapur terkikik-kikik. Semua membayangkan apa yang tengah terjadi di bilik kamar pengantin.

 

Suasana malam yang penuh kasak-kusuk dan tawa tertahan-tahan itu redam oleh derit pintu kamar yang terbuka. Berpuluh pasang mata tak saabar menunggu kabar. Anwar melangkah keluar dengan muka masam. Di tangannya tergenggenggam kain putih yang telah kusut. Ia tak banyak bicara, hanya menyodorkan kain putih itu pada ayahnya.

 

“Tak perlu menabuh cengkung!” teriak Pacik Hambali pada tetua adat yang menjadi perwakilan mempelai laki-laki. “Kain ini tidak akan berdusta. Kampung ini telah ditaburi bibit bencana. Tega nian engkau padaku, Awang! Anak gadismu ternyata tak lagi perawan. Ini buktinya!”

 

Lelaki itu melempar kain putih ke wajah Pacik Awang. Ia lantas membukanya dengan jemari gemetar. Tak ada bercak noda di sana. Tak ada darah yang menjadi bukti kesucian Kemala. Datuk Awang merintih. Ia terduduk lunglai tanpa bisa berkata-kata.

 

Malu serupa skin yang ditusukkan ke ulu hati. Anak kebanggaan sekaligus anak yang menjadi penjunjung harga dirinya telah melumurkan najis kepadanya. Kenyataan itu telah membungkam mulut Pacik Awang unutk membela harga dirinya yang jatuh di hadapan berpuluh pasang mata.

 

Di balik kamar pengantin, Kemala meratap. Tipis nian adat membalut harga dirnya. Setipis kain putih yang menjadi pembukti kesuciannya. Sungguh berat beban malu yang akan ditanggungnya. Ia akan terusir, bukan karena kesalahan yang dikira orang-orang melainkan karena adat yang buta pada kesalahan yang tak pernah dilakukannya.

 

Pesta pernikahan malam itu menyisakan luka yang menganga. Satu per satu orang-orang meninggalkan rumah panggung Pacik Awang. Malam pun kian melengang, hanya sesekali terdengar isak tangis Kemala yang bersikejar dengan rintih pedih Pacik Awang.

 

Bulan menggantung pucat di langit kmpung Lubuk Tampui. Saat malam menuju dini hari, Kemala meninggalkan rumahnya. Diam-diam gadis itu menerabas kepekatan malam dan menuju sawah Tanjung Raya. Di dahan pohon kepayang tua, ia menebus malu dengan nyawanya. (*)

 

Catatan:

 

Cengkung, sejenis gong kecil yang ditabuh saat malam pertama. Jika gong dibunyikan, pertanda mempelai perempuan masih perawan. Sebaliknya, jika tidak ditabuh, pengantin perempuan dianggap tak lagi perawan dan pihak mempelai laki-laki berhak menceraikannya. Adat ini masih ada sampai sekarang di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan.

 

Adam Yudhistira bermukim di Muara Enim, Sumatera Selatan. Cerita pendek, cerita anak, esai, puisi dan ulasan buku yang ditulisnya telah tersiar di sejumlah media massa cetak dan daring di Tanah Air. Saat ini mengabdikan diri unutk mengelola Taman Baca Masyarakat Palupuh untuk anak-anak di sekitar tempat tinggalnya. Buku kumpulan cerita pendeknya, Ocehan Semut Merah dan Bangkai Seekor Tawon (basabasi, 2017)

 

Kun Adnyana, perupa yang juga dosen seni rupa dan desain Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Lahir di Bangli, 4 April 1976, meraih gelar doktor bidang Pengkajian dan Penciptaan Seni Rupa dari Pascasarjana ISI Yogyakarta. Telah menggelar 12 pameran tunggal, baik di Jakarta, Yogyakarta, Bali, Michigan Amerika Serikat, maupun di kota Tainan, Taiwan. Meraih penghargaan Visiting Scholar/Artist Awards tahun 2013 dari Gwen Frostic School of Arts, Western Michigan University.

 

[1] Disalin dari karya Adam Yudhistira

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” Minggu 24 Februari 2019

   

The post Cengkung appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 

via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2Xu6gD6

  

Ibu saya bilang perempuan harus bisa memasak. Setidaknya satu menu sepanjang hidupnya. Saya merasa tidak setuju, terlebih ketika hidup sudah nyaris-nyaris mirip di surga urusan lapar dan makan.

 

Betul. Semasa kecil, saya sering didongengi ibu. Katanya hidup di surga itu nyaman sekali, tinggal tunjuk langsung jadi. Mau anggur akan diantar ke hadapan. Mau minum dan makan juga demikian. Bukankah sekarang zaman juga sudah begini? Haus dan lapar tinggal buka ponsel. Hanya perlu satu jari untuk mcmbuatnya ada di depan mata. Lalu, mengapa harus susah payah memasak segala?

 

Bukan. Bukan saya tidak pernah memasak sama sekali. Saya pernah merebus mi instan, menggoreng telur, atau beberapa hal lain untuk bertahan hidup. Lebih-lebih ketika masih mahasiswa dulu. Tapi ini berbeda. Memasak yang dimaksud ibu saya bukan sekadar bisa, melainkan memang lihai sebab akan memengaruhi rasa.

 

Sekali lidah harus langsung enak terasa sehingga sampai sajian tandas di piring kenangan baiklah yang terbawa. Maka, demi memenuhi angan-angan punya anak perempuan yang bisa menyajikan penganan enak itu, ibu kemudian mendesak saya datang ke rumahnya.

 

“Ambil libur dua hari apa tidak bisa sama sekali?” desaknya di ujung telepon.

 

Saya menjepit ponsel di antara kepala dan bahu sementara sepasang tangan masih berusaha melepaskan sarung karet berwarna pucat. Saya memang baru keluar dari ruang operasi ketika ibu menelepon lagi untuk kesekian kali.

 

“Susah, Ibu. Saya punya jadwal bedah sesar setidaknya sampai akhir tahun ini. Apalagi menjelang hari raya, selain musim hujan, juga musim orang melahirkan.”

 

Saya dapat mendengar embusan napas ibu di sana. Suaranya terlalu kentara untuk ruang operasi yang hening dan sepi.

 

“Apa yang bisa memastikan nyawa anak manusia sampai dengan baik ke dunia hanya kamu?” sindir Ibu terkesan tajam.

 

“Ya tidak,” jawab saya sembari membuka penutup sampah dan melempar sarung tangan karet itu ke dalamnya.

 

“Berapa dokter kandungan di rumah sakitmu?”

 

“Tiga.”

 

“Kalau begitu tukar jaga kan bisa, kecuali memang kamu tidak menginginkannya!” sentak Ibu sebelum mengakhiri panggilan.

 

Saya mengusap wajah dengan sebelah tangan. Tidak mengerti dengan sikap ibu barusan. Seolah-olah jika saya tidak bisa memasak, maka akan berbuah kiamat. Padahal, suami saya saja mengerti. Kami sudah sering memesan makanan yang diinginkan dari berbagai penyedia layanan katering rumahan.

 

Dari yang enak sampai yang sehat. Dari yang dikelola ibu rumah tangga sampai ahli gizi juga ada. Anak-anak juga tidak jauh berbeda. Pagi terbiasa sarapan roti atau sereal dengan susu. Siang makan katering sekolah, malam bisa pesan dari aplikasi ponsel. Begitu mudah hidup sekarang, mengapa harus kembali mengakrabi wajan dan api?

 

***

 

Setelah berdiskusi dengan suami dan membujuk rekan bertukar jaga, di sinilah saya sekarang, rumah ibu yang rindang. Halaman rumahnya dihiasi hamparan rumput dengan dinding dirambati bunga putih berdaun lebar. Ibu masih senang selera lama. Tanamannya adalah bugenvil aneka warna, telinga gajah, dan lidah mertua.

 

Begitu membuka pintu, ia segera memeluk dengan erat.

 

“Saya hanya bisa sampai besok di sini.”

 

“Tidak bisa diperpanjang?”

 

Saya menggeleng. Ibu mendesah. Andai ibu tahu untuk dua hari ini saja saya harus dinas dari pagi bertemu pagi. Merapel jadwal hingga membuat lutut rasanya sulit berdiri.

 

“Ya sudah, kau istirahat dulu. Esok subuh kita belanja bahan membuat gangan ke pasar.”

 

***

 

Lantai dapur mendadak penuh oleh jagung, ubi kayu, kacang panjang, waluh, aneka bumbu, dan umbut kelapa. Bahan terakhir ini yang paling mahal di antara lainnya. Mungkin karena demi mendapatkannya harus menumbangkan sebatang kepala. Merelakan mayang tak berkembang menjadi puluhan buah.

 

Sementara ibu mempersiapkan sayuran, saya dimintanya mengolah bumbu. Namun, belum apa-apa sudah terdengar suaranya menyela.

 

“Bukan begitu cara memecah kemiri, nanti hancur!”

 

“Memang apa bedanya, Bu? Toh, sama-sama akan dihaluskan juga.” Saya menyanggah. Ibu menggeleng.

 

“Kau tahu setiap manusia ini akhirnya akan mati dan hancur dalam tanah kan?”

 

Saya mengangguk lantas berucap, “Lalu, apa hubungannya dengan cara memecah kemiri?”

 

“Kalau sudah tahu akan mati dan hancur, apa sembarangan juga perlakuanmu saat mengeluarkan bayi dari perut ibunya?”

 

Saya diam. Tanpa menyanggah saya saksikan ibu memecah kemiri. Gerakannya hati-hati sekali. Persis seperti menolong bayi memecah gelap rahim menuju bumi. Mula-mula ibu menjepit kemiri dengan telunjuk dan jempol, lalu ulekan ia ketukkan sehingga terdengar suara kulit keras yang rekah. Ibu kemudian melebarkan rekahan dengan ujung pisau hingga terpisah.

 

Hasilnya sebiji kemiri yang utuh dan bersih. Saya menerimanya dari tangan ibu dengan takjub. Bagai sekolah lagi, saya dituntun melalui satu per satu proses memasak sayur ini. Proses mengolah bumbu menjadi terpenting menurut ibu, terlihat dari caranya menerangkan satu demi satu.

 

“Kalau membuat gangan bersantan, bawang merahnya mesti lebih banyak,” beri tahu Ibu seusai merajang bawang di atas cobek langsung.

 

“Kenapa begitu?”

 

“Entahlah. Nenekmu yang mengajari Ibu. Mungkin supaya lebih gurih.”

 

Saya tersenyum kecil. Sebuah penjelasan asal ada. Berbeda semasa kuliah dulu. Segalanya dituntut sumber, dikutip dari penelitian mana, juga tahunnya berapa. Tidak terkecuali urusan bawang-bawangan. Seperti yang pernah tidak sengaja saya baca saat mencari sumber referensi tentang antibiotik alami. Konon bawang merah dan bawang putih bisa digunakan sebagai antibiotik, antiperadangan, bahkan melawan kanker.

 

Itu sebabnya dulu saya sempat mengira urusan domestik rumah tangga tidak lebih sulit daripada mengeluarkan diri dengan kepala tegak dari fakultas kedokteran. Tidak lebih sulit dari berjuang lulus dari semua ujian dengan nilai memuaskan. Karena dulu teman-teman saya sering berkata ingin nikah saja jika diterpa ujian macam-macam ditambah tugas beragam. Nyatanya tidak sepenuhnya betul juga. Banyak hal yang saya tak tahu, termasuk urusan bumbu.

 

“Haluskanlah,” ujar Ibu setelah selesai menaruh dan merajang bawang, kunyit, jahe, kencur. lengkuas, juga lainnya di cobek. “Setelah itu kau tumis bumbunya dengan sedikit minyak dan api kecil.”

 

Ibu kemudian beranjak menuju panci. Ia tampak mengaduk sebentar, mengangkat bergantian potongan ubi kayu, waluh, jagung. Setelah dipastikan agak lunak, ibu kemudian memasukkan potongan kacang panjang. Saya sendiri baru saja selesai mengulek bumbu dan bersiap menumisnya di tungku sebelah kiri ibu.

 

“Kalau sayurnya sudah lunak. kau masukkan dulu santan encer.”

 

Saya memperhatikan instruksi ibu dengan saksama. Memberi catatan kecil di buku yang saya bawa. Sekarang tulisan saya lebih parah dari cakar ayam. Ibu banyak memberi instruksi dan cepat sekali. Tidak akan ada salinan materi dari file presentasi. Semua mesti disimak dan dicatat bersamaan.

 

Setelah letupan pertama, ibu kemudian memasukkan potongan garih, ikan gabus asin yang biasa dijadikan lauk makan. Disusul bumbu yang telah saya tumis tadi.

 

“Kau mesti tahu, Hen, perempuan itu seperti sekotak bumbu dapur. Dia yang menentukan seperti apa rasa sajian, rasa kehidupan. Manis, asin, asam, pedas. Kalau dia pandai menakar, setiap rasa akan seimbang, hasilnya gurih dan terkenang,” ujar Ibu sembari menambahkan gula dan garam.

 

Aku kemudian dimintanya mengaduk dan menambahkan santan kental. Perlahan- lahan gangan berubah warna dari yang kuning pekat menjadi sedikit lebih terang. Menjelang api dimatikan, ibu menabur rajangan cabai merah besar.

 

“Ambil mangkuk di rak. Hen.”

 

***

 

“Ibu menanak beras usang ya?” Saya mengernyitkan dahi begitu menyendok nasi. Beras usang itu beras lama. Nasinya lebih pera.

 

“Iya,” jawabnya singkat.

 

“Kok yang usang, Bu? Kita kan tidak sedang hajatan.”

 

“Kau tahu mengapa orang hajatan pantang memakai beras baru?”

 

“Karena cenderung lebih lembek. Kalau dimasak jadinya sedikit, bisa-bisa tidak mencukupi jamuan tamu yang datang.”

 

“Begitulah hakikat orang yang lebih tua. Dia mesti seperti beras usang, mencukupi banyak orang. Ibu berharap kau juga bisa begitu. Kalau Ibu sudah tidak ada, kaulah yang tertua di keluarga kita, cukupilah siapa-siapa yang perlu dibantu.”

 

“Bu,” rajuk saya lirih. Sejak Bapak wafat, percakapan tentang kematian memang membuat saya tak nyaman. “Bicara apa Ibu ini. Ibu masih sehat, pasti panjang umur.”

 

Ibu mengulas senyum tipis. “Nak, manusia itu seperti sayur dalam semangkuk gangan umbut. Usia yang paling tua serupa ubi kayu, keras, hambar. Usia sepertimu mirip dengan potongan waluh. Tidak terlalu keras dengan sedikit rasa manis. Paling muda ya tidak ubahnya umbut. Lembut dan manis. Semua sama akan lunak juga setelah dimasak. tidak peduli ia yang paling keras atau lembut. Kita pun sama, akan wafat juga. Tidak peduli sudah baya atau masih muda.”

 

Melihat raut wajah putrinya yang berubah muram, lekas-lekas ibu menyendokkan gangan ke piring saya seraya berujar, “Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Mari kita makan.”

 

***

 

Selepas Subuh saya berniat pamit pulang pada Ibu. Libur telah usai dan saya harus kembali ke rumah sakit segera. Satu kali ketuk, ibu tidak menyahut. Juga ketukan-ketukan berikutnya. Mungkin ibu tertidur selepas berzikir pikir saya.

 

Namun, perkiraan saya meleset saat mendapati ibu lunglai menyandar di pintu lemari. Tubuhnya masih terbalut mukena dengan tasbih di tangan. Lekas-lekas saya raba pergelangan tangan dan lehernya. Nihil, ibu telah tiada sebelum saya sempat berpamitan padanya.

 

Suami dan anak-anak saya menyusul pagi harinya. Pengeras suara di masjid lantang mengabarkan kepergian ibu pada orang-orang. Sanak saudara dan handai taulan kami berdatangan. Proses pemakaman dipersiapkan. Tidak terkecuali sajian pada prosesi turun tanah; hari pertama kematian dimulai sejak jenazah turun dari rumah dan dibawa menuju liang lahat.

 

“Kau yakin tidak mau pesan jamuan dari katering saja?” Suami saya memandang ragu.

 

Saya melepas napas. “Saya hanya mau Ibu bahagia karena putrinya bisa memasak. Walaupun cuma satu, itu juga sajian untuk kematiannya.”

 

Miranda Seftiana, lahir di Hulu Sungai Selatan, 16 September 1996. Menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran ULM. Buku terbarunya Stadium Rindu (2018) dan Jendela Seribu Sungai (2018) yang ditulis bersama Avesina Soebli. Cerpennya terhimpun dalam buku kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2015 dan 2017.

 

Yuswantoro Adi, perupa tinggal di Yogyakarta, lahir 11 November 1966. Selain melukis juga mengajar dan memberi pelatihan seni rupa, terutama untuk anak-anak. Meraih penghargaan Grand Prize Winner Philip Morris Asean Art Award 1997 di Manila, Filipina.

 

[1] Disalin dari karya Miranda Seftiana

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” Minggu 17 Maret 2019

 

The post Semangkuk Perpisahan di Meja Makan appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 

via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2U2TnkN

  

Sebelum meninggal, ibu kerap berpesan agar aku selalu menjaga hubungan baik dengan semua saudara tiriku. Dan setiap ibu menyampaikan pesannya itu, aku selalu menganggukkan kepala sebagai tanda mengiyakan kata ibu.

 

Tapi aku tidak tahu, apakah ibu juga pernah menyampaikannya kepada masing-masing saudara tiriku perihal pesan itu. Sebab, setahuku, ibu tidak pernah mengucapkan pesan itu di depan kami.

 

Ibu memiliki anak tiga. Aku yang tertua dari dua saudaraku yang berbeda ayah itu. Kata ibu, ayahku adalah seorang pelaut. Kata ibu lagi, ayah juga pemabuk dan suka main judi. Ayah pergi meninggalkan ibu di saat aku baru berusia lima tahun. Kabar yang ibu dapatkan selanjutnya dari pelaut lainya adalah bahwa ayahku telah kawin lagi dengan seorang janda muda di pulau seberang.

 

Aku sendiri luput mengingat wajah ayahku sendiri serupa apa. Usiaku terlalu kecil untuk mampu mengingat kenangan bersama ayah. Apalagi memang ayah kuingat jarang pulang. Di dalam rumah kami yang sederhana, tak satu pun terpajang foto ayahku. Sampai usiaku dewasa, di rumah itu, yang terpajang hanya tiga bingkai foto, yang pertama foto ibu, lalu foto aku dan dua saudaraku dengan latar halaman rumah, dan yang ketiga foto ayah tiriku.

 

Di masa sepeninggal ayah, ibu mengurusiku seorang diri. Untuk mencukupi kebutuhan ekonomi, ibu berjualan sarapan pagi di depan rumah kami. Para pelanggan ibu kebanyakan para lelaki yang bekerja sebagai pelaut dan penjual ikan. Bila pagi hari, aku sering kali mendengar para lelaki tertawa-tawa di kedai ibu dengan maksud yang tidak kupahami. Sebagian lagi berbicara dengan intonasi tinggi bila mereka berkomunikasi dengan lawan bicaranya. Terkadang bila dagangan ibu telah habis, beberapa pelaut bermain batu domino di kedai ibu.

 

Aku cukup terhibur dengan kehadiran para pelanggan ibu yang mayoritas kaum laki-laki itu. Tidak hanya candaan yang mereka berikan. Aku pun sering diberikan permen atau makanan ringan untuk seusiaku. Yang paling sering memberikan aku permen adalah Uda Bahar.

 

Uda Bahar orangnya baik. Bila ada yang mengusili hingga aku menangis, ia akan memarahi orang itu dan lantas menggendong tubuhku, lalu diberikannya aku pada ibu. Pada masa-masa itu, dari semua para pelanggan ibu, hanya Uda Bahar yang sangat memperhatikanku.

 

Aku ingat, ketika duduk di kelas 1 sekolah dasar, ibu menikah dengan Uda Bahar. Ada pesta pernikahan. Ibu dan Uda Bahar duduk di pelaminan, sedangkan aku tidak pernah beranjak duduk pula di samping ibu. Ibu sering kali tersenyum kepada para tamu yang hadir pada pesta pernikahan di rumah kami. Aku yakin ibu sangat senang sekali saat itu.

 

Aku pun sangat bahagia dan senang pada pernikahan ibu. Sejak kehadiran Uda Bahar, suasana rumah kami menjadi riang. Malam hari menjadi ceria.

 

Malam hari juga tidak lagi menjadi kecemasan ibu karena lingkungan rumah yang sunyi.

 

Aku pun merasa terlindungi dengan kehadiran Uda Bahar di rumah. Bukan hanya merasa terlindungi, melainkan aku juga seperti menemukan tempat mengadu. Di kampung yang terletak di pesisir pantai itu, sering kali kawan-kawanku mengejek karena aku tak punya ayah. Dan sejak kehadiran Uda Bahar, tak satu pun dari mereka yang berani lagi mengejekku.

 

Aku merasa begitu beruntung karena ibu telah menikah lagi. Sebab, dengan begitu, aku memiliki seorang ayah. Namun, harus kuakui, pada mulanya aku terkadang masih begitu canggung bila memanggil Uda Bahar dengan panggilan ayah. Namun, Uda Bahar dengan sabar menyuruhku agar belajar terus memanggilnya dengan sebutan ayah.

 

“Ya, anak kecil, mulai sekarang kamu harus terus membiasakan diri agar memanggil ayah, ya,” kata Uda Bahar kepadaku, waktu itu.

 

Dan kuingat ibu tersenyum melihat kegugupanku. Dan tidak lama kemudian kepalanya mengangguk-angguk kepadaku.

 

Di hari-hari berikutnya, aku terkadang masih salah juga memanggilnya dengan sebutan ayah. Sering aku memanggilnya dengan sebutan Uda Bahar. Berulang kali pula ibu dan Uda Bahar kembali menasihatiku. Dan sampai satu bulan kemudian aku baru mahir memanggilnya dengan ayah.

 

Satu tahun kemudian, ibu melahirkan adikku yang pertama. Ia berjenis kelamin laki-laki. Kulitnya hitam. Rambutnya hitan. Ia mirip wajah ayah. Dan ayah memberinya nama Samsir.

 

Ibu dan ayah sangat senang karena kehadiran Samsir. Ibu sangat telaten merawatnya. Ayahku sangat perhatian sekali pada adikku. Jika adikku menangis, ayah akan dengan cepat menyuruh ibu agar menyusuinya. Atau ayah akan memarahi ibu jika adikku terus menangis.

 

Ketika adikku itu telah berumur tiga tahun, ia sering kali membuat ibu berada dalam masalah. Sering ia terjatuh di rumah karena kenakalannya Memecahkan perabotan rumah. Dan ibu sering jadi sebabnya karena dianggap lalai menjaga adikku itu. Tidak hanya ibu, aku pun mulai jadi sasaran ayah jika ia menangis sehabis bermain denganku.

 

Kehadiran adikku semakin lama membuat ibu dan ayah mulai sering bertengkar. Ibu tidak suka jika ayah memarahiku. Apalagi jika ibu melihat ayah menarik kupingku hingga aku menangis.

 

“Jangan pernah kau mengasari anakku,” kuingat ibu bersuara keras kepada ayah suatu malam yang herhujan.

 

“Kenapa memangnya? Aku yang memberi makannya. Sudah pantas ia kumarahi jika ia menjengkelkanku.”

 

“Tanpa kamu beri, aku tetap bisa memberi makannya. Kamu harus tahu itu,” kata ibu dengan suara yang semakin tinggi.

 

“Maksudmu apa?”

 

“Maksudku, jika kamu ingin pergi, aku tetap bisa memberi makan anakku. Paham?”

 

Peristiwa itu adalah pertengkaran ayah dan ibu yang terakhir setelah adikku yang kedua lahir. Adikku yang kedua perempuan. Ayah memberinya nama Diva. Sama seperti kelahiran adikku yang pertama, ibu dan ayah juga sangat senang pada kehadiran adikku ini.

 

Namun, kebahagiaan di rumah kami kurasakan tidak berlangsung lama. Pertengkaran-pertengkaran antara ibu dan ayah mulai kembali terjadi. Pemicunya karena ayah sering kali menganggap ibu tidak mampu mengurus dua adikku. Dan juga tentang ayah yang sering membedakan aku dengan dua adikku.

 

Kehadiran dua adikku membuat ayah memang tidak peduli lagi kepadaku. Sikap ayah sangat berubah setelah kehadiran mereka. Tidak jarang ayah lebih mendahulukan mereka daripada aku. Jika ayah membeli makanan ringan, misalnya, ayah tak pernah memberikannya kepadaku. Ayah juga hanya mengajak dua adikku ke pantai pada hari Minggu. Aku merasa bahwa ayah benar-benar mengucilkanku dari dua adikku. Dan perlakuan ayah itu membuat aku begitu sedih.

 

Dalam kesedihan, aku melamun. Dan berpikir mengapa ayah berubah.

 

“Ibu harap kamu jangan bersedih jika ayahmu kurang memperhatikanmu,” kuingat kata ibu dulu.

 

Aku tidak menyahut kata-kata ibu itu selain dua mataku semakin berair. Lalu ibu menghapus air mataku dengan tangannya. Pada masa itu, aku sudah duduk di kelas VI sekolah dasar.

 

Namun, apa yang kualami pada hari-hari berikutnya tetap tidak pernah berubah, ayah masih saja menyayangi dua adikku dan mengesampingkanku. Dua adikku juga mulai tidak suka kepadaku. Mereka sering menghindar dan seperti tidak menganggap lagi aku sebagai kakaknya.

 

“Kata ayah, uda bukan kakak kandung kami, jadi jangan coba-coba melarang-larang kami, ya,” kata itu diucapkan Samsir ketika aku pernah melarangnya bermain di pantai pada sore hari.

 

“Iya, ayah bilang begitu. Nanti kami lapor ayah baru tahu,” si kecil ikut pula menimpalinya saat itu.

 

Saat itu, aku benar-benar bersedih. Mereka tidak menyukaiku dan tidak menghormatiku. Padahal, aku sangat menyayangi mereka.

 

Mungkin ibu sudah tidak tahan melihat aku dikucilkan oleh ayah dan dua adikku. Sebab, suatu hari ibu begitu marahnya kepada ayah.

 

“Jika kamu tidak suka pada Dika, bagiku tak ada masalah. Tapi, yang tidak aku suka jika kamu menghasut adik-adiknya untuk membencinya.”

 

Aku tidak mendengar ayah menyahut kata-kata ibu di malam itu. Aku begitu bersyukur karena ayah diam saja sehingga tidak terjadi pertengkaran. Tapi, paginya, sesuatu yang mengejutkanku terjadi juga. Ayah pergi membawa pakaiannya yang cukup banyak. Bagiku tak lazim jika ayah pergi ke laut dengan membawa pakaian begitu banyak.

 

Kuingat ayah membawa satu tas pakaian ditambah dua bungkus plastik berukuran besar dengan pakaiannya yang berantakan. Pasti sesuatu terjadi pada ayah. Dan kecurigaanku semakin bertambah ketika ibu berujar di depan pintu rumah dengan nada marah, “Pergilah jika itu maumu, dan kupastikan aku bisa membesarkan anak-anakku.”

 

Lalu ayah terus berlalu tanpa melihat ke belakang. Dia hanya sejenak melihatku. Pagi itu hanya ada aku dan ibu. Dua adikku masih tertidur pulas di kamar.

 

Satu minggu setelah kepergian ayah, ibu kembali berjualan nasi pagi di rumah kami. Seperti beberapa tahun yang lalu, para pelanggan ibu kebanyakan dari pelaut dan pedagang ikan. Rumah kami kembali riuh oleh suara dan tawa para lelaki. Sesekali, mereka mencandai ibu. Mencubit lengan ibu.

 

Lalu, apakah dua adikku menyayangiku setelah ayah pergi dan tidak pernah pulang? Bagiku sungguh celaka, ketidakpulangan ayah menurut adikku adalah karena aku. Samsir dan Diva terus membenciku sampai ia remaja. Ibu berulang kali pula menghiburku dengan mengatakan bahwa mereka masih remaja dan belum berpikir dewasa. Namun, aku sungguh tidak tahan hidup dalam pusaran kebencian dua saudaraku itu. Aku sering bersedih. Aku sering menangis.

 

Ibu meninggal pada suatu pagi. Sebelumnva, ia hanya bisa terbaring dengan tubuh agak panas. Dua adikku menyalahkanku kenapa ibu bisa sakit dan meninggal. Aku sungguh marah dan sedih pada mereka. Tapi, kesedihan lebih kuat bergayut di hatiku.

 

Dua minggu setelah ibu dimakamkan, aku pergi meninggalkan rumah. Seperti kebanyakan lelaki di kampungku, aku berpikir pilihan merantau adalah solusi mengatasi masalah. Rantau bagiku adalah pilihan. Dan aku memilih merantau. Dan di rantau ini, kata-kata ibu sering kali terngiang di telingaku, “Kamu harus terus menjaga hubungan baik dengan saudaramu, Nak.”

 

“Ah, ibu.”

 

Farizal Sikumbang lahir di Padang. Bekerja sebagai pengajar di daerah pedalaman Kabupaten Aceh Besar. Tinggal di Kota Banda Aceh. Cerpennya dipublikasikan di media nasional dan daerah. Kumpulan cerpennya Kupu-Kupu Orang Mati (2017).

 

Ketut Endrawan lahir di Klungkung, 12 Maret 1974. Menyelesaikan studi seni rupa murni di PSSRD Universitas Udayana (sekarang ISI Denpasar) tahun 1999. Selain sebagai perupa, ia juga pengajar. Karya-karyanya menjadi finalis Indofood Art Awards 2003 dan Jakarta Art Awards 2008.

 

[1] Disalin dari karya Farizal Sikumbang

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” Minggu 06 Januari 2019

 

The post Tali Darah Ibu appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 

via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2TCMgvb

Buta Cinta: Sesat Di Dunia, Merana Di Akhirat

    

Di Sebuah Taman Kota Kosmopolitan 2001…

 

Para pekerja yang sibuk membersihkan kawasan taman rekreasi gempar. Raungan bunyi ambulan begitu mengejutkan ketika pagi yang masih terlalu awal ini. Kelihatan beberapa petugas paramedik begitu sibuk memberi pertolongan kepada sepasang muda-mudi yang terperangkap di dalam sebuah kereta di taman tersebut. Nahas bagi pasangan merpati dua sejoli itu, malaikat maut telah mencabut nyawa mereka dalam keadaan yang sungguh tragik.

 

Apa yang terjadi sebenarnya?

 

Ternyata sepasang muda-mudi itu nekad bunuh diri dengan menutup saluran ekzos kereta dengan keadaan enjin kereta masih terpasang. Akibatnya mereka mati dalam keadaan berpelukan dan saling berciuman sehingga begitu sukar pihak bertanggung jawab memisahkan antara dua jasad tersebut. Begitu ‘mengharukan’!. Didalam kereta tersebut ditemui selembar kertas yang telah mereka tanda tangani. Antara kandungannya; tolong jangan pisahkan mayat kami dan terus dikebumikan bagi membuktikan cinta abadi kami sehidup semati. Dan di bahagian akhir surat tersebut tercatat bahawa mereka melakukan ini demi menyelamatkan cinta ‘sejati’ yang ‘suci’ ini kerana orang tua tidak merestui hubungan cinta mereka. Astaghfirullah…!

 

Di sebuah rumah di Jazirah Arab 1400 tahun yang lampau…

 

Abdullah bin Abu Bakar RA baru saja melangsungkan pernikahan dengan Atikah binti Zaid, seorang wanita cantik rupawan dan berbudi luhur. Dia seorang wanita berakhlak mulia, berfikiran cemerlang dan berkedudukan tinggi. Sudah tentu Abdullah amat mencintai isteri yang sebegitu sempurna menurut pandangan manusia.

 

Pada suatu hari, ayahnya Abu Bakar RA lalu di rumah Abdullah untuk pergi bersama-sama untuk shalat berjamaah di masjid. Namun apabila beliau dapati anaknya sedang berbual-bual dengan Atikah dengan lembut dan mesra, beliau membatalkan niatnya dan meneruskan perjalanan ke masjid.

 

Setelah selesai menunaikan shalat Abu Bakar RA sekali lagi melalui jalan di rumah anaknya. Alangkah kesalnya Abu Bakar RA apabila beliau dapati anaknya masih bersenda gurau dengan isterinya sebagaimana sebelum beliau menunaikan shalat di masjid. Lantas Abu Bakar RA segera memanggil Abdullah, lalu bertanya : “ Wahai Abdullah, adakah kamu shalat berjamaah ?” Tanpa berpikir panjang Abu Bakar berkata : ““Wahai Abdullah, Atikah telah melalaikan kamu dari kehidupan dan pandangan hidup malah dia juga telah melengahkan kamu dari shalat fardlu, ceraikanlah dia!” Demikianlah perintah Abu Bakar kepada Abdullah. Suatu perintah ketika Abu bakar dapati anaknya mula melalaikan hak Allah. Ketika beliau dapati Abdullah mula sibuk dengan isterinya yang cantik. Ketika beliau dapati Abdullah terpesona keindahan dunia sehingga menyebabkan semangat juangnya semakin luntur.

 

Lalu bagaimana tanggapan Abdullah? Tanpa berdolak dalih apatah lagi cuba membunuh diri, Abdullah terus menyahut perintah ayahandanya dan menceraikan isteri yang cantik dan amat dicintainya. Subhanallah!!!

 

Dari dua petikan kisah di atas, marilah kita sama-sama merenung tentang hakikat dan bagaimana cinta sejati , tulus dan suci itu sebenarnya. Sesungguhnya perjalanan hidup manusia akan sentiasa dipenuhi dengan warna-warna cinta. Malah boleh kita ungkapkan bahawa kehadiran manusia di muka bumi ini disebabkan Allah SWT mencampakkan suatu perasaan di dalam jiwa manusia, itulah CINTA.

 

Membicarakan tentang cinta ibarat menuras air lautan dalam yang kaya dengan pelbagai khazanah alam. Tak kan pernah habis dan kita akan sentiasa menemui berjuta macam benda. Dari sekecil-kecil ikan hingga ikan paus yang terbesar. Dari kerang sampai mutiara malah jika diizinkan Allah, kita mungkin menemui bangkai kapal dan bangkai manusia!!!

 

Usia sejarah cinta seumur dengan sejarah manusia itu sendiri. Jika di suatu tempat ada 1000 manusia maka di situ ada 1000 kisah cinta. Dan jika di muka bumi ini ada lebih 5 million manusia, maka sejumlah itu pulalah kisah cinta akan digelar.

 

Walau berapa banyak pun nuansa cinta yang menjelma menjadi sebuah syair, drama, filem, lagu dan berbagai bentuk hasil seni lain, namun pada hakikatnya cinta itu hanya ada dua buah versi sahaja. Versi cinta nafsu (syahwat) dan cinta Rabbani.

 

Yang menjadi persoalan sekarang adalah mampukah kita membedakan yang mana cinta syahwat dan mana cinta Rabbani?

 

Derasnya arus ghazwul fikr (serangan pemikiran) dalam kesenian terutamanya, telah mampu membungkus cinta syahwat sehingga ia tampil sebagai cinta “suci” yang mesti diperjuangkan, dimenangkan dan diraih seterusnya untuk dinikmati.

 

Manusia seakan lupa pada sejarah. Lupa pada kisah-kisah tragik yang berakhir di hujung pisau atau dalam segelas ‘penawar’ rumpai. Mereka semua rela diseret dan dijeremuskan ke dalam lubang ‘neraka’ hanya untuk mengejar salah satu rasa dari sekian banyak rasa yang ada disudut hati manusia, itulah cinta.

 

Cinta memiliki kekuatan luar biasa. Dan kekuatan cinta (the power of love) mampu menjadikan manusia peribadi yang sangat nekad atau sangat taat. Nekad dalam konteks sangat berani dalam melanggar peraturan-peraturan Allah seperti berkhalwat (berdua-duaan dengan bukan mahram), berkasih-kasihan lelaki dan perempuan, berpegangan tangan, mempertontonkan adegan berahi percuma di khalayak ramai apatah lagi dalam sembunyi. Atau jika cinta tak mendapat restu dari orang tua, pasangan akan nekad, terus lari dari rumah atau berzina (na’udzubillah min dzalik). Dan tidak sedikit pula yang begitu nekad sanggup melakukan perbuatan yang dilaknat Allah iaitu membunuh diri demi cinta.

 

Pribadi-pribadi nekad seperti ini menjadikan cinta sebagai tujuan bukan sebagai sarana mencapai tujuan. Oleh itu tidak hairanlah jika kita temui pelbagai kelakuan aneh para pencari cinta yang tak masuk akal. Sebab apa yang mereka tuju adalah suatu yang abstrak, tidak jelas dan bukan perkara yang pokok. Mereka sibuk mencari dan mengertikan makna cinta sementara lalai terhadap Dzat yang menganugerahkan cinta. Dzat yang menumbuh suburkan rasa cinta. Dzat yang memberikan kekuatan cinta. Dzat yang paling layak dicintai, kerana Dia juga Empunya nikmat cinta. Allah Rabbul ‘Alamin.

 

Kisah tragik di awal tulisan ini memberikan gambaran jelas sikap manusia yang rela mengorbankan diri demi sepotong cinta. Muda-mudi yang nekad bunuh diri dengan pelbagai cara ini pada dasarnya belum mengenali hakikat cinta. Cinta yang mereka kenal selama ini adalah cinta yang ditunggangi oleh nafsu syahwat. Dan joki penunggangnya adalah syaitan laknatulllah. Pada momen ini syaitan berteriak keriangan sambil mengibar-ngibarkan bendera kemenangan kerana berhasil menjerumuskan anak cucu Nabi Adam dalam neraka jahannan dengan dalih cinta yang begitu murah nilainya.

 

Sebuah kisah lain tentang tragedi cinta dan kebodohan manusia yang amat memalukan berlaku di Dhaka. Menurut laporan berita salah satu akhbar ibu kota di negeri tersebut, seorang ayah dan anaknya mati saling tikam menikam hanya kerana merebut cinta seorang gadis. Tragedi bermula apabila si gadis tidak tahu bahawa dua lelaki yang sering menjadi teman asmaranya pada waktu yang berbeza adalah ayah dan anak. Sampailah pada suatu saat mereka terserempak pada waktu yang sama. Maka tragedi pun bermula. Kedua-duanya sangat marah sehingga membawa kepada pertengkaran dan akhirnya pergelutan dan perkelahian yang berakhir dengan si ayah mati akibat tertusuk di perutnya. Namun sebelum rebah ia berjaya menancapkan belati di jantung anaknya. Matilah keduanya. Dan pastilah neraka tempat kembalinya.

 

Itulah tragedi cinta. Cinta memang tak kenal warna. Cinta tak kenal baik-buruk. Cinta tak kenal rupa dan pertalian darah. Memang begitulah adanya. Kerana yang mampu mengenal warna dan baik-buruk adalah pelaku-pelaku cinta yang menggunakan akal fikirannya.

 

Sebaliknya cinta juga mampu melahirkan peribadi-peribadi yang mengagumkan. Peribadi yang tak takut kehilangan suatu apa pun walau ia amat cinta pada sesuatu. Namun kerana cinta yang hadir dipenuhi dengan nuansa keimanan, maka mereka rela mengorbankan apa saja yang mereka amat cintai demi memperolehi keredhaan Dzat Pemberi cinta. Jiwa mereka tidak gundah gulana kerana kehilangan cinta duniawi kerana Allah sebagai Dzat pemberi ketenteraman Peribadi-peribadi taat ini amat menyedari bahawa cinta hanyalah sebagai sarana mencapai tujuan. Mereka yakin kenikmatan cinta tak ada ertinya tanpa ada restu Allah sebagai Pemberi cinta. Maka yang mereka cari adalah redha dan cinta Allah, bukan cinta yang bersifat sementara.

 

Kisah Abdullah putera Abu Bakar RA menjadi contoh kematangan pemuda yang mengenal erti cinta. Bayangkan!! Dia memiliki isteri yang amat cantik, berakhlak mulia, berkedudukan tinggi dan berharta. Namun apabila ayahandanya memerintahkan untuk menceraikan isterinya, dengan alasan isterinya telah melalaikan Abdullah dalam menunaikan hak Allah seterusnya akan melengahkan Abdullah berjihad di jalan Allah. Maka apa reaksi Abdullah? Tidak!! Abdullah tidak marah langsung pada ayahnya. Atau berusaha mengambil pedang dan ingin memenggal kepala si ayah yang berusaha memisahkan jalinan cinta yang memang sudah sah itu. Sekali lagi tidak!! Pemuda yang bernama Abdullah melihat perintah itu dengan kacamata cinta yang diberikan Allah. Ia rela menceraikan isteri yang dicintainya demi mempererat hubungan cinta dengan Allah. Subhanallah… Masih adakah pemuda-pemuda seperti peribadi Abdullah di zaman globalisasi kini?

 

Begitulah cinta. Ia mampu melambungkan manusia pada derajat kemuliaan yang tak terhingga. Manakala frekuensi atau gelombang cintanya juga sudah selari dengan frekuensi atau gelombang cinta yang Allah kehendaki. Semuanya akan senada seirama. Tak ada dengung sumbang, tak ada nada ternoda. Demikian indah dan asli irama cinta sejati.

 

Sumber : Mihwar

  

pesantrenonline.com

 

  

Lompatan Pertama

 

Jika sinar matahari pagi jatuh dengan kemiringan 34°, maka berapakah panjang bayangan tubuh seseorang? Berapa lebih panjang bayangan itu daripada tubuh yang menjadi sumbernya?

 

Sudah lama ia tergoda oleh pertanyaan yang mirip soal matematika ini. Sebab, setiap kali melintasi alun-alun kota pada pagi hari, sembari sesekali menoleh ke kiri, ia menyaksikan bayangannya seperti ditarik sehingga tampak rusak anatominya. Lebih kurus, tipis, sedikit melengkung.

 

Bayangannya merunduk sebagaimana ia merunduk—demi mencermati setiap jengkal tanah untuk menemukan, misalnya, sisa makanan atau puntung yang ditinggalkan mereka yang begadang tadi malam, tetapi kemerundukannya itu bukanlah kemerundukan ia yang tengah dirundung masalah. Rundukan itu terkesan tidak peduli kepada semua hal.

 

“Tak risau barang sedikit,” ia menggerutu. Maka setelah bosan menduga-duga, ia berhenti. Dalam kemiringan sinar matahari yang kini 45° ia merasakan panas membakar punggungnya. Ia menilik panjang bayangannya. Hampir dua kali, ia mengira. Ia bertolak pinggang, si bayangan juga. Ia meludahi kepala bayangannya, tetapi yang bersangkutan hanya diam. Lagi—tetap diam. Tetapi, sesaat kemudian ia menyaksikan bayangannya mulai bergerak.

 

Demikianlah, pembaca yang budiman, dari hamparan rerumputan tempatnya berbaring—karena tengah asyik mandi sinar matahari—si bayangan menyaksikan lelaki ringkih itu menggigil dan memegangi perutnya. Untuk pertama kali dalam sejarah hidupnya sebagai bayangan ia mesti melompat sebab, jika tidak, ia akan tertimpa oleh tubuh di depannya itu.

 

Jam Tangan dan Astronot

 

Sudah lama ia ingin menulis sebuah cerita yang tokoh utamanya menghadapi kesulitan luar biasa dan menyebabkan kehancuran si tokoh di akhir cerita. Maka ia menaruh sebuah jam tangan di sebuah planet. Ketika cerita bermula si jam tangan sudah mengeluh, apalah gunanya waktu di sebuah planet jika mesti ditandai dengan peranti yang biasa digunakan manusia di bumi. Bukankah penampakan di planet itu sama saja dari waktu ke waktu, bergerak antara terang dan gelap. Seluruh perangkat mahakecil dalam dirinya pun mogok. Jika tidak bisa menandai waktu, keluh si jam tangan lagi, apalah makna sebuah jam tangan semacam dirinya, baik di bumi, di planet ini, maupun di planet lain di jagat raya mahaluas ini.

 

Merasa kasihan kepada tokoh yang telah ia bikin sengsara, si pengarang menghadirkan seorang astronot yang kemudian memungut jam tangan. Dengan jam tangan itu si astronot ingin mencari tahu pukul berapakah sekarang ini di bumi—tepatnya di rumahnya. Apakah istrinya telah bangun dan anak-anaknya sudah diantar ke sekolah—karena ia merasa angkasa seperti akan melahirkan pagi yang teramat murni. Atau petang yang mencemaskan: Siapa lagi yang akan melambaikan tangan dari depan pintu gerbang rumahnya sebagaimana kerap ia dapati dari balik gorden jendela yang separuh tertutup setengah terbuka.

 

Namun, jam tangan itu sudah telanjur rusak.

 

Soal utama bagi si astronot kemudian bukanlah kerusakan jam tangan, tetapi kemungkinan hadirnya astronot lain sebelum dirinya—yang ia duga telah meninggalkan jam tangannya yang rusak. Jika itu tidak mungkin, maka inilah dugaannya selanjutnya—ini karena ia masih tergolong “astronot beragama”: siapa yang menciptakan jam tangan itu? Tuhan? Apakah dengan kemahakuasaan-Nya Ia telah menciptakan sebuah jam tangan—yang dengan segala kerumitan peralatan di dalamnya lantas rusak begitu saja. Sementara bagi si jam tangan soalnya adalah mengapa si juru selamat hanya memikirkan keluarganya dan kemahakuasaan-Nya.

 

“Kau sangat tidak adil!” bentak si jam tangan. Si pengarang tersentak, bercampur bingung. Apakah seruan itu ditujukan kepadanya atau kepada-Nya.

 

Negeri Orang Mati

 

: setelah Astrid Lindgren

 

Malam ini aku akan menempuh perjalanan melintasi Negeri Orang Mati, demi mencari obat mujarab. Telah kupertaruhkan nyawaku demi seorang bayi yang tengah sekarat di perkampungan sebelum pergunungan ini. Jika esok pagi aku sampai di batas terjauh negeri ini, artinya aku selamat dan bayi itu akan sehat seperti sedia kala. Namun, yang akan aku hadapi bukan hanya Raja Orang Mati—ia yang bertakhta di puncak bukit dan tatapan tajamnya akan menyedot nyawa manusia atau binatang atau tumbuhan kemudian membakarnya—tetapi juga seorang pengarang, di luar cerita ini—ia yang gemar mematikan tokoh-tokohnya di akhir cerita.

 

Aku tidak tahu siapa yang akan ia matikan nanti, aku atau si elmaut. Maka yang kuperlukan adalah menunggu hingga si pengarang benar-benar mengantuk dan tertidur berbantalkan mesin tik tuanya. Aha, ia mulai menguap satu-dua kali, tetapi masih berusaha meneruskan kalimat-kalimatnya. Maka kupacu kudaku melintasi hutan hitam dan di puncak bukit itu si elmaut duduk dengan angkuhnya. Tiba-tiba ia menguap yang menghasilkan badai dan membuat kudaku, si Surai Api, meringkik beberapa kali. Elmaut mencari-cari sumber suara dan ia mendapati bulu-bulu kudaku yang menyala di dalam gelap—seperti seonggok bara yang bergerak sangat cepat. Ia menuruni bukit yang membuat batu-batu di tebing bukit berjatuhan. Aku telah berhasil melintasi longsoran bebatuan, tetapi masih harus melampaui barisan pepohonan hitam yang menyerupai jasad orang yang mati-kering. Pepohonan itu merunduk ke jalan, menghalangi lari kudaku.

 

Aku memacu kudaku lebih cepat lagi, mencoba melompati pepohonan, sisa hutan, lembah tengkorak, sungai hitam dan jembatan sakratul maut. “Tinggal sebaris lagi,” kudengar suara di langit. Dan kulihat si elmaut melayang melintasi tebing bukit dengan jubah merah-hitam yang berkibaran. Apa-apa yang ia lewati mulai terbakar. Kini seluruh bentang hutan dan pergunungan di belakangku mengobarkan api. Aku terus memacu kudaku agar bisa membebaskan din dari seluruh kejahanaman ini. “Selamatkan aku, wahai Juru Ketik Agung…,” aku berdoa.

 

Tetapi, ketimbang terbang, kudaku malah terperosok ke dalam sungai. “Arrrggghhh…”

 

Aku menjerit panjang ketika tangan elmaut melesat ke dalam air. Air sungai seperti meledak. Tiba-tiba, segala ketegangan berhenti begitu saja—seperti rangkaian gambar hidup yang di-pause. Masih kulihat pengarang itu terbangun dan segera mengelap iler di pipinya.

 

Syafaat untuk Ternak

 

Ke makam Syekh Uwais di Biyooley, orang-orang Somalia biasa berziarah untuk mendapatkan berkah dan keselamatan. Namun, mereka bukan hanya berziarah untuk diri mereka sendiri, tetapi juga untuk hewan ternak mereka. Selama ritual perziarahan hewan-hewan itu diikatkan di keempat pohon yang mengelilingi makam. Maka, embik kambing dan lenguh lembu menjadi setara dengan doa manusia. Dengan syafaat sang wali mereka berharap agar seluruh ternak mereka sehat-gemuk dan selamat dari gangguan binatang buas. Seekor harimau yang kelaparan sejak sepekan lalu menjadi belingsatan karena tiba-tiba saja ia merasa jeri berhadapan dengan kambing dan lembu yang tengah merumput di tepi hutan. Kerentanan nasib hewan, ketamakan manusia dan syafaat seorang wali akhir nya memutuskan satu mata rantai makanan. Tapi itu hanya berlaku untuk seekor harimau, bukan? Sebab setelah selamat dari terkaman harimau, seekor kambing atau lembu yang gemuk toh tidak bisa selamat dari pisau ta- jam si tukang jagal.

 

TeaterAdaptasi

 

Pada bagian akhir lakon Le Roi se meurt karya Eugene Ionesco—yang diindonesiakan oleh Ikranegara menjadi Raja Mati dari versi Inggris Donald Watson—kita temukan seorang raja yang lenyap menjadi asap. Yang lenyap di situ sebenarnya bukan hanya raja, tetapi juga permaisurinya dan seluruh penampakan balairung istananya. Adegan itu tentu saja absurd, tetapi—sebagaimana dikatakan pengarangnya—“sangat penting”.

 

Seorang sutradara berbakat mementaskan naskah itu. Sejak awal tokoh Sultan bermain seperti kerasukan iblis. Kalimat-kalimatnya licin dan berbahaya. Terutama ketika menghadapi muslihat dan rongrongan Tabib yang didukung Permaisuri Satu. Dengan bimbingan Permaisuri Satu yang ingin berkuasa—dan telah pula berbagi selimut dengan Tabib—Sultan akhimya menempuh kehidupan barunya sebagai kaum zahid. Ia moksa di dalam sebuah gua yang penuh sawang dan kelelawar.

 

“Ada yang ganjil dari pementasan itu,” kata sebuah ulasan. Masalahnya bukanlah saduran telah membuat sebuah karya asing mendapatkan konteksnya yang baru, “nalar performativitas baru”, tetapi kepercayaan kepada yang adikodrati—sebagaimana terjadi pada masyarakat tempat si sutradara tumbuh—telah melucuti makna terpenting lakon absurd semacam Le Rot se meurt. ’”Lakon absurd itu telah kehilangan elan vitalnya,” kata si kritikus teater dalam ulasan berjudul “Quo Vadis Teater Absurd”.

 

“Tidak ada yang salah dengan penyaduran,” bantah kritikus lainnya. “Kita harus mempribumikan lakon-lakon Barat terus-menerus.”

 

Si sutradara sangat menikmati polemik itu—tetapi para pemainnya, rasanya, tidak. Terutama pemeran Sultan, Permaisuri Satu dan Tabib. Mereka benar-benar lenyap setelah pementasan usai.

 

Seandainya

 

Jika kata seandainya, atau yang sejenisnya, dihapus dari kamus sebuah bahasa, dengan apakah para penutur bahasa itu melukiskan peristiwa yang belum terjadi tetapi mereka ingin sekali semua itu terjadi? Maka, akan lenyaplah angan-angan: tidak akan ada lagi “if conditional”; tidak diperlukan perselisihan di depan meja sidang; hanya akan ada pernyataan—dan sedikit kenyataan magis—bukan lagi pertanyaan. Yang tak kalah penting: akan kekal takdir Tuhan. Cerita tanpa kata seandainya adalah kisah seorang lelaki tua dan boneka kayu ciptaannya. Hingga cerita berakhir boneka itu tetaplah boneka kayu di atas meja makan dan si tukang kayu senantiasa lelaki tua yang kesepian. Sebabnya adalah kata seandainya telah dihapus dari doa dan mimpinya selama ini: Seandainya boneka kayu itu bisa berubah menjadi anak kecil yang menemaniku.

 

Zen Hae menulis puisi, cerpen, esai, kritik sastra, dan menyunting sejumlah buku. Buku terakhimya adalah kumpukm cerpen The Red Bowl and Other Stories (2015). Sepanjang September-November 2017, ia menjadi seniman mukiman di Praha dan Eský Krumlov, Republik Ceko, atas dukungan penuh Komite Buku Nasional-Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

 

I Wayan Suja, lahir di Batubulan, Bali, 8 Desember 1975. Menempuh pendidikan Seni Rupa di Sekolah Tinggi Seni Indonesia Denpasar (STSI/ISI Denpasar). Pernah menjadi Finalist of Indonesia Art Award dari YSRI tahun 2000 dan 2010. Tahun 2005 Finalist The 2005 Sovereign Asian Art Prize, Hong Kong.

 

[1]Disalin dari karya Zen Hae

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” Minggu 28 Oktober 2018

 

The post Enam Kisah appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 

via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2zagVYq

Opening ceremony of "Wajah-wajah PERUPA" Art Exhibition.

 

Location : Artiseri Gallery, Seri Pasific Hotel, Kuala Lumpur, Malaysia

 

Feel free to visit 2121studioDOTcom

 

Thanks for the visit, comments, awards, invitations and favorites.

 

Please don't use this image on websites, blogs or other media

without my explicit permission.

 

© All rights reserved

 

Contact: 2121studio@gmail.com

 

My Website | My Blog | My Facebook

Akhirnya... saya lulus sidang ujian akhir Tugas Akhir, Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta dengan judul tugas akhir "Buku Pengenalan Lomography Untuk Pemula" dan mendapatkan nilai A ...

 

terima kasih untuk Sko dan Tehkici yang telah hadir di ujian sidang saya, pak Robby dan om Alex yang telah memberikan selamat atas kelulusan saya via telp setelah saya selesai sidang, Windu dan Komar untuk sablon kaosnya, Bayu dan James untuk kain item displaynya, Nia untuk pinjaman kamera actionsampler clearnya, Ardie untuk pinjaman kamera actionsampler chromenya, Ade atas pinjaman kamera Oktomatnya dan terima kasih untuk Teguh Haryo (Lomonesia) atas pinjaman kamera-kamera LOMO yang lain dan panel Lomowallnya untuk display sidang.

 

Lomo boy got his graduate now :)

 

21 Agustus 2009, Ruang Pamer Institut Kesenian Jakarta

Location : Rajawali Art Gallery, Kuantan, Pahang, Malaysia

 

Feel free to visit 2121studioDOTcom

 

Thanks for the visit, comments, awards, invitations and favorites.

 

Please don't use this image on websites, blogs or other media

without my explicit permission.

 

© All rights reserved

 

Contact: 2121studio@gmail.com

 

My Website | My Blog | My Facebook

Maksud Perkataan:

Mohammad Firdaus Mahadi (nama sendiri)

 

KHAT DIWANI JALI

 

Khat ini dicipta oleh khattat Shahla Basya pada zaman pemerintahan Kerajaan 'Utmaniyyah. Khat ini dianggap sebagai kesinambungan daripada khat Diwani biasa. Khat ini dinamakan Jali yang bererti jelas kerana terdapat kelainan yang jelas dari segi bentuk tulisannya. Tujuan penggunaannya ialah untuk tulisan rasmi diraja dan surat-menyurat kepada kerajaan asing.

 

Bentuk hurufnya memenuhi ruang kosong sehingga membentuk satu ciptaan berupa geometri yang tersusun indah. Daripada jenis khat ini terciptalah bermacam-macam rupa bentuk hasil karya penulis-penulis khat yang mahir.

 

Khat Diwani Jali ini terbahagi kepada 3 jenis iaitu khat Diwani Jali Mahbuk, Diwani Jali Hamayuni, dan Diwani Jali Zauraq (bentuk Perahu). Khat Diwani Jali Mahbuk ditulis dengan menyusun huruf dan ragam hias dengan teratur dan dapat melahirkan bentuk tulisan yang indah, sepertimana pada contoh utnuk terbitan kali ini. Khat Diwani Jali Hamayuni pula biasanya ditulis oleh penulis-penulis khat Turki yang ditugaskan untuk menulis titah Sultan. Khat Diwani Jali Zauraq adalah jenis khat yang dipengaruhi oleh seni lukis. Kebanyakan penulis khat menghasilkan khat ini dengan menulis ayat-ayat sehingga membentuk seakan perahu atau kapal laut. Khat Diwani Jali Zauraq ini dikatakan agak mencabar dan sukar untuk menulisnya, ianya memerlukan kesabaran dan kreativiti yang tinggi dalam menghasilkan sesebuah karya.

 

Kesimpulannya, khat Diwani Jali ini dapat dilihat pada seninya bentuk tulisan, penyusunan huruf yang indah dan keserasian kalimah-kalimah yang diadun dengan begitu sempurna.

 

©callidesign™

Tulisan Khat Diwani Jali untuk terbitan Majalah Al-Islam bulan Ogos 2008.

  

Hak Cipta | Copyright Notice

 

Semua gambar dalam laman ini berada di bawah pemilikan & hak cipta Callidesign™. Tidak ada karya seni dan gambar dapat dipergunakan, dimuat turun, disalin, disimpan, dimanipulasi, atau digunakan secara keseluruhan atau sebahagian dari karya, tanpa izin bertulis dari Callidesign™. All rights reserved. Jika anda ingin menggunakan hasil karya dan gambar untuk alasan apapun, sila hubungi saya.

 

All artworks and images on this site are under the ownership & copyright of Callidesign™. No artworks and images may be reproduced, downloaded, copied, stored, manipulated, or used whole or in part of a derivative work, without the written permission of Callidesign™. All rights reserved. If you'd like to use my artwokrs and images for any reason, please contact me.

 

Location : Rajawali Art Gallery, Kuantan, Pahang, Malaysia

 

Feel free to visit 2121studioDOTcom

 

Thanks for the visit, comments, awards, invitations and favorites.

 

Please don't use this image on websites, blogs or other media

without my explicit permission.

 

© All rights reserved

 

Contact: 2121studio@gmail.com

 

My Website | My Blog | My Facebook

Sumiantara’s Paintings: Portable Art World

 

There are a lot of distracted faces present together; each is fenced by framelike border. That is the depiction in the paintings of Agus Sumiantara—or known as Kacrut. The images of faces are distracted thanks to the refraction effect from the glass block. Almost all of the face images present by Kacrut are behind the glass block. In other words, there is always glass block wall between the spectators and the presented images. Kacrut is also recognized as an artist who intens¬¬ely working on glass block as subject matter. However, there is something different between the glass block and images showcased in this exhibition. Kacrut was prior to portray opaque character, not quite transparent, and blurring the objects behind. In this exhibition, Kacrut’s paintings present more translucent glass block so that the images behind are quite clear. Those are the images of adults’ faces, mostly Caucasian or Westerns. Kacrut is indeed changing his painting approach. Developing his paintings from computer software in his last solo exhibition, Kacrut uses more photos in this one. He works on realist paintings from self-made photos with the objects of glass block stacks and the artist’s portrait behind. He chooses transparent glass block with distracted face images because the refraction resulted are very different compare to the previous paintings, and closer to abstract paintings.

It is safe to say that Kacrut’s paintings in this exhibition are more enriched with layers of meanings and representation. For those who are familiar with history, figures of modern and Western contemporary fine arts, it is not difficult to recognize the faces. Some of the most prominent ones are Picasso, Salvador Dali, Jackson Pollock, Basquiat and Frida Kahlo. What is the real meaning behind the distracted faces of Western artists that Kacrut tried to represent? Displaying well-known Western artists, Kacrut has at least trying to question the matters around existence, hegemony, and the effect of Western fine arts towards Indonesian modern and contemporary fine arts. The matter of how Western contemporary fine arts affect the global one is a latent problem. Even in the context of contemporary fine arts, Western’s hegemony and impacts are still lingering, not to say greater. It is easy for artists living in remotest part of the art world such as Indonesia to access books and journals of fine arts, thanks to the advanced technology to reproduce printing media and digital transmission from video and Internet. It is also eases the access to the development of both discourse and practices of most contemporary Western fine arts. It arises interesting situation. Such information access that is effortless and open are welcomed by various motives and interests. For few members of Indonesian artists, it is viewed as a method to understand more about the discourse, theory, and paradigm of most contemporary Western fine arts. As for some others, they would merely accessing visual representation of the latest printed and digital reproductions. For me, Kacrut’s artworks have given the opportunity to contemplate and to review the bargaining position of Indonesian’s contemporary fine arts in the eyes of the world.

Like it or not, what is called by global and international fine arts mainly consists of Western pieces. Kacrut is aware about this matter. As an artist who finished his education in Fine Arts University, the history and theory of Western fine arts are not unfamiliar. Yet, there is wide gap between the syllabus of Indonesian curriculum in fine arts campus and the most recent development of global discourse and theory. Most of Indonesian artists who graduated from Fine Arts University feel as a part of world’s fine arts. It is caused by their value parameter that commonly based on theory, history, and discourse of Western fine arts. The matter is also based on the belief towards universalism of modern fine arts that could be applied beyond any borders of any countries. Ironic, because when the principles of formalism modernity have been long neglected by Western fine arts universities, non-Western countries are adopting such principles into the most important part of the curriculum in their campuses.

For artists in Indonesia who graduated from university, the problem lies on the time they go out to the practice world of Indonesian fine arts—in which existence and infrastructure are very much different and left behind the ones of more advanced countries. On the other hands, the representation of global contemporary fine arts has been justified by inter-disciplinary theories that are difficult and complex. To this extent, even the artists who have graduated from university are, so to say, having minimum experience in relation with the history, theory, and the discourse of Western fine arts that have become a role of global fine arts. As for me, Kacrut’s artworks have precisely represent such matters. We are brought into the feeling of acknowledgment towards the “face” of Western fine arts on one side, while on the other side, there is this uneasy feeling if such recognition and acknowledgment are “distracted” because of language barrier, distance, and culture gap that resulted in limited understanding and incompleteness. There is a wall, though transparent yet massive, that separates us with global contemporary fine arts, as frankly shown in Kacrut’s paintings.

Kacrut chooses not to appropriate famous Western artworks. He prefers to work on the faces of such artists. Depiction of the artists remind us of the opinion of Gombrich, an England art-historian in the opening of his book, The Story of Art, “THERE REALLY IS no such thing as Art. There are only artists. In the beginning, an artist has become acknowledged because of his or her works. Yet, when fame achieved, it is the works that finally gain the aura of such artist. What Gombrich explains emphasizes the mater that the history of modern Western contemporary fine arts is the history of some artists whose artworks are considered to contribute in thoughts, discourse, and the theory of modern Western fine arts. Finally, what really matters is the artist’s idea. Artworks could never exist without the existence of the artist. The history of Western fine arts is an agreed construction and generally takes as the “truth” about the importance of some Western artists, especially Caucasian, male, from the middle class.

It is known that the paradigm of modern fine arts has later on deconstructed by post-modern fine arts. Therefore, the contemporary fine art is freed from the determination of modern fine arts. However, the existence of modern fine arts will not disappear easily. Contemporary fine arts is somewhat “continuing” the modern Western fine arts. The construction of history and modern fine arts theory are needed as the anti-theses of contemporary fine arts. As a result, the faces presented specifically by Kacrut are the ones of modern and contemporary artists of the Western. In the context of global discourse and history, the field of Indonesian contemporary fine arts is somewhat become an outsider. We have become an external player. Hans Belting shows the picture about global fine arts as Western construction for Western world,

“World art has been physically collected in the West for along time and thus seemed to have become the possession of Western culture—while the native culture seemed to lack any appropriate discourse.”

Therefore, for Kacrut, the choice of appropriating artists’ faces is a correct one, because Western artists’ faces are less acknowledged than their works. Except whose faces are frequently present in printed media, it could be said that most faces in Kacrut’s paintings are unknown. We do not recognize the faces not because of its distraction but because we simply do not know them. The faces distraction from unrecognized faces resulted in glass block refraction has become a tautology linked to “unknownness.”

Kacrut’s artwork is the criticism and negotiation of an artist within, in the field of Indonesian fine arts, and in the world of global fine arts. Such distraction in those maestros’ faces could be an artist’s depiction about the distraction of history, theory, and the discourse of Western fine arts in Indonesia. Global fine arts discourse has frequently become a dilemmatic matter for Indonesian contemporary artists. Should they pay more attention towards the discourse and paradigm of global fine arts led by the West? Or, is it possible not to pay attention to global discourse and development in fine arts? However, the matter that disturbs Kacrut more is that contemporary fine art is not an important part of modern Indonesia culture. That is why Kacrut prefers to turn his head to Western artists—even tough there is a massive wall in between.

The practice of contemporary fine arts have become an important part that could not be unattached from fine arts history in Western culture since Renaissance. To them, contemporary fine arts is the son of Western culture. Art museums and major exhibitions (biennale and triennial) have become a significant part in the practice and discourse of fine arts world in the West. Public appreciation could be sensed thickly. It plays an important role to grow an artist’s confidence in the society. Society acceptance and the needs of contemporary fine arts in Western countries have become a cultural memory empowered through the construct in the history of fine arts,

“The image of art history to which I refer is precisely this ‘cultural archive,’ in which the events that have taken place in art, arranged according to their importance, form elements of that very construct we used to call the history of art.”

It is admitted that art museum serves as the pillar of modern fine arts, and the museum serves also as spiritual temples of Western culture. Inside, kept, guarded, and exhibited, the artworks considered as important in the history of fine arts. In Western countries and in most of advanced countries, art museums are established constantly. They believe that museums are the generators of the culture. Great exhibitions in the museum have obliquely disseminating artists’ aura and works to the public. Non-Western countries that considered themselves as civilized, or want to prove their civilization, are following the Westerns and busy in building art museums. It could be viewed in some Asian countries whose economics are strong such as Japan, Korea, China, and Singapore. They are also busy in making art museums. In this relation, Kacrut is scrutinizing the journey of Indonesian fine arts outside the history of global fine arts. Besides, the demanding matter that needs to be addressed is the absence of society’s cultural memory about the history and the journey of Indonesian’s modern and contemporary fine arts. This situation has brought us to the doubt around the role of Indonesian contemporary fine arts in Indonesian contemporary culture.

The depiction of world’s artists figures in Kacrut’s artworks have also refreshing the minds around what Andre Malraux called as Imaginary Museum (musee imaginaire), or, more popular term, museum without the wall. Although the term is not exactly correct, museum without the wall is an accurate metaphor for Indonesian fine arts, where access towards global arts is mainly through image reproduction of prominent artists. Rosalind E. Krauss explains the concept of Andre Malraux about reproduction as follows,

“In the second wave they are, through their transplantation to the site of reproduction (through art books, postcards, posters), unmoored from their original scale, every work whether tiny or colossal now to be magically equalized through the democratizing effects of camera and press.”

It is known that Indonesia hardly has art museum—the ones that are sufficient, qualifying, and having continuous programs. Yet, modern and contemporary fine arts could still blooming and developing. Though, of course, Indonesian artists know more about modern Western fine arts, the artists, and their works, most of art practitioners could never see directly such iconic masterpieces of modern and contemporary Western fine arts. It has to be admitted that most of the members of Indonesian fine arts see such art pieces through reproductions, by looking at them in photo illustrations in the books about Western fine arts. We understand, recognize, and “access” Western fine arts without coming and seeing those iconic masterpieces directly, without seeing them in an exhibition. Through reproduction from such books, we have visited what Andre Malraux called as museum without walls.

Kacrut’s artworks are no longer talking about the matters of meanings and contents, yet, they speak about the medium itself: realist paintings, especially photo-realist. Through his paintings, Kacrut seems to find a way to return the aura of artists’ images that he represents. It is undoubted that such images are gained from books and Internet. An irony to present them in paintings, those faces have gained more attention and placed as meaningful subject matter. Those distracted faces that make uneasy or discomfort feeling have become appealing display when moved into canvas. It is stunning to see the illusive quality that could show the glass character, be it thickness or the cracks; the melting and dots of paints; and the impression of natural distraction in Kacrut’s paintings. They have somewhat returned the “aura” of the painted figures, that once “lost” because they have become the images that dispersed through photo reproduction on printed products and Internet world. Kacrut seems to seek a way to turn Walter Benyamin’s dogma upside down, about the lost of art aura thanks to the technology in reproduction. In other words, through his paintings, Kacrut have returned the “faces’” aura of such prominent artists. Even in the era of plural contemporary fine arts nowadays, when everything is acceptable, paintings has become one of the mediums with the rights to perform. It is true that paintings have more value. Isn’t that during the journey of Western fine arts the aura tic position of paintings have become unparalleled since the Renaissance? It is proved that the disseminated reproduction of an artwork on printed products or digital transmission added more auratic impression towards the original artwork.

Isn't that during the journey of western fine arts the position of paintings and how it radiates its influence is unparalleled since renaissance era?

It is proved that the dispersed reproduction of an artwork over printed products or digital transmission is somewhat radiating the influence of the original masterpiece.

To emphasize the distraction effect because of glass block refraction, Kacrut also paints a standalone artist’s face. He, too, eliminates the edges of glass block, so that the distracted face of the artist filled the canvas. Needs more than refraction effect of the glass block, Kacrut also pour, splash, and cover the glass block surface with thin paint. This enriches visual effect. Those faces looked “disturbed”, yet, on the other side, they don’t seemed mind about it. It could be meant as the representation of awareness and concern of an artist towards Western fine arts. However, on the other hand, “they” don’t seemed to pay attention to us. Perhaps, that is why Kacrut needs to crack the glass surface like one of the paintings that present Robert Rouschemberg and Francis Bacon in which the names are also the title of the paintings. Kacrut seems to show his “displease” towards the hegemony of Western artist. Yet, his “attack” could reach the glass surface only, impervious to the images behind. Kacrut shows that it is difficult to “attack” and interact with them. They seem invisible, yet could be seen and greeted.

In the end, Kacrut’s artworks remind us about the ease to access contemporary fine arts. When discourse and fine arts theory are needed, overwhelming information are provided from books and Internet connection. Global fine arts world have become a portable area. Contemporary fine arts books are somewhat a packed depiction of global fine arts. Those books and digital transmission, in relation with contemporary fine arts, are museum without walls, the one that is portable and easy to “carry”. We could be “mistaken” in understanding a discourse, or “misinterpret” the artworks discussed in the books. But that does not matter anymore: couldn’t we just create our own thoughts and meaning? Through his paintings, isn’t Kacrut trying to show that even the “incorrect” and distracted faces have the power of ideas and aesthetics in their own unique ways?

 

Curator: Asmudjo Jono Irianto

 

Portable Art World

 

08 Aug, 2009 - 22 Aug, 2009

 

Sumiantara’s Paintings: Portable Art World

 

PULUHAN wajah terpiuh tampil bersama, masing-masing dibatasi semacam frame. Itulah gambaran yang tampak dalam lukisan Agus Sumiantara, atau biasa disapa Kacrut. Citraan wajah-wajah tersebut terpiuh karena efek refraksi dari glass block. Hampir seluruh citraan wajah yang ditampilkan oleh Kacrut berada di belakang glass block. Dengan kata lain selalu ada dinding glass block antara pemirsa dengan citraan wajah yang ditampilkan. Kacrut memang dikenal sebagai seniman yang intens menggarap subject-matter glass block.

Namun ada yang berbeda dari glass block dan citraan yang ditampilkan Kacrut dalam pameran ini. Jika sebelumnya glass block Kacrut tampil dengan dengan karaktek opaque, tidak cukup transparan, sehingga tidak jelas gambaran objek di belakangnya, dalam pameran ini lukisan-lukisan Kacrut menampilkan glass block yang lebih transparan, sehingga cukup jelas citraan yang ada di baliknya, yaitu wajah-wajah orang dewasa, sebagian besar orang Barat. Kacrut memang mengubah pendekatan melukisnya. Jika dalam pameran tunggal yang lalu ia mengembangkan citraan yang akan dilukis dengan menggunakan perangkat lunak komputer, dalam pameran ini ia lebih banyak menggunakan bantuan foto. Karya-karya kacrut merupakan lukisan realis dari foto-foto yang dibuat sendiri dengan objek berupa susunan glass block dengan citraan wajah seniman di belakangnya. Pilihan glass block block transparan dengan citraan wajah terpiuh karena refraksinya menghasilkan lukisan yang jauh berbeda dari lukisan Kacrut dalam pameran terdahulu yang tampak lebih dekat dengan tampilan lukisan abstrak. Lukisan-lukisan Kacrut dalam pameran ini bisa dikatakan lebih kaya dengan lapisan makna dan representasi. Bagi pihak-pihak yang terbiasa dengan sejarah dan tokoh seni rupa modern dan kontemporer Barat, maka tak sulit untuk mengenali wajah-wajah tersebut. Beberapa yang cukup kentara adalah Picasso, Salvador Dali, Jackson Pollock, Basquiat, dan Frida Kahlo.

Apa sesungguhnya makna yang hendak ditawarkan oleh Kacrut dengan menampilkan wajah-wajah terpiuh para seniman penting dari dunia seni rupa Barat? Dengan menampilkan wajah-wajah para seniman Barat tersohor dan mendunia, setidaknya ia telah mulai dengan mempersoalkan perkara eksistensi, hegemoni, dan pengaruh seni rupa Barat pada seni rupa modern dan kontemporer Indonesia. Pengaruh seni rupa modern Barat pada dunia seni rupa global merupakan perkara laten. Dalam konteks seni rupa kontemporer pun pengaruh dan hegemoni Barat tak juga lekang, bahkan mungkin lebih besar. Saat ini melalui saluran reproduksi cetak (buku dan jurnal seni rupa) dan transmisi digital (video dan internet) dengan sangat mudah perkembangan seni rupa paling mutahir di Barat —baik praksis maupun wacana— diakses oleh para seniman dari wilayah pinggiran, seperti Indonesia. Hal ini menampilkan situasi menarik. Akses informasi yang sangat mudah dan terbuka disambut oleh beragam motif dan minat. Untuk sebagian kecil para anggota medan seni rupa Indonesia akses informasi ini merupakan jalan untuk memahami lebih mendalam wacana, teori, dan paradigma seni rupa Barat mutakhir. Sebagian lain, mungkin sekadar mengakses tampilan visual reproduksi cetak dan digital karya-karya mutakhir. Bagi saya, lukisan-lukisan Kacrut memberikan kesempatan pada kita untuk merenung dan melihat kembali posisi tawar seni rupa kontemporer Indonesia di panggung dunia.

Suka atau tidak yang disebut seni rupa global dan internasional terutama tak lain dan tak bukan adalah seni rupa Barat. Agaknya Kacrut menyadari hal tersebut. Sebagai seniman lulusan perguruan tinggi seni rupa, maka perkara sejarah dan teori seni rupa Barat agaknya tak asing bagi Kacrut. Namun tentu saja, ada jarak lebar antara apa yang menjadi silabus kurikulum seni rupa di perguruan tinggi seni rupa Indonesia dengan perkembangan wacana dan tori seni rupa global yang paling mutakhir. Kebanyakan para seniman Indonesia lulusan perguruan tinggi seni rupa merasa menjadi bagian dari seni rupa dunia. Hal ini disebabkan parameter nilai seni rupa mereka umumnya didasari oleh teori, sejarah, dan wacana seni rupa Barat. Hal itu juga didasari oleh kepercayaan pada prinsip universalisme seni rupa modern yang bisa diterapkan melampaui batasan negara. Ironisnya, pada saat prinsip-prinsip modernisme formalis telah lama dicampakkan oleh perguruan tinggi seni rupa Barat, justru kadang di negara-negara non-Barat prinsip-prinsip tersebut masih menjadi bagian penting kurikulum pendidikan tinggi seni rupa.

Persoalannya, untuk seniman lulusan perguruan tinggi seni rupa di Indonesia, pada saat mereka keluar ke dunia praksis yang dihadapi adalah medan seni rupa Indonesia—yang keberadaan dan infrastrukturnya sangat berbeda dan jauh tertinggal dibandingkan dari infrastruktur seni rupa negara-negara maju. Di sisi lain, seni rupa kontemporer global kehadirannya disertai dan dijustifikasi oleh bangun teori-teori interdisiplin yang kompleks dan sulit.

Dalam kaitan ini, bahkan para lulusan perguruan tinggi seni rupa di Indonesia pun bisa dikatakan minim pemahamannya berkenaan dengan sejarah, teori dan wacana seni rupa Barat, yang menjadi role model seni rupa global. Bagi saya karya-karya Kacrut secara telak merepresentasikan persoalan tersebut. Di satu sisi kita merasa mengenali “wajah” seni rupa Barat, namun di sisi lain jangan-jangan pengenalan tersebut adalah pengenalan atau pengetahuan yang “terpiuh” karena kendala bahasa dan jarak budaya sehingga kerap hanya dipahami secara seadanya dan tidak lengkap. Ada dinding, kendati transparan namun masif yang memisahkan kita dengan seni rupa kontemporer global, sebagaimana ditunjukkan secara gamblang dalam lukisan Kacrut.

Kacrut memilih tidak mengapropriasi karya-karya seniman Barat yang terkenal. Dia lebih suka mengolah wajah para seniman tersebut. Gambaran wajah seniman ini mengingatkan pada pendapat Gombrich, sejarahwan seni Inggris dalam pembukaan bukunya, The Story of Art, “THERE REALLY IS no such thing as Art. There are only artists. Awalnya seorang seniman menjadi terkenal karena karyanya. Namun pada saat sang seniman telah ternama, maka karya-karyanya yang kemudian mendapatkan aurora dari sang seniman. Apa yang diutarakan oleh Gombrich menegaskan bahwa sejarah seni rupa modern Barat adalah sejarah segelintir seniman, yang karya-karyanya dianggap memberikan kontribusi dalam konstruksi pemikiran, wacana dan teori seni rupa modern Barat. Hal ini menunjukkan pada akhirnya yang penting adalah gagasan senimannya. Karya tidak mungkin ada tanpa keberadaan seniman. Sejarah seni rupa Barat adalah konstruksi yang disepakati dan umumnya bisa diterima sebagai “kebenaran” mengenai pentingnya segelintir seniman Barat, umumnya seniman kulit putih, laki-laki dan dari kelas menengah.

Kita tahu bahwa paradigma seni rupa modern kemudian didekonstruksi oleh seni rupa posmodern. Karena itu, seni rupa kontemporer pun terbebas dari determinasi sejarah seni rupa modern. Namun bagaimana pun keberadaan sejarah seni rupa modern tak lantas lenyap begitu saja. Bagaimana pun seni rupa kontemporer merupakan semacam “lanjutan” dari seni rupa modern Barat. Konstruksi sejarah dan teori seni rupa modern dibutuhkan sebagai antitesa seni rupa kontemporer. Karena itu wajah yang ditampilkan oleh Kacrut terutama adalah wajah para seniman modern dan kontemporer Barat. Dalam konteks konstruksi sejarah dan wacana global ini, medan seni rupa kontemporer Indonesia sepertinya menjadi outsider. Kita menjadi pemain di luar. Gambaran mengenai sejarah seni rupa global sebagai konstruksi Barat untuk dunia Barat ditunjukkan oleh Hans Belting,

“World art has been physically collected in the West for along time and thus seemed to have become the possession of Western culture—while the native culture seemed to lack any appropriate discourse.”

Karena itu, bagi Kacrut pilihan mengapropriasi wajah seniman merupaka pilihan yang tepat. Sebab wajah seniman Barat kurang dikenali dibandingkan karya-karyanya. Kecuali beberapa seniman yang memang wajahnya kerap ditampilkan di media cetak, maka bisa dikatakan sebagian besar wajah dalam lukisan Kacrut tidak kita kenali. Kita tidak mengenalinya, bukan karena keterpiuhannya, namun karena memang kita tak mengenalinya. Keterpiuhan wajah dari wajah yang tidak kita kenali karena refraksi glass block menjadi semacam tautology berkait dengan “ketidaktahuan.”

Karya-karya Kacrut merupakan kritik dan negosiasi sang seniman pada dirinya, medan seni rupa Indonesia maupun medan seni rupa global. Bisa jadi keterpiuhan wajah-wajah seniman besar tersebut merupakan gambaran sang seniman mengenai keterpiuhan pengetahuan sejarah, teori dan wacana seni rupa Barat di Indonesia. Wacana seni rupa global kerap menjadi perkara yang dilematis bagi para seniman kontemporer Indonesia. Haruskah mereka peduli dan mementingkan wacana dan paradigma seni rupa global yang dikomandoi Barat? Atau mungkinkah tak memedulikan wacana dan perkembangan seni rupa global? Namun agaknya perkara yang lebih mengusik Kacrut adalah sepertinya seni rupa kontemporer bukan bagian penting dalam kebudayaan Indonesia modern. Barangkali itu sebabnya Kacrut lebih suka berpaling pada wajah para seniman Barat —kendati harus dipisahkan oleh dinding kaca yang masif.

Praksis seni rupa kontemporer merupakan bagian penting tak terpisahkan dari perjalanan seni rupa dalam kebudayaan Barat sejak masa Renaisans. Bagi mereka seni rupa kontemporer adalah anak kandung dari kebudayaan Barat. Museum seni rupa dan pameran-pameran besar (bienal, trienal) menjadi bagian penting dalam praksis dan wacana pada medan seni rupa di Barat. Apresiasi dan penghargaan publik dapat mereka rasakan dengan kental. Hal ini menjadi bagian penting dalam menumbuhkan konfidensi seniman dalam masyarakat. Penerimaan dan kebutuhan masyarakat di sana pada seni rupa kontemporer menjadi semacam cultural memory yang diperkuat melalui konstruksi sejarah seni rupa,

“The image of art history to which I refer is precisely this ‘cultural archive,’ in which the events that have taken place in art, arranged according to their importance, form elements of that very construct we used to call the history of art.”

Museum seni rupa harus diakui merupakan tonggak seni rupa modern, museum adalah kuil-kuil spiritual kebudayaan Barat, di dalamnya disimpan, dijaga dan dipamerkan karya-karya yang dianggap penting dalam sejarah seni rupa. Di Barat dan negara maju lain museum seni rupa terus dibangun. Di sana museum dipercaya sebagai pembangkit kebudayaan (generators of culture). Pameran-pameran besar di museum secara tidak langsung juga menyebarkan aurora seniman dan karyanya pada publik. Bangsa-bangsa non-Barat yang merasa beradab atau ingin membuktikan keberadabannya mengikuti jejak bangsa Barat sibuk membangun museum seni rupa. Lihat saja, di Asia bangsa-bangsa yang maju dan perekonomiannya kuat seperti Jepang, Korea, China, dan Singapura juga sibuk membangun museum seni rupa. Dalam kaitan ini bisa jadi Kacrut mempersoalkan perjalanan seni rupa Indonesia yang berada di luar sejarah seni rupa global. Selai itu, persoalan yang lebih penting adalah ketiadaan cultural memory masyarakat mengenai sejarah dan perjalanan seni rupa modern dan kontemporer Indonesia. Situasi ini membawa kita pada pada keraguan akan peranan seni rupa kontemporer Indonesia dalam kebudayaan kontemporer Indonesia.

Gambaran wajah para tokoh seniman dunia dalam karya-karya Kacrut juga mengingatkan kita pada apa yang disebut oleh Andre Malraux sebagai Imaginary Museum (musee imaginaire) atau lebih populer disebut sebagai museum without the wall. Kendati tidak tepat benar, namun istilah museum without the wall adalah perumpamaan yang tepat bagi seni rupa di Indonesia, yakni akses terhadap seni rupa global terutama hanya melalui reproduksi citraan karya-karya seniman terkenal. Rosalind E. Krauss menjelaskan konsep Andre Malraux mengenai perkara reproduksi tsb sebagai berikut,

“In the second wave they are, through their transplantation to the site of reproduction (through art books, postcards, posters), unmoored from their original scale, every work whether tiny or colossal now to be magically equalized through the democratizing effects of camera and press.”

Kita tahu bahwa Indonesia hampir-hampir bisa disebut tak memiliki museum seni rupa—yang memadai dan memiliki program yang berkualitas dan berkelanjutan. Toh seni rupa modern dan kontemporer dapat berjalan dan berkembang. Ya tentu saja kebanyakan para seniman tahu sedikit banyak tentang sejarah seni rupa modern Barat, tokoh-tokoh seniman dan karya-karyanya. Kebanyakan dari para pelaku seni tersebut bisa jadi tidak pernah melihat langsung karya-karya ikonik seni rupa modern dan kontemporer Barat. Harus diakui bahwa kebanyakan para anggota medan seni rupa Indonesia melihatnya melalui reproduksi, melalui ilustrasi foto di buku-buku seni rupa Barat. Kita memahami, mengenali dan “mengakses” seni rupa Barat tanpa harus datang langsung melihat karya-karya ikonik, tanpa harus melihatnya dalam sebuah pameran. Melalui reproduksi dari buku-buku tersebut kita mengunjungi apa yang disebut Andre Malraux sebagai Museum without walls.

Tentu saja lukisan-lukisan Kacrut tak hanya bicara perkara makna dan persoalan konten, namun juga perkara medium itu sendiri: seni lukis realis, khususnya foto-realis. Melalui lukisannya Kacrut seperti hendak mengembalikan aurora citraan para seniman yang ditampilkannya. Tak dapat dipungkiri bahwa citraan wajah-wajah tersebut diperoleh Kacrut melalui buku maupun internet. Merupakan suatu ironi bahwa dengan ditampilkan kembali melalui lukisan, wajah-wajah tersebut menjadi lebih diperhatikan, dan ditempatkan sebagai subject matter yang memiliki makna. Wajah-wajah terpiuh yang seharusnya menimbulkan rasa tak nyaman ketika dipandang justru menjadi tampilan yang menarik pada saat dipindahkan pada kanvas. Keterpukauan pemirsa pada kualitas ilusif yang dapat menampilkan karakter gelas, baik ketebalan maupun retakannya; lelehan dan bintik-bintik cat; serta kesan pemiuhan yang alami pada lukisan Kacrut telah mengembalikan “aurora” tokoh-tokoh yang dilukiskannya yang sempat “hilang” karena menjadi citraan yang tersebar melalui reproduksi foto pada barang-barang cetakan dan dunia internet. Sepertinya Kacrut hendak membalik tuah Walter Benyamin tentang hilangnya aurora seni karena teknologi reproduksi. Dengan kata lain, melalui lukisan Kacrut mengembalikan aura “wajah” tokoh-tokoh seniman tersebut. Saat ini, justru pada era seni rupa kontemporer yang pluralis dan apapun boleh, maka seni lukis pun menjadi salah satu medium yang berhak tampil. Tentu saja seni lukis memiliki kelebihan. Bukankah selama perjalanan seni rupa Barat sejak masa Renesans posisi auratik seni lukis tak tertandingi oleh medium lain? Terbukti bahwa penyebaran reproduksi sebuah karya seni pada barang-barang cetakan maupun transmisi digital justru menambahkan kesan auratik pada karya aslinya.

Untuk mempertegas efek terpiuh karena refraksi kaca glass block, Kacrut juga melukiskan wajah tokoh seniman seorang diri. Dia juga menghilangkan bagian pinggir glass block, sehingga wajah tokoh seniman yang terpiuh memenuhi bidang kanvas. Tak merasa cukup dengan efek refraksi dari glass block, Kacrut juga menumpahkan, mencipratkan, malaburi permukaan glass blocknya dengan cat encer. Hal ini memperkaya efek visual. Wajah-wajah tersebut tampak “diganggu”, namun di sisi lain tampaknya mereka tak bereaksi. Hal ini pun bisa dimaknai sebagai representasi kesadaran dan kepedulian kita pada sejarah seni rupa Barat, namun di sisi lain “mereka” seolah tak mengindahkan kita. Barangkali itu pula sebabnya Kacrut merasa perlu untuk meretakkan permukaan kaca, seperti tampak dalam karya yang menampilkan, sekaligus berjudul, “Robert Rouschemberg dan Francis Bacon”. Bisa jadi Kacrut ingin menunjukkan “kejengkelan” pada hegemoni seniman Barat. Namun “serangan” Kacrut selalu hanya sampai pada permukaan kaca, tak tembus pada citraan di belakangnya. Apakah Kacrut hendak menunjukkan bahwa sungguh sulit “menyerang” dan berinteraksi dengan mereka. Sepertinya mereka terlihat, namun tak dapat ditemui dan disapa.

Pada akhirnya, karya-karya Kacrut seperti hendak mengingatkan pada kita betapa mudah saat ini mengakses seni rupa kontemporer. Apabila yang dibutuhkan adalah perkara wacana dan teori seni rupa, maka buku-buku dan saluran internet berlimpah ruah dengan informasi mengenai seni rupa kontemporer. Medan seni rupa global menjadi wilayah yang portable. Buku-buku seni rupa kontemporer sedikit banyak merupakan pemadatan dari gambaran medan seni rupa global. Buku-buku dan transmisi digital berkenaan dengan informasi mengenai seni rupa kontemporer merupakan museum without walls, yang portable dan mudah “dijinjing”. Bisa jadi kita “salah” mengerti wacana atau “salah” memaknai karya-karya yang dibicarakan dalam buku-buku tersebut. Tapi barangkali tak masalah: bukankah kita bisa menciptakan pemikiran dan makna kita sendiri? Bukankah melalui lukisannya Kacrut menunjukkan bahwa wajah-wajah yang “salah” dan terpiuh pun memiliki kekuatan gagasan dan estetiknya sendiri?

 

Curator: Asmudjo Jono Irianto

foto ini diambil pada 31 Maret 2012 di lapangan rumput seni rupa - Institut Teknologi Bandung :)

 

Camera : Nikon D3100

My old camera (Ricoh 500GX) still have no name

My sketchbook - Reyog

My iPad - named Siva

 

foto ini diambil pada 31 Maret 2012 di lapangan rumput seni rupa - Institut Teknologi Bandung :)

 

Camera : Nikon D3100

  

Camera : Nikon D3100 ( pinjam punya mas ian )

 

gambar ini diambil pada 31 Maret 2012 di lapangan rumput seni rupa - Institut Teknologi Bandung :)

Cat lukis kain merk MM

 

Tersedia jenis;

'Cat lukis kain textile' untuk melukis semua jenis kain

'Cat lukis kain textile timbul' hasil lukisan timbul namun lembut

'Cat lukis kain silk' untuk melukis kain sutra dan sejenisnya

'Cat lukis kain synthetic' untuk melukis kain polyester

 

Semua cat finishing hanya dengan setrika

 

Dengan harga murah cocok untuk pemula maupun pengrajin

 

Harga 20000

 

Call:

IWAN

02170555890

Mail:

e1creative@yahoo.com

Web:

www.e1creative.net

 

www.e1creative.blogspot.com

 

INFO PEMESANAN

Kontak:

IWAN

02170555890

089637776669

www.lukiskain.com

www.e1creative.net

Jl.Pesantren Al-Makmur RT.01 RW.04 No.65 Kreo, Ciledug, Tangerang, Indonesia

SEMUA TENTANG LUKIS KAIN ADA DISINI.

 

KURSUS LUKIS KAIN.

SEDIA CAT LUKIS KAIN MERK MM.

KERUDUNG PARIS LUKIS.

KAIN LUKIS

 

www.e1creative.net

www.e1creative.blogspot.com

IWAN

02170555890

 

e1creative

CAT LUKIS KAIN MM.

MM FABRIC PAINTS.

MURAH BERKUALITAS.

 

Cat lukis kain merk MM tersedia dalam ukuran 30ml harga 15000. Dan 60ml harga 25000.

 

Tersedia jenis;

1. Textile

2. Textile timbul

3. Silk

4. Synthetic

 

Hasil lukis lembut tidak kaku.

Dapat digunakan untuk berkreasi lukis bermacam produk berbahan dasar kain.

Made in Indonesia.

 

E1 creative:

02170555890

 

www.e1creative.blogspot.com

 

e1creative

 

We are one form of business that engages in goods and services specifically designed to supply clothing, scarves (silk, textiles, synthetics, etc.), and fabric painting training courses.

We have applied these techniques to pruducts quality superior design that does not exist in other places, and our products is one of the popular consumer products in Asia and Europe as well as bookings in the design of painting materials in the field.

 

E1creative product is a genuine product made in Indonesia, which was done with hand painting techniques as distinct fro m the products that can provide satisfaction to our customers

 

Our product has gained the trust and customer satisfaction with our products, whether from domestic or foreign.

 

Get our original products only in e1creative

www.e1creative.net

 

INFO PEMESANAN

Kontak:

IWAN

02170555890

089637776669

www.lukiskain.com

www.e1creative.net

Jl.Pesantren Al-Makmur RT.01 RW.04 No.65 Kreo, Ciledug, Tangerang, Indonesia

Kerudung lukis dari E1 CREATIVE berbahan paris.

Kerudung paris lukis dengan cat timbul memberikan efek relief yang indah. Meskipun timbul namun hasil lukisan jilbab paris cat timbul tidak kaku.

Ada juga jilbab paris yang dilukis dengan cat textil dan diperindah dengan outliner warna warni yang pasti manis dan indah.

Atau jika anda menginginkan kerudung paris lukis yang sangat lembut, kami sediakan jilbab paris lukis dengan cat sutra dengan hasil lukisan cat menyatu dengan kain sehingga sangat lembut, bahkan jika disentuh seperti printing tidak terasa ada cat lukis.

 

Untuk pembelian grosir harga murah pasti.

 

Hubungi kami;

 

02170555890

 

e1creative@yahoo.com

www.e1creative.net

 

GROSIR JILBAB KERUDUNG PARIS LUKIS.

Kerudung paris lukis indah tanpa payet ataupun bordir.

Jilbab paris lukis yg dilukis menggunakan 3 jenis cat yg menghasilkan tipe lukisan yang berbeda, yaitu: cat textile, textile timbul, silk.

DIJAMIN BEDA DARI LUKISAN KERUDUNG LAIN.

BELUM MASUK PASAR.

 

Harga; 700000/kodi nego.

Info dan pemesanan:

telp/sms

IWAN

02170555890

alamat:

jl.pesantren almakmur rt.01/rw.04 no.65 kreo, cipapu, cileduk, tangerang.E1CREATIVE

contact:

call/sms

IWAN

02170555890

www.e1creative.net

 

Cat lukis kain MM.

Tersedia jenis:

1. Textile

2. Textile timbul

3. Silk

4. Synthetic.

Hasil lukisan cat lukis kain MM lembut tidak kaku.

Cat lukis kain MM Murah berkualitas.

Harga cuma 15000 perbotol.

Sms / call:

02170555890

www.e1creative.net

 

SEMUA TENTANG LUKIS KAIN ADA DISINI.

 

KURSUS LUKIS KAIN.

SEDIA CAT LUKIS KAIN MERK MM.

JILBAB PARIS LUKIS.

KAIN LUKIS.

DESIGN LUKIS KAIN.

IWAN

02170555890

www.e1creative.net

 

CAT LUKIS KAIN MM.

 

JENIS:

1. TEXTILE, untuk melukis semua jenis kain, hasil lembut.

2. TEXTILE TIMBUL, untuk melukis semua jenis kain, hasil timbul namun tidak kaku.

3. SILK, untuk melukis sutra dan semua kain, hasil lukisan menyatu dengan kain sangat lembut.

Semua jenis cat lukis kain MM finishing hanya dengan setrika.

Pemesanan telp/sms:

Iwan

02170555890

www.e1creative.net

 

KURSUS MELUKIS DIATAS KAIN

 

E1 CREATIVE menyelenggarakan kursus lukis kain bagi perorangan maupun kelompok.

Mengajarkan berbagai tehnik lukis kain, diatas bermacam jenis kain, dan menggunakan jenis cat lukis kain yang berbeda-beda.

Dengan tujuan agar peserta kursus dapat melukis diatas berbagai macam produk berbasis kain.

 

Melukis kain itu mudah, siapapun pasti bisa.

Tidak harus berbakat melukis.

Hanya butuh kesabaran, ketelatenan dan semangat untuk terus berlatih dan berkarya.

Melukis diatas kain???

Waah asyik!!!

Bisa untuk bisnis.

Atau sekedar hobby pengisi waktu luang.

 

Call / sms;

IWAN

02170555890

www.e1creative.net

 

INFO PEMESANAN

Kontak:

IWAN

02170555890

089637776669

www.lukiskain.com

www.e1creative.net

Jl.Pesantren Al-Makmur RT.01 RW.04 No.65 Kreo, Ciledug, Tangerang, Indonesia

Hubungi 0812 8110 6669 Batik Nulaba. Grosir Batik Yudistira Batik Pekalongan Murah.Baju batik yang murah dengan kualitas unggulan.Mau?

Grosir Batik Yudistira Batik Pekalongan Murah.

 

Penjelasan mengenai cara membatik sangat dibutuhkan khususnya bagi

mereka yang belum mengetahui sama sekali tentang seni batik, sehingga

dapat meningkatkan penghargaan terhadapnya. Dengan melihat polapola

batik saja atau melihat kain batik yang telah jadi, orang tidak akan

paham betapa banyak pekerjaan yang diperlukan untuk membuat sehelai

kain batik dan tidak dapat menduga faktor-faktor teknis dan non-teknis

yang menyebabkan bahwa dalam seni batik tulis selalu terdapat unsur

khusus yang menyebabkan setiap helai kain batik bisa berbeda dari yang

lain walaupun pola dan susunan warnanya dibuat persis sama.

Inilah sebabnya mengapa dirasakan perlu memuat bab mengenai

cara membatik dalam buku pola ini. Perlu ditekankan bahwa kebanyakan

bahan yang dipakai dalam menyusun bab ini diambil dari buku-buku yang

terkenal seperti Rouffaer dan Jasper/Pirngadi ditambah dengan

wawancara-wawancara.

Inti cara membatik ialah “cara penutupan” , yaitu menutupi bagian

kain atau bahan dasar yang tidak hendak diberi warna dengan bahan

penutup, dalam hal ini berupa lilin. Mungkin dalam permulaannya lilin

diteteskan pada kain, oleh karena itu ada faham yang mengembalikan

arti kata batik pada suku kata “tik” yang berarti titik atau tetes.

Bahan utama bagi teknik membatik sekarang ini adalah kain putih,

baik yang halus ataupun yang kasar, dan lilin sebagai bahan

penutupserta zat warna. Kulitas kain putih sangat mempengaruhi hasil

seni batik, dalam bab mengenai sejarah batik telah dikemukakan bahwa

kehalusan kain putih yang di impor dari luar negeri merupakan salah satu

sebab bertambah tingginya seni batik. Jadi makin halus kain putih yang

dipakai makin bagus hasil pembatikan , makin jelas terlihat pola-pola

serta pembagian warna-warnanya. Bahan lain seperti sutera shantung

dapat pula dipakai, tetapi sekarang ini sudah jarang sekali. Kota Juwana

di pantai utara pulau Jawa dahulu termashur akan selendang serta

sarung batik suteranya. Hasil-hasil batik sutera “diekspor” ke pulau Bali

dan Sumatera. Sayang sekali kekurangan bahan sutera shantung murni

menyebabkan hilangnya kerajinan di kota tersebut.

Kalau dahulu dipakai lilin lebah sebagai satu-satunya bahan

penutup, maka dengan adanya industri serta pertambangan minyak

tanah dewasa ini banyak dipakai lilin buatan pabrik (paraffine, microwax,

dll), baik murni atau dicampur dengan lilin alam. Lilin memang merupakan

bahan penutup yang tepat bagi teknik karena mudah dituliskan pada kain,

tetap melekat sewaktu dicelupkan dalam cairan warna, dan mudah pula

dihilangkan apabila tak dipergunakan lagi. Di samping lilin lebah atau

buatan, dahulu juga dipakai bahan penutup lain yaitu bubur beras ketan,

seperti pada kain Simbut Jawa Barat.

Lilin penutup hanya dapat dituliskan dalam bentuk cair; oleh karena

itu pembatik harus memanaskan lilinnya dalam sebuah wajan kecil yang

ditaruh di atas api dalam suatu anglo. Suhu lilin haruslah tepat, tidak

boleh terlalu panas atau terlalu dingin. Kalau terlalu panas, lilin akan jauh

meresap ke dalam kain, sehingga kemudian sukar untuk dibuang,

sedangkan kalau tidak cukup panasnya akan terlalu kental sehingga

sukar keluar dari alat penulis. Oleh karena itu kita lihat pembatik

mengangkat wajannya dari api kalau dilihatnya bahwa lilinnya sudah

terlalu panas.

Lilin cair dituliskan pada kain putih dengan suatu alat yang menjadi

tanda khas seni batik tulis, yaitu canting. Canting terbuat dari bambu dan

tembaga. Gagang atau tempat memegang terbuat dari bambu sedangkan

kepalanya yang dipakai untuk menyendok serta mencucurkan lilin terbuat

dari tembaga. Mulut canting berupa pembuluh bengkok yang besarnya

berbeda-beda dan dari mulut ini melelehlah cairan lilin, dapat

diumpamakan dengan sebuah pulpen. Kain putih yang dilampirkan pada

sebuah gawangan bambu atau kayu dipegang dengan tangan kiri

sebagai tatakan, sedangkan tangan kanan memegang canting.

Seperti diketahui bahwa Pulau Jawa merupakan pusat

berkembangnya batik di Indonesia sehingga istilah-istilah yang lazim

dipakai dalam dunia batik kebanyakan menggunakan kata-kata dalam

bahasa Jawa. Adapun untuk mudahnya sebagai contoh dipakai proses

pembuatan kain soga daerah Surakarta dan Yogyakarta dengan

tatawarna sawo matang (coklat), biru tua atau hitam dan putih, sehingga

tahapan dalam proses batik dalam uraian ini disesuaikan dengan kain

soga tersebut. Pemakaian zat warna kimia yang biasa dipakai sekarang

ini sebenarnya tidak merubah urutan tahap, hanya mempersingkat saja.

Lazimnya dapatlah dibedakan tahap-tahap sebagai berikut:

1.3.1. Pengolahan persiapan kain putih

Pengolahan persiapan kain dimaksudkan supaya lilin mudah melekat dan

tidak mudah rusak sewaktu mencelup, dan disamping itu juga zat-zat

warna mudah meresap. Dahulu bahan tumbuh-tumbuhan merupakan

satu-satunya sumber pengolahan persiapan yang utama, walaupun zatzat

tersebut meresapnya lambat. Pengolahan ini terdiri atas mencuci kain

putih yang telah dipotong-potong dengan air bersih agar supaya hilang kanji perekatnya, kemudian diremas serta direndam dalam minyak jarak

(Ricinus Communis L.) atau kacang (Arachis hypogala). Ini dinamakan

ngetel atau nglyor. Untuk menghilangkan kelebihan minyak, maka kain

direndam dalam air saringan abu merang. Menurut cara modern, merang

ini diganti dengan larutan soda, yang dapat mempercepat waktu dan

lebih mudah dipakai. Pada mulanya diseling-seling dengan penjemuran

dipanas matahari, sehingga memakan waktu berhari-hari. Kain putih yang

telah mendapat pengolahan ini kemudian dilicinkan dengan menaruhnya

di atas sebilah kayu dan memukul dengan pemukul kayu pula

(ngemplong). Dengan demikian kain siap untuk menjalani tahap

selanjutnya.

1.3.2. Menggambar pola

Menggambar pola (nyorek) atau gambaran pertama dengan lilin cair

diatas kain. Pada tahap ini si pembatik yang duduk di atas sebuah

bangku kecil atau bersila di muka gawangannya, menyendok lilin cair dari

wajannya dengan canting lalu mulai membuat garis-garis atau titik-titik

sesuai dengan pola yang dikehendakinya, dengan posisi canting harus

tepat, tidak boleh terlalu miring atau terlalu tegak.

Canting mengikuti pola-pola yang telah digambar terlebih dahulu

oleh seorang tukang pola atau kalau pembatik itu telah mahir sekali ia

akan menggambar luar kepala. Gambaran lilin ini kemudian diteruskan

pada belahan yang kemudian akan menjadi bagian dalam kain batik, oleh

karena itu nama pekerjaan ini ialah nerusi. Itu sebabnya pula mengapa

bahan kain putih yang dipakai tidak boleh terlalu tebal, karena kalau tidak

akan menyukarkan pekerjaan meneruskan gambaran pertama itu.

1.3.3. Nembok

Nembok atau pekerjaan menutupi bagian-bagian yang tidak boleh kena

warna dasar. Bagian kain yang tidak boleh terkena warna dasar, dalam

hal ini warna biru tua, ditutup dengan lapisan lilin tebal yang seolah-olah

merupakan tembok penahan, itulah sebabnya pekerjaan ini dinamakan

menembok, dikarenakan juga dikerjakan pada bagian sebelah dalam

kain. Penembokan adalah tahap penting dalam pembuatan kain batik,

karena apabila lapisan kurang kuat, warna dapat menembus dan akan

merusak seluruh kain atau warna yang telah direncanakan. Selesai

menembok maka kain siap untuk tahap yang berikut yaitu pencelupan

pertama mendapat warna dasar.

1.3.4. Pencelupan pertama

Pencelupan pertama dilakukan untuk mendapat warna dasar biru disebut

“medel”. Dahulu, ketika pencelupan ini dilakukan semata-mata dengan

zat warna yang berasal dari tumbuh-tumbuhan yaitu indigo atau nila (Indigofera Tinctoria L.), pekerjaan ini memakan waktu berhari-hari,

diselingi dengan penjemuran di tempat yang teduh atau dianginanginkan.

Tukang celup atau pengusaha batik masing-masing mempunyai

rahasia ramuannya sendiri-sendiri yang diwariskan turun temurun.

Berbagai macam bahan dimasukkan ke dalam jambangan celup, dari

gula kelapa, tape, pisang kelutuk sampai kepada potongan-potongan

daging ayam. Semuanya untuk menambah sinar serta gemilangnya

warna biru nila atau indigo yang sampai sekarang belum terkalahkan

indahnya. Dewasa ini, dengan pemakaian zat warna kimia, telah banyak

hilang sifat misterius pencelupan. Zat warna kimia seperti napthol atau

indigosol yang umum dipakai hanya memakan beberapa menit untuk

meresap. Walaupun demikian untuk dapat menghasilkan kain batik yang

baik warnanya, masih tetap diperlukan “tangan dingin” disamping

pengetahuan akan campuran kimia.

1.3.5. Ngerok (nglorod)

Pekerjaan ini maksudnya untuk membuang lilin penutup dari bagianbagian

yang nanti akan diberi warna sawo matang (soga). Caranya ialah

dengan memasukkan kain ke dalam air yang mendidih, sehingga lilin cair

kembali atau dengan jalan mengerik atau mengerok dengan alat cawuk

yang dibuat dari plat seng. Cara pembuatan lilin dengan memasukkan

kain ke dalam air mendidih adalah lebih baik dari mengerok, karena pada

pengerikan mungkin tidak selalu bersih dan teliti sehingga mempengaruhi

gambaran nanti setelah disoga.

1.3.6. Mbironi

Bagian yang telah mendapat warna biru dan yang tidak boleh terkena

soga kemudian ditutup lagi dengan lilin dan pekerjaan ini maka kain telah

siap untuk tahap berikutnya yaitu pencelupan dalam soga untuk

mendapat warna coklat.

1.3.7. Menyoga (mencelup dalam zat warna coklat)

Menyoga berasal dari soga (Peltophorum Ferrugineum Benth), yaitu

salah satu kayu-kayuan yang dipakai untuk mendapat warna coklat.

Untuk mendapat warna coklat ini diperlukan juga berbagai campuran,

masing-masing menurut resep rahasianya sendiri-sendiri berbeda

menurut daerah atau kota.

Ada yang menyukai warna coklat muda keemasan ada yang

senang kepada yang lebih tua kemerahan (Madura) dan lain-lain variasi.

Warna coklat yang berasal dari zat warna kimia tidak memerlukan

pekerjaan yang lama, cukup dengan mencelup dalam campuran warna

yang memakan waktu tidak sampai setengah jam lamanya. Setelah pencelupan dalam soga, maka kain siap dengan pemberian warnanya

dan dapatlah dibuang lilin seluruhnya (nglorod).

Kadang-kadang diperlukan suatu pekerjaan lagi yaitu nyareni yang

gunanya supaya warna coklat itu tetap dan bertambah bagus. Air aren

terdiri atas air kapur dengan campuran beberapa zaat tumbuh-tumbuhan.

Seringkali pekerjaan memberi saren ini oleh beberapa pembatik dianggap

sama pentingnya dengan menyoga. Setelah lilin dibuang seluruhnya

maka tampaklah kain batik dengan warna-warna dasar biru tua dengan

gambaran sawo matang diseling dengan warna putih gading.

Demikian secara singkat tahap-tahap yang harus dilalui sebelum

tercipta sehelai kain batik tulis. Makin sulit pola serta banyak susunan

warnanya semakin lama pula pembuatannya.

Pada permulaan bab ini telah diutarakan bahwa sebagai contoh

diambil pembuatan kain soga corak Yogyakarta atau Surakarta. Hal ini

perlu sebab berbagai daerah di Pulau Jawa ini mempunyai corak serta

keragaman dalam pola serta tatawarna yang dapat menjadi petunjuk

bagi kita darimana asal sehelai kain. Perbedaan pola sebenarnya tidak

terlalu banyak. Dalam bagian berikutnya akan disajikan macam-macam

corak, tatawarna dalam seni batik dari beberapa daerah yang sejak

dahulu terkenal sebagai pusat pembatikan.

Daerah Surakarta dan Yogyakarta yang lazim dianggap sebagai

pusat kesenian batik terkenal karena tatawarna biru tua sebagai warna

dasar, coklat soga dan putih. Dalam pemilihan warna putih saja, kedua

daerah yang letaknya sangat berdekatan itu, berbeda. Kain-kain dari

Yogyakarta warna putihnya itu putih bersih, sedang di Surakarta warna ini

lebih kekuningan gading.

Bergerak ke arah barat, ke daerah Banyumas yang pengaruhnya

terasa sampai ke Tasikmalaya dan Garut, akan terlihat bahwa tatawarna

yang digemari ialah warna kuning keemasan dikombinasikan dengan

soga coklat muda serta biru tua kehitaman.

Di pantai utara Jawa Barat mulai dengan daerah Indramayu, orang

gemar memakai warna biru, tetapi daerah Cirebon sendiri dengan kraton

Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan, mempunyai pusat pembatikan

di Trusmi dan Kalitengah dengan pola serta tatawarna yang khas. Melihat

pola serta warna-warna kain “megamendung” yang memakai teknik

bayangan berlapis kadang-kadang sampai 7 banyaknya orang pasti akan

kagum. Batik “kraton” dengan pola-pola gunung, taman dengan segala

macam binatang berwarna kuning gading tidak kurang indahnya.

Mulai dari daerah Cirebon menyusur pantai ke arah timur sampailah

ke pusat pembatikan daerah Pekalongan dengan kainnya yang berwarna

modern. Kalau dahulu warna-warna ini terbatas pada pemakaian warna

merah, biru, putih dan hijau, maka berkat zat warna kimia tidak terbatas

kemungkinan warna yang dipakai, sehingga kain-kain daerah Pekalongan

dewasa ini paling menyolok tatawarnanya. Terus lagi ke arah timur

menjelajahi daerah utara Jawa Tengah dan Jawa Timur, menjumpai kotakota

batik yang terkenal seperti Kudus, Juwana, Rembang, Lasem, Gresik sampai Surabaya, akan terlihat tatawarna yang khas pula, sangat

terpengaruh oleh selera etnis Tionghoa. Pulau Madura sebagai penutup

bunga rampai ini sejak dahulu mempunyai kegemaran akan warna soga

kemerahan. Warna coklat merah ini diperoleh karena campuran soga

dengan mengkudu (Morinda citrofolia) sebagai penghasil zat warna

merah.

Pemakaian zat warna kimia menghilangkan perbedaan tatawarna

menurut daerah. Pekalongan kini sanggup meniru kombinasi warna dari

berbagai daerah. Surakarta dan Yogyakarta juga demikian. Masingmasing

pusat pembatikan mengikuti selera khalayak ramai mengenai

kombinasi warna tertentu yang paling laku saat itu. Upaya-upaya perlu

dilakukan agar pemakaian zat warna dari tumbuh-tumbuhan ini dapat

hidup kembali dan tentunya tanpa memakan waktu yang lama untuk

memperoleh warna yang diinginkan.

1.4. Pembagian pola batik

Pembagian atau penggolongan pola-pola batik bukanlah pekerjaan yang

mudah, oleh karena itu setiap hasil yang diperoleh akan selalu bersifat

garis besar dan semata-mata dimaksudkan untuk pegangan bagi

pembaca atau peneliti.

Pada permulaan abad ini Rouffaer dalam bukunya mencoba

mengumpulkan nama-nama pola batik yang terkenal dan berhasil

mengumpulkan sebanyak 3000 macam. Dalam jangka waktu sejak

ditulisnya buku tersebut sampai kepada terbitnya buku ini tentu seni batik

terus mengalami perkembangan, demikian pula pola-pola bertambah

banyak jenisnya, berganti-ganti muncul dan hilang mengikuti perubahan

selera pemakaiannya. Pola batik dapat dibagi menjadi dua yaitu: pola

geometris dan pola non-geometris.

1.4.1. Pola geometris

Pola “banji”

Pola Banji termasuk salah satu pola batik yang tertua, berupa silang yang

diberi tambahan garis-garis pada ujungnya dengan gaya melingkar

kekanan atau kekiri. Motif yang seperti ini terkenal di berbagai

kebudayaan kuno di dunia ini dan sering disebut swastika. Di Nusantara

pola ini tidak terbatas pada seni batik saja, tetapi dapat dijumpai pula

sebagai hiasan benda-benda lain yang tersebar dibanyak pulau.

Nama “Banji” berasal dari kata-kata Tionghoa “Ban’ berarti sepuluh,

dan “Dzi” yang artinya ribu, perlambang murah rejeki atau kebahagiaan

yang berlipat ganda. Melihat atau mendengar nama ini, maka dapat

diperkirakan bahwa pola banji masuk ke dalam seni batik sebagai akibat

pengaruh kebudayaan Tionghoa. Seperti telah diketahui bahwa pada tahun 1400 Masehi, di pantai utara

Pulau Jawa telah banyak orang-orang Tionghoa yang menetap, dan yang

dalam pada itu tentu membawa perbendaharaan kebudayaan mereka

yang kuno dan kaya itu. Hal ini nampak pada banyaknya peninggalan

berupa barang pecah belah Tionghoa yang sampai kini masih tersebar di

pantai utara dan di banyak bagian lain kepulauan Indonesia, sehingga

tidaklah mustahil bahwa penduduk asli yang sudah lama berkenalan

dengan para pendatang Tionghoa mengambil serta meniru pola-pola

hiasan.

Mereka yang menyangkal pengaruh kebudayaan Tionghoa

menunjuk kepada nama Jawa asli yang dipakai untuk pola ini yaitu :

Balok bosok, artinya kayu yang busuk, karena pola banji menyerupai

balok-balok bersilang yang dimakan bubuk.

Pola banji dalam seni batik mengalami bermacam perubahan dan

diberi hiasan-hiasan tambahan, misalnya seringkali diseling dengan

daunan atau rangkaian bunga-bungaan, sedemikian rupa hingga sukar

untuk mengenal kembali silang banjinya.

Pola “ceplok” atau “ceplokan”

Pola yang sangat digemari, terdiri atas garis-garis yang membentuk

persegi-persegi, lingkaran-lingkaran, jajaran-jajaran genjang, binatangbinatang

atau bentuk-bentuk lain bersegi banyak. Bila diteliti benar-benar

maka terlihat bahwa pola ceplok ini berupa stiliring atau abstraksi

berbagai benda, misalnya saja bunga-bunga kuncup, belahan-belahan

buah, bahkan binatang-binatang. Itulah sebabnya banyak diantara motifmotif

ini memakai nama kembang atau binatang.

Selain sangat digemari pola ini juga sangat tua usianya, hal ini

terlihat pada beberapa peninggalan candi terdapat hiasan-hiasan yang

menyerupai atau mengingatkan kita pada pola ceplok ini. Dalam

golongan pola ceplokan ini dapat juga dimasukkan pola yang lazim

dikenal dengan nama pola ganggong. Berbagai-bagai tafsiran para ahli

mengenai asal-usul pola ini. Jasper dalam bukunya yang terkenal

mencari asalnya pada semacam tumbuh-tumbuhan dipaya-paya yang

buahnya kalau dibelah dua menunjukkan gambaran yang mirip dengan

pola batik ganggong. Tetapi harus diingat bahwa inipun hanya salah satu

diantara sekian banyak keterangan mengenai asal pola ini. Ada yang

menganggap pola genggong sebagai pola yang berdiri sendiri, karena

menunjukkan beberapa ciri yang khas, berupa binatang-binatang atau

silang-silang yang ujung jari-jarinya melingkar seperti benang sari bunga.

Pola ganggong inipun mengalami bermacam-macam variasi.

Pola “kawung”

Pola ini sebenarnya dapat digolongkan dalam motif ceplokan, tetapi

karena kunonya dan juga karena sifat-sifatnya yang tersendiri dijadikan

golongan yang terpisah.

Pola ini tergolong kuno, hal ini dapat dilihat pada pahatan/ukiran

Candi Prambanan yang didirikan kira-kira pada abad VIII Masehi dan

juga pada beberapa peninggalan lain. Mengenai asal-usul pola ini

terdapat perbedaan faham. Ada yang mengembalikan pola ini kepada

buah pohon aren atau kawung, karena belahan buah aren itulah yang

menjadi dasar pola kawung. Tetapi Rouffaer misalnya, berpendapat

bahwa pola kawung berasal dari suatu pola kuno yang lain yaitu pola

grinsing. Pola grinsing ini telah disebut dalam sumber-sumber tertulis

silsilah raja yang bernama Pararaton (abad ke-14). Pola yang terdiri atas

lingkaran-lingkaran kecil dengan sebuah titik di dalamnya tersusun

seolah-olah sisik ikan atau ular, menjadi penghias latar/dikombinasikan

dengan motif lain. Sumber-sumber dari Jawa Timur tahun 1275

menyebutnya bersamaan dengan motif wayang, misalnya grising. Grising

inilah kemudian berkembang serta berubah menjadi pola kawung. Pola

kawungan bermacam-macam ragamnya, berbeda menurut besarkecilnya

ukuran yang dipakai, sangast digemari di kalangan Kraton

Yogyakarta tempat ia pernah menjadi pola larangan, artinya yang dalam

bentuk murninya hanya boleh dipakai oleh Sri Sultan serta keluarganya

yang terdekat.

Pola “nitik”

Dari nama pola ini orang akan mendapat kesan sifat atau rupanya, yaitu

titik-titik atau garis-garis pendek yang tersusun secara geometris,

membentuk pola yang meniru tenunan atau anyaman. Mereka yang

mencari asal-usul teknik batik pada tetesan atau titik-titik lilin (kata tik),

menganggap pola ini sebagai pola yang tertua. Diantara sekian banyak

pola nitik, yang terkenal ialah pola Cakar Ayam dan Tirtateja.

Pola garis miring

Merupakan pola yang susunannya miring atau diagonal secara tegas.

Ada dua macam pola yang termasuk golongan ini yaitu pola parang dan

lereng.

Pola yang paling terkenal serta digemari diantara pola garis miring

ini adalah pola parang. Adapun tanda atau ciri pola parang ini ialah lajurlajur

yang terbentuk oleh garis-garis miring yang sejajar berisikan garisgaris

pengisi tegak, dan setiap lajur terpisah dari yang lain oleh deretan

ornamen yang bergaya miring juga, dinamakan mlinjon. Kata mlinjon

dipakai disini oleh karena motif pemisah tadi berbentuk jajaran genjang

kecil, menyerupai buah mlinjo. Nama parang ialah nama pencakup, sebab motif inipun mempunyai banyak ragam. Yang termasyur

diantaranya ialah pola Parang Rusak. Banyak teori dan pendapat

dikemukakan orang berhubung dengan asal-usul pola ini. Ada yang

mencari akarnya dalam sejarah Jawa kuno, misalnya dengan Raden

Panji. Nama parang sering mengingatkan orang pada pisau atau keris,

itulah sebabnya ada yang mencari sumber pola ini pada stiliring daripada

keris atau pisau. Sering pula dikatakan, bahwa lahirnya pola ini diilhami

oleh tokoh Sultan Agung dari Mataram (1613 – 1645). Tetapi telah

menjadi kenyataan bahwa pola Parang Rusak menjadi larangan, artinya

hanya boleh dipakai oleh sang raja sendiri atau keluarganya yang

terdekat. Hal ini masih dipegang teguh sampai sekarang di dalam

lingkungan tembok kraton, walaupun diluar istana tidak dihiraukan lagi

larangan ini. Nama-nama yang diberikan kepada beberapa macam pola

Parang Rusak berbeda menurut ukuran polanya. Parang rusak dengan

ukuran yang terkecil dinamakan Parang Rusak Klitik, yang agak besar

dinamakan Parang Rusak Gendreh, dan yang terbesar Parang Rusak

Barong. Pola yang disebut terakhir ini mempunyai proporsi serta

kesederhanaan pola yang menimbulkan suasana keagungan, hingga

dapatlah dimengerti mengapa dikalangan istana Jawa Tengah dianggap

keramat dan hanya boleh dipakai oleh sang raja sendiri atau sebagai

sajian tertentu kepada para leluhur.

Motif-motif lain dapat pula disusun menurut pola garis miring dan

contoh yang terkenal ialah pola udan liris dan rujak senthe, yang karena

kehalusan motif-motif yang disusun miring itu seolah-olah menyerupai

hujan rintik-rintik atau liris.

1.4.2. Pola Non-Geometris

Pembuatan pola-pola non-geometris ini tidak terbatas karena si pencipta

pola tidak begitu terikat oleh ukuran atau gaya-gaya tertentu. Walaupun

demikian akan terlihat bahwa tradisi masih memegang peranan yang

penting mengenai tata susunan pola.

Pola Semen

Semen berasal dari kata “semi+an” yang berarti kuncup-kuncup, daun

dan bunga-bunga. Untuk memberi pegangan dalam membedakan sekian

banyak macam pola semen, para penyelidik batik membuat pembagian

berdasarkan beberapa persamaan yang terlihat, yaitu :

• Pola semen yang hanya terdiri atas kuncup daun-daunan

serta bunga-bunga (misalnya : pola pisang Bali, kepetan).

• Pola semen yang terdiri atas kuncup-kuncup, daun serta

bunga-bungaan dikombinasikan dengan motif binatang

(misalnya: pakis, peksi, endol-endol, merak kesimpir).

• Pola semen yang terdiri atas gambaran tumbuh-tumbuhan,

binatang-binatang, ditambah dengan motif sayap atau Lar.

Motif Lar atau sayap ini merupakan pelengkap pada pola

semen, dan dalam perbendaharaan ornamen batik mengenal

tiga bentuk yaitu : Lar, Mirong dan Sawat. Lar berupa sayap

tunggal, sedangkan Mirong ialah sayap kembar. Motif Sawat

yang sejak dahulu kala dianggap sebagai pola raja-raja

adalah sayap kembar lengkap dengan ekor yang terbuka.

Asal-usul motif sawat tidak jelas, Rouffaer menggalinya

dalam sejarah perlambang kerajaan Mataram di bawah

Sultan Agung, sebagai lambang kejayaan.

Masih banyak lagi pola-pola yang tidak bersifat geometris. Daerah

yang terkenal dengan nama Pesisir dimana orang tidak begitu terikat oleh

tradisi kraton-kraton, menjadi tempat asal pola yang beraneka ragam.

Cirebon dengan pola-pola tidak geometris yang menggambarkan

gunung-gunung, batu-batu, kolam-kolam serta binatang-binatang diselingi

dengan rangkaian tumbuh-tumbuhan serta bunga-bungaan.

Pola seperti yang terdapat dalam selendang-selendang sutera atau

Lookcan dari Pantai Utara Jawa Tengah dan Timur, dengan burungburung,

bunga-bunga serta binatang-binatang lain, memperlihatkan

campuran pengaruh berbagai ragam seni hias yang berasal dari berbagai

kebudayaan. Semuanya itu kita coba sajikan dalam buku ini. Mudahmudahan

dapat memberikan gambaran kepada para pembatik dan

penggemar seni batik tentang kekayaan pola-pola seni batik Indonesia.

 

Grosir Batik Yudistira Batik Pekalongan Murah

#GrosirBatik, #PekalonganMurah, #YudistiraBatik Grosir

www.batiknulaba.com/grosir/grosir-batik-yudistira-batik-p...

  

Dua gentong berusia ratusan tahun itu bagai sepasang manusia renta yang tercampakkan. Keduanya duduk muram di sudut kamar paling belakang. Menekur diam. Bibirnya berlumur lelehan pewarna yang pekat dan sudah mengering.

 

Menatap gentong tua itu tiba-tiba aku seperti melihat bayangan ibumu. Melihat kedua tangannya yang berwarna kerak nasi dan telah menghasilkan lembar-lembar batik gentongan, yang sebagian dijual dan sebagian lagi sudah dipersiapkan untuk pernikahanmu, sebagaimana kewajiban seorang ibu memersembahkan hadiah itu, meskipun sudah pernah kautegaskan bahwa itu tidak perlu!

 

Dialah perempuan Tanjungbumi yang tak lelah menyunggi tradisi meskipun berkelindan dengan sepi.

 

***

 

Lepas hari ketujuh, para tetangga tak lagi bertandang. Tentu mereka kembali sibuk dengan kain mori, lelehen lilin dan gentong, yang sempat ditinggal selama sepekan karena ikut bantu-bantu di sini, di rumahmu.

 

Sepulang dari pekuburan di penghujung senja, setelah menyirami pusara ibumu dengan air bunga dan doa, aku mampir ke rumahmu. Kunyalakan lampu di teras, di ruang dalam, di kedua sudut belakang rumah dan di pojok halaman. Kutatap tembok bercat putih gading, plafon, lantai mengilap, lemari yang masih baru, pintu kayu berukir, sofa, semua hanya benda-benda asing yang nanti takkan pernah memberi kenangan apa pun padamu! Percayalah!

 

Tali jemuran yang membentang di tepi halaman, tempat ibumu mengangin-anginkan kain batik yang baru dicelup pada pewarna, juga pohon jambu biji di belakang rumah yang kini mulai menguning daun-daunnya, keduanya akan mengasingkan dirimu, seperti kawan lama yang enggan menyapa.

 

Hanya pada dua gentong tua itu akan kautemukan bayangan ibumu. Bersama benda peninggalan leluhur itulah ibumu berkarib memilin sepi. Menunggumu pulang dengan kerinduan berkelindan. Dan kini, benda tua itu tampak muram ditinggal pemiliknya. Gelap yang tersisa saat kulongokkan kepala, mengintip ke dalam. Mirip bilik dada ibumu; tak tertebak bagai lorong rahasia yang panjang.

 

Dalam gentong tua itulah ibumu mencelup dan merendam kain mori yang sudah direngreng dan dipolesi lelehan lilin, untuk mewarnainya, menggunakan pewarna dari kulit mengkudu, kulit mundu campur tawas, daun tarum, kulit pohon jati, dan pewarna-pewarna alami lain.

 

Kain mori yang sudah direndam sekian lama diangkat, dianginkan, lalu dicelup lagi. Dianginkan lagi, dicelup lagi. Dianginkan lagi. Dicelup lagi. Lalu direndam lagi. Satu lembar kain batik membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk menghasilkan warna yang pekat dan lekat. Sungguh suatu proses panjang dan melelahkan. Aku yakin, dari proses pekerjaan itulah kesabaran serta keteguhan ibumu terlatih. Tangannya sampai berwarna kerak nasi. Bahkan sewaktu kecil kau selalu menolak disuapi menggunakan tangannya yang cokelat kehitaman.

 

Sempat terlintas di benakku, apakah warna pekat dalam gentong tua itu yang telah menyuramkan kehidupan ibumu, atau justru kelahiranmu yang telah melurup cahaya dalam kehidupannya?

 

Kata ibumu, kau lahir pada Ahad legi surup hari, ketika beras di dapur tinggal sekenyang burung, dan ayahmu sedang melaut meninggalkan dompet kosong. Ibumu melahirkan dalam kesendirian menjelang gelap malam, di usia kandungan belum genap sembilan bulan. Pertolongan pertama diberikan seorang ibu tetangga terdekat yang mendengar jerit tangis pertamamu, yang tak lain adalah ibuku.

 

Air susu ibumu yang hanya setetes-duatetes kekuning-kuningan membuatmu menangis lapar siang dan malam. Daun katuk, daun pepaya, tidak banyak membantu kesuburan air susunya. Akhirnya, hasil ayahmu melaut semakin tak mencukupi kebutuhan karena harus membeli susu formula. Apalagi dengan mengasuhmu yang rewel, ibumu tak lagi bisa membatik untuk membantu bergeraknya roda ekonomi keluarga.

 

Utang terus bertambah demi memenuhi kebutuhan sehari-hari, membuat ibumu tak berani mencegah saat ayahmu meminta izin membuka usaha warung makan di Pasar Blega, mengikuti jejak sepupunya yang sukses membuka usaha di sana.

 

Dengan menggadaikan sepetak tanah untuk modal dan uang sewa lokasi, ayahmu berangkat setelah menggelar acara timangan di usiamu yang menginjak 40 hari, dan telah menambah tumpukan hutang demi acara itu.

 

Enam bulan ayahmu bolak-balik Blega-Tanjungbumi, pulang setiap Kamis sore, kembali ke Blega pada jumat pagi. Menginjak bulan ke tujuh, ayahmu mengajak ibumu membantu usahanya yang mulai ramai pelanggan. Kau disuruh titipkan pada bibi, adik kandung ayahmu yang belum dikaruniai keturunan meskipun sudah empat tahun menikah. Apalagi kau memang tidak menyusu. Akan tetapi, ibumu menolak ikut dan meminta cari orang lain untuk membantu pekerjaan ayahmu.

 

“Dia masih terlalu kecil untuk dititipkan.” Jelas ibumu saat bercerita pagi itu, ketika kau memintaku menemuinya setelah kaukirimkan sejumlah uang untuk merenovasi rumah.

 

“Kenapa tidak membawanya ikut serta?” tatapku.

 

“Masalahnya, kalau semua pergi, rumah ini jadi kosong, tidak ada yang menempati dan merawatnya.”

 

Alasan ibumu, seraya memberi noktah pada hamparan kain mori dengan canting yang baru dicelupkan pada lelehan lilih. Aroma lilin yang didih dalam wajah lebih kukenali sebagai aroma perempuan di kampung ini.

 

Sekarang baru aku mulai mengerti alasan ibumu tidak sesederhana itu.

 

Apakah kau masih ingat? Menginjak usia delapan belas tahun, ketika kau meminta izin melanjutkan pendidikan ke luar Madura, wajah ibumu berubah sendu seperti langit tersaput awan kelabu.

 

“Tidak usah jauh-jauh!”

 

“Masih di seputar Jawa.”

 

Sudah biasa kulihat kau merajuk setengah memaksa.

 

“Keluar dari kampung sendiri namanya tetap jauh. Tidak baik bagi anak perempuan!”

 

Bukan hanya sekali kudengar pertanyaan bernada protes kau ajukan untuk hal-hal lain, ketika terbentur aturan sebagai anak perempuan. Bahkan sewaktu kecil, ketika ibumu melarang memanjat pohon jambu biji, kau pun menunjukkan protes yang sama. Padahal waktu itu aku yakin, kau bisa memanjat lebih tinggi mengalahkanku. Akibatnya, kau hanya bisa menengadah di bawah seraya mengemis lemparan dariku yang nangkring kegirangan di dahan sambil mengunyah jambu biji yang sudah matang. Kau semakin merengut kesal karena tidak segera kulempari buah jambunya, justru kulit sepahan yang sengaja kusemburkan ke bawah sambil tertawa mengejek. Penuh kemenangan.

 

Aku yakin hatimu merutuk geram karena terlahir sebagai anak perempuan yang terlalu banyak dikenai aturan!

 

“Kau bisa melanjutkan sekolah di sini.” Jawab ibumu, setelah diam sesaat.

 

“Sukdi melanjutkan ke Jogja! Masa aku di Madura terus?” sungutmu.

 

Untuk ke sekian kali aku tersenyum menang.

 

“Dia laki-laki!”

 

Weeeek!

 

Kujulurkan lidah, mengejekmu seperti biasa.

 

“Apa bedanya laki-laki dan perempuan? Nilaiku lebih tinggi dari nilainya!” kejarmu tak terima.

 

Ibumu tidak menyahut.

 

Kemampuanku memang selalu di bawahmu dalam hal apa pun, termasuk nilai mata pelajaran. Hari libur, waktu yang biasa kau habiskan dengan mengulang pelajaran untuk menghadapi ujian malah kupergunakan untuk membantu ibu menguliti pohon jati dan mengkudu. Kadang aku juga membantu ibumu. Aku beruntung saja karena terlahir sebagai laki-laki yang selalu dianggap lebih istimewa dari anak perempuan.

 

Saat itu kau tetap berkeras hati mendapatkan kesempatan yang sama sepertiku. Jelas tidak mau sekadar menengadah sebagaimana yang pernah kau lakukan di bawah pohon jambu

 

Biaya pendidikan kau peroleh dari pemberian ayahmu yang disimpan oleh ibumu. Sejak mendengar ayahmu menikahi perempuan yang telah membantu usaha warung makannya dan hanya sesekali pulang untuk menyerahkan uang, ibumu tidak pernah menggunakan uang itu, kecuali untuk kebutuhanmu jika ia sudah merasa tidak mampu.

 

Keteguhan hasratmu membuat ibumu kembali terjebak dalam kepentingan dan kebutuhan di luar keinginan dirinya. Ia terpaksa melepasmu pergi dengan hati terkunci, hingga kita tidak bisa membaca apa yang tersimpan di bilik dadanya.

 

Setelah kuliah kau selesaikan dengan prestasi gemilang, dengan mudah kau memeroleh pekerjaan mapan bergaji besar di tanah rantau, hasrat dan dendammu pun menjulang. Hendak kau buktikan pada kampung halaman bahwa perempuan juga mampu mendulang kesuksesan.

 

Hal yang sama terulang. Ketika ibumu usai bercerita tentang masa lalu pagi itu, lalu kusampaikan pesanmu, bahwa rumah yang selama ini ditinggali hendak kaurobohkan diganti dengan rumah yang baru tanpa ingin melibatkan sang ayah, sekali lagi ia memilih mengalah memeram desah.

 

Kau lupa satu hal, bahwa ibumu semakin tersuruk dalam lorong panjang yang kian suram. Tidak ada lagi rumah penyepuh kenangan, dan kau seolah lupa jalan pulang. Bahkan, setelah ibumu tiada pun kau tak sempat mengantarnya ke pekuburan, seolah kabar duka yang kukirim tak pernah sampai.

 

***

 

Ketahuilah! Setelah orangtua tiada, hilang rumah bagi anak perantau untuk pulang. Aku telah merasai itu. Setelah ibuku pergi, rumah yang tertinggal bagai tempat asing daalam persinggahan. Tidak punya tetangga. Tidak punya teman dekat. Hidupku terasing di kampung sendiri.

 

Sejak itu aku mulai mengerti. Rumah, yang pernah dipertahankan ibumu, tak lain adalah lingkungan tempat menjalin ikatan, tempat berbagi kasih sayang, membangun rasa kepedulian, melestarikan jejak warisan, yang seharusnya dirawat oleh sentuhan tangan perempuan.

 

Akan tetapi, barangkali kesempatan masih bisa kau gapai. Bukankah bagi perempuan Tanjungbumi, selain lingkungan ia masih memiliki gentong tua sebagai rumah pengabdian? Sejauh-jauh melambungkan angan di tanah rantau, pada warisan nenek moyang ia akan menemukan tempat untuk pulang, kecuali selamanya ingin jadi pengembara dan melupakan tanah kelahiran.

 

Apakah kau masih akan menyesal terlahir sebagai anak perempuan, Sum?

 

Muna Masyari, lahir 26 Desember 1985, tinggal di Pamekasan, Madura. Peraih Cerpen Terbaik Pilihan Kompas 2017. Muna sehari-hari bekerja sebagai penjahit pakaian untuk orang-orang sekitar desanya. Tahun 2010 sudah mengirim cerpen ke Kompas, tetapi baru tahun 2016 cerpennya “Celurit Warisan” dimuat. Cerpen ini pun kemudian lolos seleksi untuk buku Cerpen Plihan Kompas 2016.

 

Made Arya Dwita Dedok, lahir 10 Juni 1971 di Denpasar. Kini menetap di Magelang, Jawa Tengah. Menempuh pendidikan di SMSR Denpasar dan kemudian Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Pernah mengikuti residensi seniman di Vermont Studio Center, Johnson, Vermont, Amerika Serikat. Finalis kompetisi seni rupa UOB Bank Jakarta 2011.

 

[1] Disalin dari karya Muna Masyari

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” Minggu 23 Desember 2018

 

The post Gentong Tua appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 

via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2rTwPTI

www.e1creative.blogspot.com

   

www.e1creative.net

  

FABRIC PAINTING FASHION CRAFTS.

FABRIC PAINTING PRODUCTION.

FABRIC PAINTING PRIVAT COURSE.

FABRIC PAINT: TEXTILE, TEXTILE RELIEF, SILK, SYNTHETIC.

 

ALL ABOUT FABRIC PAINTING.

 

www.e1creative.blogspot.com

 

MELUKIS DIATAS KAIN.

 

Produksi lukis kain pada bermacam produk: jilbab, kerudung, bahan kain, busana muslim, kaos, sepatu, interior, crafts, dll.

 

Kursus privat lukis kain.

Mengajarkan lukis kain dengan beragam jenis kain dan cat, dan ragam tehnik lukis kain yang menghasilkan produk lukis kain yang indah.

 

Sedia cat lukis kain MM.

Jenis: textil, textil timbul, sutra, sintetik.

Mudah digunakan dan finishing hanya dengan setrika.

 

SEMUA TENTANG LUKIS KAIN ADA DISINI

 

www.e1creative.blogspot.com

 

e1creative@yahoo.com

 

iwan: 02170555890

 

painting on fashion & craft

 

Kerudung

   

painting on fashion & craft

  

www.e1creative.net

 

Selalu bersama teman-teman di Yahoo! Messenger. Tambahkan mereka dari email atau jaringan sosial Anda sekarang! id.messenger.yahoo.com/invite/

 

INFO PEMESANAN

Kontak:

IWAN

02170555890

089637776669

www.lukiskain.com

www.e1creative.net

Jl.Pesantren Al-Makmur RT.01 RW.04 No.65 Kreo, Ciledug, Tangerang, Indonesia

www.e1creative.net

www.e1creative.blogspot.com

www.mmcraft.wordpress.com

 

E1 CREATIVE

Menyelenggarakan KURSUS LUKIS KAIN bagi perorangan maupun kelompok. PRIVAT, DARMA WANITA, INSTANSI, GROUP, SOSIAL, DLL.

Mengajarkan berbagai tehnik melukis diatas kain, dengan menggunakan beberapa jenis cat lukis kain, dan ragam jenis kain.

 

Dengan tujuan agar peserta kursus dapat menguasai melukis kain diatas beragam produk berbasis kain.

 

MELUKIS KAIN ITU MUDAH !!!!!!

SIAPAPUN PASTI BISA.

Hanya butuh kesabaran, ketelatenan, dan ketekunan untuk terus berlatih dan berkarya.

 

MELUKIS DIATAS KAIN !!!!!

Waaaah asyik .....

Bisa untuk bisnis, ataupun sekedar hobby pengisi waktu luang.

 

Info:

www.e1creative.net

www.e1creative.blogspot.com

www.mmcraft.wordpress.com

 

telp/sms:

IWAN

02170555890

 

Alamat:

Jl.Pesantren Al-Makmur RT.01/RW.04 No.65 Kreo Selatan, Larangan, Cipadu, Ciledug, Tangerang.

 

SEMUA TENTANG LUKIS KAIN ADA DISINI

KURSUS LUKIS KAIN

CAT LUKIS KAIN

PRODUK LUKIS KAIN

 

E1 CREATIVE

Menyelenggarakan KURSUS LUKIS KAIN bagi perorangan maupun kelompok. PRIVAT, DARMA WANITA, INSTANSI, GROUP, SOSIAL, DLL.

Mengajarkan berbagai tehnik melukis diatas kain, dengan menggunakan beberapa jenis cat lukis kain, dan ragam jenis kain.

 

Dengan tujuan agar peserta kursus dapat menguasai melukis kain diatas beragam produk berbasis kain.MELUKIS KAIN ITU MUDAH !!!!!!

SIAPAPUN PASTI BISA.

Hanya butuh kesabaran, ketelatenan, dan ketekunan untuk terus berlatih dan berkarya.MELUKIS DIATAS KAIN !!!!!

Waaaah asyik .....

Bisa untuk bisnis, ataupun sekedar hobby pengisi waktu luang.SEMUA TENTANG LUKIS KAIN ADA DISINI

KURSUS LUKIS KAIN

CAT LUKIS KAIN

PRODUK LUKIS KAIN

 

E1 CREATIVE Carry Out COURSES PAINT CLOTH for group and individualness. PRIVAT, DARMA WOMAN, INSTITUTION, GROUP, SOCIAL, ETC. Teaching various technics paint above cloth, by using some paint types paint cloth, and cloth type manner. With a purpose to [so that/ to be] participant of courses can master to paint immeasurable above cloth [of] product base on THAT CLOTH kain.MELUKIS IS easy !!!!!! SURE WHOEVER CAN. Only patience butuh, ketelatenan, and assidinity to continue to to exercise and berkarya.MELUKIS OF CLOTH !!!!! Besotted Waaaah ..... Can for business, and or simply hobby filler of time of luang.SEMUA CONCERNING PAINT CLOTH THERE [IS] HERE COURSES PAINT CLOTH PAINT PAINT CLOTH PRODUCT PAINT CLOTH.

 

PENGENALAN JENIS CAT LUKIS KAIN MERK MM

 

1.JENIS TEXTILE

 

Dapat digunakan untuk melukis semua jenis kain, baik serat alam maupun serat synthetic. Dengan hasil lukisan lentur tidak kaku dan tidak luntur.

 

2.JENIS TEXTILE FLOATING

 

Dapat digunakan untuk melukis semua jenis kain, baik serat alam maupun serat synthetic. Dengan hasil lukisan timbul namun lentur tidak kaku.

 

3.JENIS SYNTHETIC

 

Dapat digunakan untuk melukis jenis kain serat buatan atau synthetic yang berwarna muda atau terang. Dengan hasil lukisan menyatu dengan kain dan sangat lembut.

 

4.JENIS SILK

 

Dapat digunakan untuk melukis semua jenis kain, baik serat alam maupun serat buatan yang berwarna muda atau terang. Dengan hasil lukisan menyatu dengan kain dan sangat lembut.

 

SEMUA JENIS CAT LUKIS KAIN MM TERSEBUT BERBASIS AIR DAN FINISHING HANYA DENGAN SETRIKA

SEMUA TENTANG LUKIS KAIN ADA DISINI

 

KURSUS LUKIS KAIN

 

CAT LUKIS KAIN

 

PRODUK-PRODUK LUKIS KAIN

 

We are one form of business that engages in goods and services specifically designed to supply clothing, scarves (silk, textiles, synthetics, etc.), and fabric painting training courses.

We have applied these techniques to pruducts quality superior design that does not exist in other places, and our products is one of the popular consumer products in Asia and Europe as well as bookings in the design of painting materials in the field.

 

MM CRAFT & E1 CREATIVE product is a genuine product made in Indonesia, which was done with hand painting techniques as distinct fro m the products that can provide satisfaction to our customers

 

Our product has gained the trust and customer satisfaction with our products, whether from domestic or foreign.

 

Get our original products only in MM CRAFT & E1 CREATIVE

FABRIC PAINTING COURSES of MM CRAFT and E1 CREATIVE carry out courses paint textile for group and individualness. Teaching various technics of fabric painting, above kinds of fabric type, and use paint type paint textile which different each other. With a purpose to so that to be participant of courses can paint above assorted of product base on textile. Paint that cloth is easy, sure whoever can. Do not have to have a gift for to paint. Only patience needed, and spirit of to continue to exercise and have masterpiece. Paint above textile??? Besotted Waah!!! Can for business. Or simply hobby filler of leeway.

 

MM CRAFT & E1 CREATIVE menyelenggarakan KURSUS LUKIS KAIN bagi perorangan maupun kelompok. Mengajarkan berbagai tehnik lukis kain, diatas bermacam jenis kain, dan menggunakan jenis cat lukis kain yang berbeda-beda. Dengan tujuan agar peserta kursus dapat melukis diatas berbagai macam produk berbasis kain. Melukis kain itu mudah, siapapun pasti bisa. Tidak harus berbakat melukis. Hanya butuh kesabaran, ketelatenan dan semangat untuk terus berlatih dan berkarya. Melukis diatas kain??? Waah asyik!!! Bisa untuk bisnis. Atau sekedar hobby pengisi waktu luang.

FABRIC PAINT

We produce high-quality paints, with affordable prices, e1creative paint products have passed the laboratory test results so as to produce many varied colors, and color quality that empowered high resistance against environmental conditions and cost-effective in usage.

Get our original products only in MM CRAFT.

Our superior paint product:

 

* Textile * Textile Floating * Silk * Synthetic

Cat Lukis Kain (Produk Cat)

INFO PEMESANAN

Kontak:

IWAN

02170555890

089637776669

www.lukiskain.com

www.e1creative.net

Jl.Pesantren Al-Makmur RT.01 RW.04 No.65 Kreo, Ciledug, Tangerang, Indonesia

  

Seharusnya Sabtu pagi itu menjadi hari yang cerah dan tenang bagi Helene. Pukul sembilan ia akan membuka toko dan menata karangan-karangan bunga sesuai rangkaian ciamik hasil kreasi tangannya.

 

Lalu, ia akan membikin segelas teh lemon yang ditambahi sedikit gula – entah mengapa ia paling tidak bisa menghabiskan teh tawar sejak kecil – meletakkannya di salah satu meja di dalam toko. Tak perlu ada tambahan biskuit atau kudapan ringan untuk menemani ritual minum teh paginya. Ia tak ingin tubuhnya menjadi gembrot. Meski tak mungkin lagi jatuh cinta dan atau bercinta, Helene tetap ingin menjaga tubuhnya tetap ramping.

 

Namun, dering telepon pagi itu membuyarkan segala rutinitas akhir pekan yang cerah dan menyenangkan. Seseorang di seberang sana memesan karangan bunga untuk kematian. Gangguan semacam ini tak pernah menjadi masalah bagi Helene karena untuk itulah ia membuka toko bunganya; menyediakan bunga baik untuk kegembiraan seperti pernikahan, pesta ulang tahun, lamaran, dan juga untuk berita duka seperti barusan.

 

“Baik, satu karangan bunga untuk…” Helene mencatat setiap pesanan dengan teliti. Ia membacakannya sekali lagi untuk memastikan. Ada perasaan aneh saat ia menyebut, “Tulip dan white acacia untuk hand bouquet.”

 

“Itulah satu-satunya pesan yang aneh yang diminta oleh mendiang suamiku,” suara di seberang menjelaskan, seolah-olah bisa merasakan ketidakmengertian Helene.

 

“Oh ya, baiklah,” jawab Helene. Ia tak pernah menolak setiap jenis dan rangkaian bunga apa pun yang diminta pelanggannya. Pelanggan adalah raja, ya kaan…?!

 

Namun, keanehan kali ini bukanlah tentang hand bouquet untuk seseorang yang sudah mati. Tapi, lebih pada jenis bunga yang dipilih; tulip dan white acacia. Mantan suami Helene yang telah bercerai dengannya belasan tahun yang lalu sangat menyukai jenis bunga tersebut.

 

Helene memeriksa nama dan alamat tujuan. Namanya persis seperti nama mantan suaminya. Ah, paling hanya kebetulan, perempuan paruh baya itu mencoba berpikiran positif dan tak ambil pusing. Ia segera menyiapkan pesanan dibantu salah seorang pegawainya. Saat karangan bunga sudah jadi, ia memutuskan untuk mengantarnya langsung ke alamat. Tak menggunakan jasa antar yang telah menjadi langganan mereka seperti biasanya.

 

“Hanya karangan bunga kecil,” katanya beralasan. “Aku juga ingin berkeliling sambil melemaskan kaki. Kau jaga toko baik-baik, ya.”

 

Pegawai toko bunga milik Helene mengangguk dan segera masuk kembali.

 

Helene mengantarkan karangan bunga ke alamat pemesan. Selepas berpisah dengan mantan suaminya, P-J, ia tak lagi mengikuti kabar laki-laki itu. Sempat ia diberi tahu oleh seorang kawan bahwa laki-laki itu menikah lagi. Tapi, menikah dengan siapa, kemudian tinggal di mana, dan apakah akhirnya laki-laki itu mau punya anak atau tidak, Helene tak peduli dan tak mau tahu.

 

***

 

Tiba di alamat tujuan, Helene segera menurunkan rangkaian bunga dan menatanya sesuai dengan petunjuk Maria, seorang istri yang sedang berduka. Perempuan itu mengenakan gaun berwarna hitam dengan kalung mutiara – entah asli atau sekadar tiruan – sederhana. Tampangnya terlihat sedih, matanya sembab bekas menangis.

 

“Anda membawakan hand bouquet tulip dan white acacia itu?” tanya Maria.

 

Helene menyerahkan bungkusan kertas cokelat berisi rangkaian bunga pesanan. Maria menerimanya sembari menghela napas. “Pilihan yang aneh, bukan? Lagian, untuk apa, sih, kau sudah mati tapi masih menenteng-nenteng buket bunga meski cuma diletakkan di dalam peti?”

 

Helene tak menjawab. Ia hanya mengamati Maria yang melangkah pelan-pelan ke arah peti. Maria terlihat begitu muda dan rapuh. Bibirnya mungil dan berwarna merah muda. Kulitnya putih pucat agak kemerahan.

 

Sosok laki-laki itu terbaring tenang di dalam peti. Seperti sedang tertidur pulas dengan kedua telapak tangan diletakkan tepat di tengah. Helene melongok. Meski sudah banyak berubah ia masih bisa mengenali; ya, itu P-J, mantan suaminya.

 

Maria menghenyakkan buket bunga ke dalam peti begitu saja. Tatapannya letih dan setengah jengkel. “Akhirnya mati juga. Dasar laki-laki bangkotan.”

 

Helene menoleh saat jemari Maria menyentuh lengannya. “Kau masih tampak cantik, Ma’am. Dan, aku juga mengerti kenapa akhirnya kau memilih berpisah dengan….” perempuan yang sedang dalam pakaian berduka itu menunjuk ke dalam peti menggunakan dagu, “Mantan suamimu.”

 

Helene memerhatikan lagi paras pucat nan dingin yang sedang terbaring di dalam peti. Laki-laki yang kerap berkata dan berperilaku kasar. Dan, tak pernah menganggap memiliki anak dalam sebuah perkawinan adalah ide yang menarik. Helene merasa pernikahannya sudah tak sehat manakala mereka kerap cekcok. Pertamanya, mereka bertengkar mengenai prinsip hidup yang tak lagi sepaham. Berikutnya, mereka bertengkar mengenai hal-hal sepele yang sebenarnya tak patut untuk dijadikan sumber masalah.

 

Maria menyentuh lengan Helene sekali lagi. Tatapannya seperti tertarik, namun hanya sekejap. Ia segera berlalu untuk menyambut tamu-tamu yang berdatangan. Helene mengamati sosok PJ yang terbujur kaku sekali lagi sebelum kemudian pamit.

 

***

 

Seharusnya Selasa pagi itu menjadi hari yang cerah dan tenang bagi Helene. Pukul sembilan ia akan membuka toko dan menata karangan-karangan bunga dengan rangkaian ciamik hasil kreasi tangannya. Lalu, ia akan membikin secangkir teh lemon yang ditambahi sedikit gula – entah mengapa ia paling tidak bisa menghabiskan teh tawar sejak masih kecil. Tak perlu ada tambahan biskuit atau kudapan ringan sebagai teman minum teh. Helene tak suka lingkar pinggangnya bertambah sekian inci.

 

Bel di pintu berkelinting ketika Helene baru saja meletakkan nampan teh hangat untuk ia nikmati sendiri. Pegawai yang bekerja di toko segera menyambut dan menanyakan keperluan pelanggan yang baru datang.

 

“Aku ingin bertemu bu Helene. Apa ia ada?”

 

Helene mengenali suara Maria. Senyum Maria segera mengembang ketika melihat si pemilik toko ternyata berada di ruang yang sama. Perempuan itu semestinya masih dalam masa berduka tapi ia mengenakan pakaian warna cerah.

 

Helene menyilakan Maria duduk dan ngeteh bersama. Pelayan toko mengambilkan satu cangkir kosong. Maria lebih senang teh tawar. Ia menyeruput perlahan, tampak begitu menikmati tehnya.

 

“P-J benar-benar laki-laki kasar, ya,” katanya saat meletakkan cangkir tehnya.

 

Helene tak kaget dengan kenyataan bahwa mantan suaminya adalah laki-laki tak berperilaku halus. Ia hanya kaget dengan kehadiran Maria dan kalimat pembuka obrolan mereka.

 

“Ia tak pernah setuju kami punya anak.” Maria memain-mainkan cangkir tehnya. “Saat aku berkeras ingin punya anak, ia menyebut nama Anda dan mengatakan banyak hal yang buruk.”

 

“Oh,” tanggap Helene pendek. Ia sudah tak ada perasaan dan takkan ambil pusing dengan segala perkataan mendiang P-J.

 

“Aku penasaran dengan Anda. Aku mencari tahu dan senang mendapati bahwa Anda juga menyukai bunga – bahkan punya toko bunga,” kata Maria. “Aku jadi menyangsikan perkataan P-J tentang Anda yang katanya perempuan berhati keras dan dingin. Seseorang yang menyukai bunga tentunya berhati lembut, kan?”

 

Helene hanya mengangkat bahu. Ia tak mengiyakan atau menolak karena bibirnya sedang sibuk menyeruput minuman.

 

“Aku sering mengamati Anda. Aku juga sering membayangkan betapa harum tubuh Anda, Ma’am Helene. Harum wewangian bunga-bungaan. Aku penasaran bagaimana rasanya tidur dalam pelukan Anda.” Maria menghela napas. “P-J tak lagi tidur memelukku sejak aku berkeras ingin punya anak darinya.”

 

“Ia memang tak pernah menyukai ide tentang memiliki anak,” kata Helene.

 

“Sejak melihatmu kupikir ide memiliki anak itu tak lagi penting.” Maria mengikih malu. “Suatu malam P-J tersedak makanannya. Aku membiarkannya selama beberapa saat. Ia jatuh pingsan dan barulah aku menghubungi dokter keluarga kami. Nyawa P-J tak bisa diselamatkan. Aku berpura-pura menangis begitu sedih. Keesokan pagi, aku menghubungi Anda. Kupesan karangan bunga kematian dan hand bouquet berisi jenis kembang yang aneh.”

 

Maria mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Helene.

“Aku hanya berbekal googling saat mencari nama bunga itu; tulip dan white acacia. Semua kulakukan supaya aku bisa bertemu dan bertegur sapa dengan Anda, Ma’am.” Wajah Maria memerah.

 

Helene tak yakin P-J tak pernah menyebut jenis bunga kesukaannya pada Maria. Apa yang diceritakan Maria barusan mengindikasikan dua hal; gadis itu berbohong atau hanya sedang mengarang-ngarang untuk diceritakan saat bertandang ke toko bunga dan bertemu dengan pemiliknya.

 

Maria kembali tersenyum malu. “Kuberanikan diri datang ke mari. Anda benar-benar cantik.”

 

Helene merasakan wajahnya menghangat. Ia ingin bangkit untuk mengaca dan memeriksa apakah wajahnya menjadi kemerahan – tapi ia menahan diri.

 

“Aku penasaran….,” sorot mata Maria berubah. “Apakah Anda… juga… terasa wangi… saat ku… cium….”

 

Helene diam sejenak sebelum kemudian ia tertawa. Maria menatap bingung.

 

“Wangi bukan rasa, Sayang. Wangi adalah aroma,” jelas Helene.

 

Gadis muda berambut merah keriting itu menyadari kesalahannya. Ia mengikih malu. “Maaf. Beginilah kalau seorang janda yang masih dalam masa berkabung malah keluyuran.” Ia kemudian berpamitan.

 

“Terima kasih atas waktunya, Ma’am. Kuharap kau tak keberatan bila aku mampir lagi kapan-kapan.”

 

Helene tersenyum. Ia bangkit hendak mengantar Maria ke pintu. “Mampirlah kapan pun kau mau.”

 

Maria yang sudah berdiri tiba-tiba berbalik. Kedua tangannya merengkuh bahu Helene. Bibirnya yang merah muda dan kenyal mengecup bibir Helene. Mereka berciuman, lidah mereka bersentuhan, begitu ringan, begitu tanpa paksaan.

 

Maria menarik kepalanya ke belakang dengan lembut. “Anda terasa manis, Ma’am. Ada sedikit kecut… Anda mencampur lemon dalam teh Anda, ya kan? Aku suka.”

 

Wajah Helene kembali meruap hangat.

 

Maria kembali berpamitan. “Au revoir.”

 

Bel di pintu toko berkelinting. “Au revoir,” balas Helene lirih. Jari tangannya menelusuri bibirnya, merasakan kembali betapa lembut ciuman Maria di sana.

 

Desi Puspitasari, kini tinggal di Yogyakarta. Sebagai cerpenis, cerpen-cerpennya telah dipublikasikan oleh beberapa media lokal dan nasional. Sementara sebagai novelis, lebih dari 10 buku karyanya telah diterbitkan. Tiga tahun terakhir, karya tulisnya juga merambah ke naskah-lakon, di antaranya adalah “Toilet Blues” (2018), “Sekar Murka” (2017), dan “Menjaring Malaikat” (2016) yang merupakan adaptasi dari cerpen karya Danarto; “Mereka Toh Tidak Mungkin Menjaring Malaikat”.

 

Edi Sunaryo, pelukis dan pegrafis tinggal di Yogyakarta. Dosen Seni Murni di Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta dan Pascasarjana ISI Surakarta. Sangat giat mengikuti berbagai pameran di tingkat nasional dan internasional.

 

[1] Disalin dari karya Desi Puspitasari

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” Minggu 30 Desember 2018

 

The post Karangan Bunga appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 

via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2BSdR4o

Selasa, 09 November 2010

 

Korban-Korban yang Terbisukan

oleh Argus Firmansah

 

Bale Tonggoh, Selasar Soenaryo Art Space, Bandung.

 

PERSOALAN sosial politik yang diusung dalam sebuah pameran seni rupa tiada habisnya dikupas dengan cara pandang yang berbeda-beda melalui sentuhan estetik pada karya pelukis, seniman patung, seniman foto, seniman grafis, seniman mural hingga performance artist. Terlebih dengan situasi Indonesia saat ini yang syarat dengan persoalan sosial, ekonomi, religi, hukum, keadilan dan soal lainnya akibat tidak ada pemimpin daerah maupun nasional yang memiliki kepemimpinan yang memihak pada keadilan sosial, ekonomi, hukum, pendidikan, dan lain-lain, bagi seluruh rakyatnya.

 

Bencana alam dan bencana politik yang tengah terjadi di tanah air ini memberikan inspirasi artistik bagi lima seniman dari Malang yang sedang berpameran di galeri Bale Tonggoh, Selasar Sunaryo Art Space, Bandung pada tanggal 5-28 November 2010. Lima seniman ini diboyong oleh sebuah komunitas yang menamakan diri mereka Rumah Seni Kemarin Sore, Malang, Jawa Timur. Melihat pameran ini seperti menemukan kembali karya seni yang kontekstual setelah pasar seni rupa kontemporer surut ke titik normal disokong oleh blow-up media massa seni rupa yang merayu investor untuk terus berinvestasi di karya seni rupa Indonesia.

 

Rumah Seni Kemarin Sore bekerjasama dengan Bale Tonggoh (SSAS) yang dikelola Yus Herdiawan untuk penyelenggaraan pameran ini. Rully Azwar, GM Rumah Seni Kemarin Sore, mengakui bahwa medan seni rupa di Malang memiliki potensi besar dan energi kreatif senimannya namun minimnya infrastruktur, seperti galeri seni rupa, mendorong semangat mereka untuk menyajikan karya seniman dan perupa dari Malang itu di kota-kota lain seperti Bandung.

 

Dua puluh karya dua dimensi meliputi teknik lukis, drawing dan fotografi di atas kanvas yang disajikan oleh lima seniman ini memang menyoroti persoalan korban dalam pemahaman istilah ‘korban’ secara umum. Mereka mengolah tema dan persoalan ‘korban’ dari sisi psikologis dan imajinasi atas amatan masing-masing seniman terhadap sosok ‘korban’. Lima perupa ini adalah Bambang BP, Dhudung, Isa Ansory, Joni Ramlan dan Keo Budi Harijanto. Tema itu ditajamkan kembali oleh Syarifuddin, kurator pameran, dengan judul pameran “Silent Victim”.

 

Syarifuddin tidak kesulitan membuat tema garapan yang ditawarkan kepada lima seniman tersebut karena seniman-seniman ini memang sudah punya kemampuan (skill) yang memadai dan bergairah dalam mengolah medium untuk mengakomodasi gagasan masing-masing.

 

“Seniman ini memang sudah sangat baik di wilayah teknis baik itu lukis, drawing, komik, pointilis dan eksplorasi medium jadi gairah tersendiri bagi seniman di Malang. Proses kreatif mereka juga dilakukan dengan sungguh-sungguh dan telaten,” kata Syarifuddin.

 

Isa Ansory dan Dhudung menafsirkan tema ‘Silent Victim’ dengan cara pandang yang berbeda meski pilihan subject matter lukisan-lukisan foto-realisnya hampir sama yaitu boneka mainan sebagai metaforma dunia anak-anak perempuan. Anak-anak seperti diketahui masyarakat umum adalah yang paling rentan menjadi korban baik korban kekerasan, kriminal maupun korban bencana alam.

 

Isa Ansory melalui lukisan-lukisannya memang sangat kuat mengkritik dampak psikososial korban lumpur Lapindo yang hingga kini tidak diselesaikan pemerintah dan pengusaha korporasi yang seharusnya bertanggungjawab. Boneka-boneka di permukaan lumpur atau yang dibungkus oleh lumpur seakan mengetuk pengunjung pameran mengenai sebuah entitas sosial yang tercerabut dari tempatnya yang damai. Lagi-lagi karena kesalahan manusia yang serakah memperkosa perut bumi ini.

 

Lain bahasa dengan karya Dhudung yang menyajikan 3 lukisan yang memadukan bahasa simbolik modern dan tradisional pada penggunaan boneka Barbie, mainan congklak dan kain batik. Media pensil, arang dan cat akrilik digarap Dhudung dengan sangat telaten hingga menghasilkan ekspektasi visual yang cukup menggigit dalam mengamati persoalan dampak psikologis anak-anak yang menjadi ‘silent victim’. Dunia imaji dan amatan terhadap realitas yang terbayangkan oleh pelukis yang satu ini menyatu dalam bahasa pictorial yang sederhana di atas bidang kanvas yang juga dibuatnya sendiri.

 

Kekuatan teknik drawing juga hadir dalam pameran ‘Silent Victim’. Empat kanvas yang digarap dengan pensil disajikan oleh Bambang BP. Satu-satunya seniman kelahiran Bali yang menetap di Malang dengan latar belakang pendidikan seni rupa ISI Yogyakarta. Bambang menyajikan satu karya landscape, dua potret dan satu lukisan gitar dengan olahan objek yang dipersonifikasi. Lukisan-lukisn foto-realis dengan teknik drawing ini tidak kalah baiknya dengan karya empat seniman lainnya.

 

Sebelum mengulas karya Joni Ramlan, penulis ingin mengupas karya Keo Budi Harjanto. Seorang seniman di Malang yang memiliki skill menggambar dengan pengalaman artistik yang sangat menarik. Gambar ilustrasi, komik dan teknik drawing bagi Keo Budi tentunya sangat tidak asing, namun pada pameran ‘Silent Victim’ ini, Keo Budi mengolah medium baru sama sekali, yaitu art photography atau seni fotografi. Menurut kurator pameran ini Keo Budi baru belajar dan langsung menggunakan photoshop untuk membantunya dalam proses berkarya.

 

Keo Budi menyajikan karya art photography melalui proses fine art photography. Ini menarik bagi penulis karena medium fotografi dapat digunakan oleh seniman di Malang dengan cukup menarik. Kemampuan Keo Budi dalam membuat drawing menjadi salah satu bagian teknis yang sangat menentukan keberhasilan suatu karya dilahirkan dengan sempurna. Keo Budi menyajikan empat karya fotografi dengan teknik produksi digital print berukuran sisi terpendek 90 sentimeter dan sisi terpanjang 174 sentimeter di atas kanvas. Keo Budi memberi judul karya ‘Tidur Panjang’, ‘Pengantin Tiga’, ‘Power’, ‘Black Memories’ dan ‘Pengantin Satu’.

 

Karya yang dibuat dengan memotret diri seniman, tambahan citraan yang direkayasa dan sentuhan drawing sebelum dicetak di atas kanvas khusus itu memberikan kesan ‘lebih dalam’ jika dikupas dari aspek tema pameran dan konsep kuratorial Syarifuddin. Garapan teknik yang sangat kuat pada garapan karya Keo Budi memotivasi pemaknaan ‘realitas baru’ yang dihadirkannya pada memori kolektif bangsa Indonesia pada bencana politik di era Orde Baru yang hingga kini tetap unfinished meski pemimpin nasional silih berganti menjaid penguasa.

 

Karya yang tidak kalah menarik dapat dilihat pada dinding terakhir di Bale Tonggoh. Pengunjung dapat melihat empat lukisan abstrak figuratif seri ‘Sad Song’ karya Joni Ramlan dengan objek dominan alat musik petik. Joni Ramlan membuat ilustrasi dari imajinasi mengenai korban dan kondisi psikologis seorang korban melalui kehadiran gambar alat musik petik yang tak teratur, entah itu sitar atau gitar. Joni Ramlan hendak mengilustrasikan rasa empatinya sebagai seniman atas korban-korban itu melalui alat musik yang dapat memproduksi bahasa paling mudah dicerna oleh semua orang di manapun. Filosofi musik itu pula yang kemudian menjadi subject matter bagi Ramlan dalam menyoroti sosok seorang atau korban-korban.

 

***

 

Namun secara pribadi Syarifuddin berpendapat bahwa karya yang paling mengena pada tema ini adalah karya-karya Keo Budi Harjanto. Keo Budi menggarap karya seni fotografi dengan cukup apik dan serius dimuali pada prosesnya. Dengan latar belakang teknik drawing dan pointilis yang kuat karya seni fotografi digarap Keo dengan telaten meski potret dirinya sebagai main image di-capture menggunakan pocket camera dan image tambahannya hasil browsing. Proses kreatif sangat menarik padahal ia bukan seorang seniman foto, karyanya yang dinilai lebih bunyi dan kesan yang lebih dalam lebih disebabkan karena latar belakang sejarah senimannya terkait dengan tema pameran. Kehadiran Keo Budi dan karyanya menguatkan wacana art photography di tengah perkembangan seni rupa Indonesia saat ini. Walaupun fotografi pada karya Keo Budi baru sebatas medium yang digunakan.

 

Perkara modern art atau contemporary art nampaknya bukan soal bagi lima seniman ini, meskipun Amir Sidharta dari Sidharta Auction yang membuka pameran ini menyatakan bahwa karya-karya yang dipamerkan merupakan karya seni rupa kontemporer dengan pilihan artistik berdasarkan cara pandang yang berbeda-beda dan proses kreatif yang sungguh-sungguh menyoroti persoalan keseharian masyarakat Indonesia.

 

Keragaman kekuatan teknik yang disajikan dalam pameran ini seakan-akan hendak mengartikulasi sebuah fenomena seni rupa di Malang yang menjadi ‘silent victim’ oleh seni rupa Indonesia yang selama ini didominasi oleh pasar seni rupa Yogyakarta, Bali dan Bandung. Penulis melihat fenomena ini juga dapat dijadikan bahan pencatatan local art history yang belakang ini dilemparkan kembali ke ruang pewacanaan seni rupa Indonesia oleh Jim Supangkat di sela pameran “Tribute Kepada Sudjojono: Sang Ahli Gambar” yang diikuti 236 seniman di 18 galeri yang ada di Bandung dan Jakarta.

 

Karya-karya ‘Silent Victim’ ternyata sudah direncanakan sejak lama sebelum bencana alam dan bencana politik terjadi di negeri ini. Lukisan dan karya seni fotografi yang disajikan dalam pameran ini tidak lantas membuat komodifikasi dengan modus baru atas persoalan-persoalan yang terjadi di negeri ini. Lima seniman ini nyata-nyata menunjukkan sebuah kerja nyata sebagai seniman dengan karya mereka ketimbang hanya bicara dan menjadi selebritas.

 

Apakah karya seni rupa (lukisan dan seni fotografi) saat ini harus kontekstual dengan persoalan yang dihadapi masyarakat Indonesia di suatu medan sosial? Saya kira seniman mengamati persoalan sekitarnya yang kemudian menjadi bahan perenungan dan inspirasi untuk berkarya tanpa mempertimbangkan sejak awal siapa kolektor yang akan membeli karyanya itu. Kesungguhan menekuni dunia seni rupa macam itulah yang terjadi di Malang, paling tidak melalui lima seniman yang berpameran di Bale Tonggoh, SSAS, Bandung. ***

*) Jurnalis seni independen, kurator seni fotografi, tinggal di Bandung.

 

www.indonesiaartnews.or.id/newsdetil.php?id=165

  

Sejarah Bangunan Bangunan yang terletak di Jalan Sultan Kota Bharu adalah bekas pejabat lama Majlis Agama Islam dan Adat Istiadat Melayu Kelantan. Bangunan ini adalah salah sebuah bangunan yang mempunyai ciri-ciri rekabentuk yang unik di bandar Kota Bharu. Kerja-kerja ubahsuai bangunan ini telah dimulakan sejak awal tahun 1991 dan telah siap sepenulmya menjelang perasmian bangunan tersebut pada 11 November 1991 dengan menelan belanja RM218 000.00. Bangunan yang diubahsuai ini memuatkan Muzium Islam Perpustakaan Islam dan asrama pelajar-pelajar Maahad Tahfiz al-Quran. Bangunan ini asalnya adalah rumah kediaman bekas Menteri Besar Kelantan iaitu Encik Hassan bin Mohd Salleh 1900-1920 . la dibina pada tahun 1902 dan berasaskan gaya dan ciri-ciri bangunan rumah Melayu Kelantan – Pattani model penghujung abad ke-1-9 dan awal abad ke-20. Bangunan ini diperbuat daripada kayu cengal terpilih dan atapnya pula menggunakan bata buatan Singgora yang terkenal lebar tebal dan kukuh. Berbagai-bagai jenis ukiran menghiasi setiap pintu tingkap dan ruang. Pada setengah tempat pula ukiran-ukiran ini memagar ayat-ayat suci al-Quran yang digubah dalam satu seni reka dan khat yang cantik dan menarik. Daun tingkapnya pula dibuat sedemikian rupa sisik angin untuk mendapatkan udara walaupun tingkap nya tertutup. Terdapat sebuah anjung di bahagian hadapan bangunan ini yang menyerupai beberapa bangunan lain yang berdekatan seperti Istana Balai Besar dan Istana Jahar. Fungsi anjung ini antara lain ialah sebagai tempat untuk menyaksikan pelbagai upacara atau pertunjukan yang sering diadakan di padang Padang Merdeka yang terletak betul-betul di hadapan rumah berkenaart. Pada tahun 1905 bangunan ini dipilih menjadi tempat sambutan lawatan Maharaja Siam iaitu Maharaja Chulalongkorn Rama V ke Kota Bharu . Pada 3 Julai 1917 rumah ini berserta dengan kawasan telah dibeli oleh Mafflis Agama Islam Kelantan MAIK dengan harga RM15 000.00. Pada 9 Ogos 1917 bangunan ini mula dijadikan pejabat Mafflis Agama Islam Kelantan setelah berpindah dari pejabat sementaranya di flinglcat atas bangunan lama Pejabat Tanah Kota Bharu yang terletak di hadapan Istana Balai Besar sekarang sudah tidak ada lagi . Tingkat bawah bangunan ini pernah menjadi tempat belajar murid-murid madrasah Muhammadiah Melayu yang ditubuhkan oleh Majlis Agama Islam Kelantan pada tahun 1917. Penggunaan sepenuhnya keduadua tinglcat bangunan ini menjadi pejabat ialah selepas merdeka apabila sekolah berkenaan berpindah ke bangunan baru diJalan Merbau pada awal tahun 1956. Bangunan ini menjadi Pejabat Majlis Agarna Islam Kelantan selama 72 tahun 6 bulan iaitu mulai 9 Ogos 1917 hingga 15 Februari 1990 apabila Mafflis Agama Islam Kelantan berpindah ke bangunan baru di Jalan Sultan Yahya Petra Lundang. Selama tiga dekad 1920-1940 rumah ini menyaksikan pelbagai peristiwa bersejarah seperti mesyuarat-mesyuarat diskusi forum tempat menterjemah menerbit kitab-kitab dan di sinilah juga pejabat mufti pada masa itu. Pengubahsuaian Sebelum diubahsuai pada tahun 1991 bangunan ini pernah diubahsuai sebanyak dua kali iaitu pada tahun 1917 dan 1962. Pengubahsuaian ini terpaksa dilakukan bagi menyesuaikan sebuah rumah kediaman kepada ruang-ruang pejabat. Tidak dapat dinafikan bahawa telah berlaku sedikit pindaan dan perubahan daripada rekabentuk asal semasa pengubahsuaian. Beberapa ukiran dan seni khat telah dibuang atau bertulcar tempat tetapi tidak sampai mefigubah ciri-ciri utama bangunan yang asal. Kerja-kerja pengubahsuaian pada tahun 1991 ini adalah merupakan ubahsuai yang paling besar pada bangunan ini. Walaupun ia rnasih mengekalkan ciri-ciri luar bangunan ini tetapi boleh dikatakan hampir keseluruhan ciri-ciri -dalaman seperti struktur bilik tangga dan pintu telah berubah atau dibuang.

Ukiran kayu adalah seni kraftangan yang telah lama wujud di kalangan masyarakat Malaysia terutama bagi masyarakat Melayu, masyarakat etnik Sabah dan Sarawak serta masyarakat Orang Asli. Seni ukiran yang dipersembahkan melalui bahan kayu ini sama seperti seni ukiran yang lain cuma berbeza dari segi cara dan teknik pengukirannya. Seni ini begitu berkembang luas kerana Malaysia merupakan sebuah negara yang mempunyai hasil kayu-kayan yang banyak di mana terdapat kira-kira 3000 spesis kayu-kayan di negara kita.

 

Ukiran merupakan hasil seni rupa tradisi Melayu yang terulung. Sejarah seni ukir di Tanah Melayu banyak terdapat dalam catatan-catatan sejarah iaitu dalam Sejarah Melayu di mana dikatakan seni ukiran Melayu tradisi telah ada sejak lebih 500 tahun dahulu. Pada ketika itu, orang-orang Melayu sudah memberi perhatian yang istimewa terhadap seni ukiran pada bangunan seperti istana dan rumah kediaman. Raja-raja Melayu pada zaman dahulu memainkan peranan penting dalam memperkembang dan menghidupkan suasana seni ukiran. Hingga kini peninggalan istana-istana lama memperlihatkan betapa indah dan uniknya ukiran-ukiran yang diterapkan pada istana-istana tersebut. Di Semenanjung Malaysia, kekayaan seni ukiran kayu orang Melayu paling ketara pada binaan rumah tradisional terutama di Kelantan, Melaka dan Negeri Sembilan.

Fabric painting fashion craft

lukis kain itu mudah siapa saja pasti bisa

banyak contoh sukses pengusaha lukis kain

memang perlu kesabaran untuk sampai mahir

Bisa jadi bisnis atau hanya untuk sekedar hoby pengisi waktu luang

 

www.E1creative.Blogspot.Com

 

www.e1creative.net

 

fabric painting

 

Lukis kain?? Waah asyik bisa buat design sendiri nich. Yg pasti ga ad yg nyamain se alam semesta, dunia& akherat.

 

fabric painting

 

belajar melukis diatas kain. berbagai macam tehnik, pewarna dan kain. tingkat dasar, menengah, mahir.

 

Menambah banyak teman sangatlah mudah dan cepat. Undang teman dari Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger sekarang! id.messenger.yahoo.com/invite/

 

www.e1creative.net

 

Lebih aman saat online. Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih cepat yang dioptimalkan untuk Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis. Dapatkan IE8 di sini!

downloads.yahoo.com/id/internetexplorer/

 

INFO PEMESANAN

Kontak:

IWAN

02170555890

089637776669

www.lukiskain.com

www.e1creative.net

Jl.Pesantren Al-Makmur RT.01 RW.04 No.65 Kreo, Ciledug, Tangerang, Indonesia

Cat lukis kain MM.

Tersedia jenis:

1. Textile

2. Textile timbul

3. Silk

4. Synthetic.

Hasil lukisan cat lukis kain MM lembut tidak kaku.

Cat lukis kain MM Murah berkualitas.

Harga cuma 15000 perbotol.

Sms / call:

02170555890

 

www.e1creative.net

 

SEMUA TENTANG LUKIS KAIN ADA DISINI.

 

KURSUS LUKIS KAIN.

SEDIA CAT LUKIS KAIN MERK MM.

JILBAB PARIS LUKIS.

KAIN LUKIS.

DESIGN LUKIS KAIN.

IWAN

02170555890

 

www.e1creative.net

 

CAT LUKIS KAIN MM.

 

JENIS:

1. TEXTILE, untuk melukis semua jenis kain, hasil lembut.

2. TEXTILE TIMBUL, untuk melukis semua jenis kain, hasil timbul namun tidak kaku.

3. SILK, untuk melukis sutra dan semua kain, hasil lukisan menyatu dengan kain sangat lembut.

Semua jenis cat lukis kain MM finishing hanya dengan setrika.

Pemesanan telp/sms:

Iwan

02170555890

 

KURSUS MELUKIS DIATAS KAIN

 

E1 CREATIVE menyelenggarakan kursus lukis kain bagi perorangan maupun kelompok.

Mengajarkan berbagai tehnik lukis kain, diatas bermacam jenis kain, dan menggunakan jenis cat lukis kain yang berbeda-beda.

Dengan tujuan agar peserta kursus dapat melukis diatas berbagai macam produk berbasis kain.

 

Melukis kain itu mudah, siapapun pasti bisa.

Tidak harus berbakat melukis.

Hanya butuh kesabaran, ketelatenan dan semangat untuk terus berlatih dan berkarya.

Melukis diatas kain???

Waah asyik!!!

Bisa untuk bisnis.

Atau sekedar hobby pengisi waktu luang.

 

Call / sms;

IWAN

02170555890

 

www.e1creative.net

 

INFO PEMESANAN

Kontak:

IWAN

02170555890

089637776669

www.lukiskain.com

www.e1creative.net

Jl.Pesantren Al-Makmur RT.01 RW.04 No.65 Kreo, Ciledug, Tangerang, Indonesia

  

Mimpi yang berulang. Bunga Marigold. Candi-candi keemasan berubah warna menjadi merah. Patung setengah manusia dan setengah burung yang bisa bergerak-gerak seolah hidup. Memilin-milin dan tumpang tindih dalam mimpiku sepekan ini.

 

Alur ceritanya semakin lama semakin ganjil. Bahkan kadang tanpa alur cerita sama sekali. Bunga marigold. Candi-candi berwarna kemerahan. Patung manusia berkepala burung. Hanya itu yang bisa aku ingat dengan jelas. Selain sebuah jejak perasaan yang mengganjal bersamanya. Perasaan sedih dan marah sekaligus.

 

Seperti ada seseorang yang telah berbuat curang, dan aku tak bisa berbuat apa-apa. Tak berdaya. Kedua tanganku seperti dirantai, untuk menonton. Tanpa mampu berbuat apa pun.

 

Mungkinkah karena aku telah kelewat menjejali pikiranku dengan segala informasi tentang candi-candi di Thailand? Tentang Doi Suthep, Wat Phrasing, Wat Chedi Luang, Wat Umong, dan lain-lain. Mungkinkah kepalaku meledak karena timbunan informasi dan alam bawah sadar mengambil sebagian dari tugas itu. Atau aku sedang dituntun oleh sebuah firasat. Entahlah.

 

Aku tidak punya pilihan. Hanya sebulan waktu yang diberikan kepadaku untuk menghafalkan semua informasi tentang tempat-tempat wisata di Chiang Mai. Bosku mengatakan, lafal bahasa Inggrisku lebih bagus daripada kebanyakan orang Thailand. Para turis itu akan lebih mudah mengerti kalimat yang aku ucapkan. Masalahnya, aku teramat buta dengan sejarah candi-candi di Chiang Mai. Ini seperti sistem kebut semalam untuk menghadapi ujian.

 

“Satu bulan lebih dari cukup untukmu. Apalagi kamu suka dengan candi dan segala hal yang berhubungan dengan sejarah.”

 

“Betul, tapi sebulan sepertinya terlalu singkat.”

 

“Jangan lupa, waktu tak akan menunggumu.” Ia menepuk bahuku ringan. “Sebulan atau tidak sama sekali.” Katanya tersenyum kecil. Khas orang Thai. Tidak ada kalimat meninggi atau bentakan. Orang Thai begitu mencintai harmoni, bahkan ketegasan pun disampaikan dengan senyuman.

 

Aku tidak mempunyai pilihan lain. Sebulan atau tidak sama sekali. Selama bertahun-tahun, aku merasa tidak pernah menjadi pemilih yang mahir. Aku salah memilih jurusan kuliah. Salah memilih pekerjaan selama sepuluh tahun. Salah mengira idealismeku akan membuat keadaan membaik. Ketika semua terpuruk ke titik terendah, aku memutuskan pindah negara. Konyol.

 

Kenangan betapa aku adalah pemilih yang buruk menggedor-gedor ingatanku. Aku masih ingat bagaimana aku memilih jawaban pada soal-soal pilihan ganda pada ujian sekolahku, pada UMPTN sampai dengan tes-tes TOEFL dan sejenisnya.

 

Beberapa teman mengatakan, mereka akan menggunakan feeling untuk jawaban-jawaban sulit. Dan aku tak pernah menemukan rumus feeling itu. Aku selalu merasakan sensasi yang ganjil setiap kali dihadapkan pada sebuah pilihan. Semacam rasa gatal yang aneh. Titik kritis untuk tergelincir ke dalam tebing yang dalam dan curam. Atau tersedot ke dalam pusaran air yang mematikan.

 

Mungkin aku tak seharusnya memilih apa pun. Aku seharusnya membiarkan diriku tidak mempunyai cukup pilihan, agar orang lain bisa membuat pilihan untukku.

 

Untung ada Barry. Laki-laki itu mungkin sengaja dikirim Tuhan untukku. Setidaknya, anggaplah demikian adanya.

 

“Nama saya Ava. Saya akan menemani Anda hari ini.”

 

“Terima kasih, Ava. Nama saya Barry.”

 

“Selamat pagi Barry, selamat datang di Chiang Mai. Apakah kamu sendirian?”

 

Barry melongok ke sekelilingnya seolah mencari seseorang. “Sepertinya saya hanya sendiri. Tapi kamu bersama saya kan?” jawabnya setengah bercanda. Aku tersenyum kecil. Mungkin senyumanku yang paling lepas semenjak sebulan ini. Perpaduan Barat-Timur adalah cara terbaik untuk mengolah seseorang. Barry adalah perpaduan yang sempurna itu.

 

“Apakah kamu akan mengikuti jalur yang saya anjurkan, atau kamu sudah mempunyai daftar tempat yang ingin kamu datangi?”

 

“Aku ikuti jalur yang kamu siapkan saja.” Katanya lagi dengan senyum mengandung sengatan. Menyejukkan sekaligus menggelisahkan.

 

Laki-laki blasteran Amerika-Vietnam itu telah menyelamatkan hari-hariku. Ia pula yang merelakskan sarafku, untuk yakin, untuk pertama kalinya, inilah pilihan yang baik untukku. Ia datang di hari ketiga aku memulai tugasku sebagai tour guide.

 

Hari pertama dan kedua berjalan seperti neraka karena aku teramat tak percaya dengan kata-kata yang ke luar dari mulutku. Hari keempat segalanya menjadi lebih baik. Aku makin hafal sejarah setiap candi, dan makin percaya diri untuk menjelaskannya kepada turis yang harus aku temani. Aku mulai mencintai pekerjaan ini dan merasa pilihanku kali ini tidak buruk-buruk amat.

 

Barry hanya tertawa keras ketika kuceritakan, aku baru sebulan belajar tentang Thailand.

 

“Aku kaget. Kamu tampak sangat menguasai.”

 

Aku tergelak. “Kepada turis yang lain, saya akan mengaku sudah tinggal di Thailand selama tiga tahun.”

 

“Aku punya kontrak setahun untuk mengajar di Sekolah Internasional Thailand. Aku akan perlu bantuanmu untuk mencari tempat tinggal nyaman dan murah di sini.”

 

“Aku pikir kamu hanya akan menggunakan kata nyaman, bukan murah.”

 

“Aku perlu menabung untuk keliling dunia. Termasuk mengunjungi Indonesia kelak.”

 

“Mengapa Indonesia?”

 

“Ada apa dengan Indonesia?”

 

“Pulang adalah kata yang aneh buatku sekarang.”

 

“Kamu ke sini bukan untuk lari kan?”

 

“Aku tidak tahu apakah Indonesia memang rumahku. Rumah adalah tempat yang merangkulmu dalam kehangatan. Rumah adalah tempat yang menerimamu sebagai bagian sejati dari tempat itu. Setelah tiga puluh tahun menghabiskan waktu di Indonesia, aku masih merasa seperti orang asing.”

 

“Tampaknya ada sesuatu yang serius antara kamu dengan Indonesia?”

 

Aku tersenyum jengah. “Maaf Barry, aku sudah menceritakan sesuatu yang terlalu serius di awal perkenalan kita.”

 

“Tidak apa-apa, Ava, aku selalu suka mengenal dan mengetahui sesuatu. Karena itulah aku ingin keliling dunia. Aku yakin, kelak kamu akan menemukan alasan untuk pulang.”

 

Aku mengangkat bahu, sulit meyakini kata-kata Barry. Namun malam ini, kata-kata itu terus terngiang seperti mantra. Di tengah gigil demam di flatku di Chiang Mai. Rasa sakit meluas di setiap inci sendiku. Inilah saat aku hampir menyerah melupakan rumah.

 

Masa kecil langsung hadir dan mengelus-ngelus ubun-ubunku. Kenangan tentang bagaimana Mama memelukku, untuk memindahkan panas tubuhku ke tubuhnya. Kenangan akan Papa yang membasuh kakiku dengan air bunga telang.

 

Kenangan masa kecil itu berputar dengan cepat di kepalaku. Mama dan Papa mengantarku ke dokter setelah badanku panas makin tinggi. Dokter pun meresepkan beberapa butir parasetamol dan vitamin C. Mereka tak perlu membawaku ke dokter sebenarnya, karena obat turun panas akan meredakan panasnya setelah beberapa jam. Namun orangtua mana pun akan selalu cemas pada keadaan anaknya.

 

Pada saat seperti ini, aku berharap bisa kembali menciut menjadi seorang balita. Seorang anak yang masih merengek kepada orangtuanya. Aku ingin meringkuk di dalam pelukan Mama. Masa kecil menggencet hatiku dan kata pulang mengirisnya dengan ketajaman yang sama. Pulang maupun tak pulang menghadirkan rasa sakit yang sama.

 

“Umat manusia di mana pun pernah mengalami rasa sakit karena kebencian dan diskriminasi. Jika tidak di kampung halaman mereka, mungkin di negara lain tempat mereka berada. Politik warna kulit sudah ada sejak berabad-abad, namun belum akan berakhir di masa modern sekarang ini. Kita boleh marah dan ingin berbuat sesuatu. Namun ketika upaya itu gagal, kita tak harus menghukum diri sendiri atau menyembunyikan diri selamanya.”

 

“Mudah bagimu, Barry. Dengan kulit putihmu dan ras kaukasiamu, kau tidak akan mengalami diskriminasi di mana pun.”

 

“Dan orang dengan rasku bisa menjadi pihak yang mendiskriminasi? Hitler dan kebanggaan bangsa Arya-nya. Mana yang lebih buruk. Menjadi pihak yang disakiti atau menyakiti. Dalam hukum karma versi Gandhi, yang menyakitilah yang akan menerima hempasan energi buruk.”

 

Waktu itu, aku hanya tercenung mendengar kata-katanya.

 

“Menurutku, dunia boleh tak menerimamu. Seluruh dunia boleh membencimu. Namun pertama-pertama, apakah kau menerima dirimu sendiri. Sudahkah kau menerima dirimu secara penuh dan tanpa syarat? Yang aku tahu, kita tidak akan pernah bisa bersembunyi dari diri kita masing-masing. Di mana pun dan kapan pun. Kita boleh lari ke ujung dunia. Namun kita tak pernah bisa lari dari diri kita sendiri.”

 

Malam itu, bersama gigil demam dan kesendirian yang menggigiti setiap sendi-sendi tubuhku, aku berpikir untuk belajar untuk menerima seluruh rasa sakit ini tanpa syarat. Menelan bulat-bulat kebencian yang pernah aku terima, seperti seekor hiu menelan mangsanya. Mengunyah perasaan diasingkan itu dengan gigi-gigiku yang berukuran raksasa. Membiarkannya membentuk adonan dengan rasa manis, rasa bahagia, dan rasa gembira yang pasti mampir pula dalam hidupku. Aku hanya baru menyadari mereka karib yang takkan terpisahkan.

 

Ni Komang Ariani dilahirkan di Bali, 19 Mei 1978. Buku terbarunya adalah Novel Jas Putih. Pada tahun 2008 menjadi Pemenang Pertama Lomba Menulis Cerita Bersambung Femina melalui novelet, Nyanyi Sunyi Celah Tebing. Tiga kali karyanya termasuk Cerpen Pilihan Kompas.

 

Karina Rizkyta lahir di Cimahi, 23 Oktober 1994. Berprofesi sebagai visual artist. Ia menamatkan pendidikan dasar hingga sekolah menengah di Tasikmalaya, kemudian menempuh pendidikan tinggi di FSRD ITB S-l Prodi Seni Rupa, Dwimatra, pada 2012-2016.

 

[1] Disalin dari karya Ni Komang Ariani

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” Minggu 13 Januari 2019

 

The post Sekuntum Bunga Marigold dari Chiang Mai appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 

via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2ClvCsZ

  

MARDANU seperti kebanyakan lelaki, senang bila dipuji. Tetapi akhir-akhir ini dia merasa risi bahkan seperti terbebani. Pujian yang menurut Mardanu kurang beralasan sering diterimanya. Ketika bertemu teman-teman untuk mengambil uang pensiun, ada saja yang bilang, ”Ini Mardanu, satu-satunya teman kita yang uangnya diterima utuh karena tak punya utang.” Pujian itu sering diiringi acungan jempol. Ketika berolahraga jalan kaki pagi hari mengelilingi alun-alun, orang pun memujinya, “Pak Mardanu memang hebat. Usianya tujuh puluh lima tahun, tetapi badan tampak masih segar. Berjalan tegak dan kedua kaki tetap kekar.”

 

Kedua anak Mardanu, yang satu jadi pemilik kios kelontong dan satunya lagi jadi sopir truk semen, juga jadi bahan pujian, “Pak Mardanu telah tuntas mengangkat anak-anak hingga semua jadi orang mandiri.” Malah seekor burung kutilang yang dipelihara Mardanu tak luput jadi bahan pujian. “Kalau bukan Pak Mardanu yang memelihara, burung kutilang itu tak akan demikian lincah dan cerewet kicaunya.”

 

Mardanu tidak mengerti mengapa hanya karena uang pensiun yang utuh, badan yang sehat, anak yang mapan, bahkan burung piaraan membuat orang sering memujinya. Bukankah itu hal biasa yang semua orang bisa melakukannya bila mau? Bagi Mardanu, pujian hanya pantas diberikan kepada orang yang telah melakukan pekerjaan luar biasa dan berharga dalam kehidupan. Mardanu merasa belum pernah melakukan pekerjaan seperti itu. Dari sejak muda sampai menjadi kakek-kakek dia belum berbuat jasa apa pun. Ini yang membuatnya menderita karena pujian itu seperti menyindir-nyidirnya.

 

Enam puluh tahun yang lalu ketika bersekolah, dinding ruang kelasnya digantungi gambar para pahlawan. Juga para tokoh bangsa. Tentu saja mereka telah melakukan sesuatu yang luar biasa bagi bangsanya. Mardanu juga tahu dari cerita orang-orang, pamannya sendiri adalah seorang pejuang yang gugur di medan perang kemerdekaan. Orang-orang sering memuji mendiang paman. Cerita tentang sang paman kemudian dikembangkan sendiri oleh Mardanu menjadi bayangan kepahlawanan; seorang pejuang muda dengan bedil bersangkur, ikat kepala pita merah-putih, maju dengan gagah menyerang musuh, lalu roboh ke tanah dan gugur sambil memeluk bumi pertiwi.

 

Mardanu amat terkesan oleh kisah kepahlawanan itu. Maka Mardanu kemudian mendaftarkan diri masuk tentara pada usia sembilan belas. Ijazahnya hanya SMP, dan dia diterima sebagai prajurit tamtama. Kegembiraannya meluap-luap ketika dia terpilih dan mendapat tugas sebagai penembak artileri pertahanan udara. Dia berdebar-debar dan melelehkan air mata ketika untuk kali pertama dilatih menembakkan senjatanya. Sepuluh peluru besar akan menghambur ke langit dalam waktu satu detik. “Pesawat musuh pasti akan meledak kemudian rontok bila terkena tembakan senjata yang hebat ini,” selalu demikian yang dibayangkan Mardanu.

 

Bayangan itu sering terbawa ke alam mimpi. Suatu malam dalam tidurnya Mardanu mendapat perintah siaga tempur. Persiapan hanya setengah menit. Pesawat musuh akan datang dari utara. Mardanu melompat dan meraih senjata artilerinya. Tangannya berkeringat, jarinya lekat pada tuas pelatuk. Matanya menatap tajam ke langit utara. Terdengar derum pesawat yang segera muncul sambil menabur tentara payung. Mardanu menarik tuas pelatuk dan ratusan peluru menghambur ke angkasa dalam hitungan detik. Ya Tuhan, pesawat musuh itu mendadak oleng dan mengeluarkan api. Terbakar. Menukik dan terus menukik. Tentara payung masih berloncatan dari perut pesawat dan Mardanu mengarahkan tembakannya ke sana.

 

Ya Tuhan, tiga parasut yang sudah mengembang mendadak kuncup lagi kena terjangan peluru Mardanu. Tiga prajurit musuh meluncur bebas jatuh ke bumi. Tubuh mereka pasti akan luluh-lantak begitu terbanting ke tanah. Mardanu hampir bersorak namun tertahan oleh kedatangan pesawat musuh yang kedua. Mardanu memberondongnya lagi. Kena. Namun pesawat itu sempat menembakkan peluru kendali yang meledak hanya tiga meter di sampingnya. Tubuh Mardanu terlempar ke udara oleh kekuatan ledak peluru itu dan jatuh ke lantai kamar tidur sambil mencengkeram bantal.

 

Lelaki yang Menderita bila Dipuji

 

Ketika tersadar Mardanu kecewa berat; mengapa pertempuran hebat itu hanya ada dalam mimpi. Andaikata itu peristiwa nyata, maka dia telah melakukan pekerjaan besar dan luar biasa. Bila demikian Mardanu mau dipuji, mau juga menerima penghargaan. Meski demikian, Mardanu selalu mengenang dan mengawetkan mimpi itu dalam ingatannya. Apalagi sampai Mardanu dipindahtugaskan ke bidang administrasi teritorial lima tahun kemudian, perang dan serangan udara musuh tidak pernah terjadi.

 

Pekerjaan administrasi adalah hal biasa yang begitu datar dan tak ada nilai istimewanya. Untung Mardanu hanya empat tahun menjalankan tugas itu, lalu tanpa terasa masa persiapan pensiun datang. Mardanu mendapat tugas baru menjadi anggota Komando Rayon Militer di Kecamatannya. Di desa tempat dia tinggal, Mardanu juga bertugas menjadi Bintara Pembina desa. Selama menjalani tugas teritorial ini pun Mardanu tidak pernah menemukan kesempatan melakukan sesuatu yang penting dan bermakna sampai dia pada umur lima puluh tahun.

 

***

 

Pagi ini Mardanu berada di becak langganannya yang sedang meluncur ke kantor pos. Dia mau ambil uang pensiun. Kosim si abang becak sudah ubanan, pipinya mulai lekuk ke dalam. Selama mengayuh becak napasnya terdengar megap-megap. Namun seperti biasa dia mengajak Mardanu bercakap-cakap.

 

“Pak Mardanu mah senang ya, tiap bulan tinggal ambil uang banyak di kantor pos,” kata Si Kosim di antara tarikan napasnya yang berat. Ini juga pujian yang terasa membawa beban. Dia jadi ingat selama hidup belum pernah melakukan apa-apa; selama jadi tentara belum pernah terlibat perang, bahkan belum juga pernah bekerja sekeras tukang becak di belakangnya. Sementara Kosim pernah bilang dirinya sudah beruntung bila sehari mendapat lima belas ribu rupiah. Beruntung, karena dia sering mengalami dalam sehari tidak mendapatkan serupiah pun.

 

Masih bersama Kosim, pulang dari kantor pos Mardanu singgah ke pasar untuk membeli pakan burung kutilangnya. Sampai di rumah, Kosim diberinya upah yang membuat tukang becak itu tertawa. Kemudian terdengar kicau kutilang di kurungan yang tergantung di kaso emper rumah. Burung itu selalu bertingkah bila didekati majikannya. Mardanu belum menaruh pakan ke wadahnya di sisi kurungan. Dia ingin lebih lama menikmati tingkah burungnya; mencecet, mengibaskan sayap dan merentang ekor sambil melompat-lompat. Mata Mardanu tidak berkedip menatap piaraannya. Namun mendadak dia harus menengok ke bawah karena ada sepasang tangan mungil memegangi kakinya. Itu tangan Manik, cucu perempuan yang masih duduk di Taman Kanak-Kanak.

 

“Itu burung apa, Kek?” tanya Manik. Rasa ingin tahu terpancar di wajahnya yang sejati.

 

“Namanya burung kutilang. Bagus, kan?”

 

Manik diam. Dia tetap menengadah, matanya terus menatap ke dalam kurungan.

 

“O, jadi itu burung kutilang, Kek? Aku sudah lama tahu burungnya, tapi baru sekarang tahu namanya. Kek, aku bisa nyanyi. Nyanyi burung kutilang.”

 

“Wah, itu bagus. Baiklah cucuku, cobalah menyanyi, Kakek ingin dengar.”

 

Manik berdiri diam. Barangkali anak TK itu sedang mengingat cara bagaimana guru mengajarinya menyanyi.

 

Di pucuk pohon cempaka, burung kutilang bernyanyi… Manik menyanyi sambil menari dan bertepuk-tepuk tangan. Gerakannya lucu dan menggemaskan. Citra dunia anak-anak yang amat menawan. Mardanu terpesona, dan terpesona. Nyanyian cucu terasa merasuk dan mengendap dalam hatinya. Tangannya gemetar. Manik terus menari dan menyanyi.

 

Selesai menari dan menyanyi, Mardanu merengkuh Manik, dipeluk dan direngkuh ke dadanya. Ditimang-timang, lalu diantar ke ibunya di kios seberang jalan. Kembali dari sana Mardanu duduk di bangku agak di bawah kurungan kutilangnya. Dia lama terdiam. Berkali-kali ditatapnya kutilang dalam kurungan dengan mata redup. Mardanu gelisah. Bangun dan duduk lagi. Bangun masuk ke rumah dan keluar lagi. Dalam telinga terulang-ulang suara cucunya: Di pucuk pohon cempaka, burung kutilang bernyanyi….

 

Wajah Mardanu menegang, kemudian mengendur lagi. Lalu perlahan-lahan dia berdiri mendekati kurungan kutilang. Dengan tangan masih gemetar dia membuka pintunya. Kutilang itu seperti biasa, bertingkah elok bila didekati oleh pemeliharanya. Tetapi setelah Mardanu pergi, kutilang itu menjulurkan kepala keluar pintu kurungan yang sudah menganga. Dia seperti bingung berhadapan dengan udara bebas, tetapi akhirnya burung itu terbang ke arah pepohonan.

 

Ketika Manik datang lagi ke rumah Mardanu beberapa hari kemudian, dia menemukan kurungan itu sudah kosong.

 

“Kek, di mana burung kutilang itu?” tanya Manik dengan mata membulat.

 

“Sudah kakek lepas. Mungkin sekarang kutilang itu sedang bersama temannya di pepohonan.”

 

“Kek, kenapa kutilang itu dilepas?” Mata Manik masih membulat.

 

“Yah, supaya kutilang itu bisa bernyanyi di pucuk pohon cempaka, seperti nyanyianmu.”

 

Mata Manik makin membulat. Bibirnya bergerak-gerak, namun belum ada satu kata pun yang keluar.

 

“Biar kutilang itu bisa bernyanyi di pucuk pohon cempaka? Wah, itu luar biasa. Kakek hebat, hebat banget. Aku suka Kakek.” Manik melompat-lompat gembira.

 

Mardanu terkesima oleh pujian cucunya. Itu pujian pertama yang paling enak didengar dan tidak membuatnya menderita.

 

Manik kembali berlenggak-lenggok dan bertepuk tangan. Dari mulutnya yang mungil terulang nyanyian kegemarannya. Mardanu mengiringi tarian cucunya dengan tepuk tangan berirama. Entahlah, Mardanu merasa amat lega. Plong.

   

Ahmad Tohari, lahir di Banyumas, 13 Juni 1984. Sekarang menetap di Desa Tinggarjaya, Jatilawang, Purwokerto, Jawa Tengah. Karyanya yang paling populer novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Kumpulan cerpennya, Senyum Karyamin, Nyanyian Malam, dan Mata yang Enak Dipandang. Buku-buku lainnya berupa novel; Kubah (1982), Di Kaki Bukit Cibalak (1977), Bekisar Merah (1993), Lingkar Tanah Lingkar Air (1995), Belantik (2001), daan Orang-orang Proyek (2002).

 

Hari Budiono, lulus Sekolah Tinggi Seni Rupa “ASRI” Yogyakarta tahun 1985. Tahun 1978 tergabung dalam komunitas Seni Kepribadian Apa (PIPA) di Yogyakarta. Ketika tahun 1982 Jakob Oetama mendirikan Bentara Budaya di Yogyakarta, bersama Sindhunata, GM Sudarta, JB Kristanto, Hajar Satoto, dan Ardus M Saega, menjadi pelaksana angkatan pertama. Sekarang sebagai kurator pada Bentara Budaya, lembaga kebudayaan milik Kompas Gramedia.

 

[1] Disalin dari karya Ahmad Tohari

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” edisi Minggu 7 Oktober 2018

 

The post Lelaki yang Menderita bila Dipuji appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 

via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2C4ZnQm

Lelang Batik Car

Kantor Gubernur

Senayan City

Serah Terima pemenang lelang ( Piyu-Padi )

Opening ceremony of "Wajah-wajah PERUPA" Art Exhibition.

 

Location : Artiseri Gallery, Seri Pasific Hotel, Kuala Lumpur, Malaysia

 

Feel free to visit 2121studioDOTcom

 

Thanks for the visit, comments, awards, invitations and favorites.

 

Please don't use this image on websites, blogs or other media

without my explicit permission.

 

© All rights reserved

 

Contact: 2121studio@gmail.com

 

My Website | My Blog | My Facebook

Progress Rebuild Yamaha XS-650 dengan Tangki Yamaha RS-100 New Old Stock

20 Kanvas Pernah Terbakar, Kini Siap Pameran

e-wonosobo - Melukis menggunakan media cat dan kanvas tergolong biasa. Namun bagaimana bila menggunakan kanvas dan api. Seperti dilakoni Destria Nugroho Pramdito Kauwang, Pelukis dari Komunitas Seni Rupa Air Gunung Wonosobo ini, mampu melahirkan lukisan nan apik dengan media kanvas yang dibakar pakai api.

Salah satu ruangan kecil berukuran sekitar 4x4 meter di rumah beralamat Dukuh Sukoyoso No 23 Kelurahan Kramatan Wonosobo, tidak tampak rapi. Di ruangan itu, tampak dua lukisan berukuran sekitar 1,5 meter persegi, dibawahnya terdapat beberapa benda seperti kompor, blower, korek api bensol, soldir serta deretan warna-warni cat.

Dari kanvas dua lukisan itu, pada satu lukisan yang menghadap ke utara, tampak wajah perempuan beralis tebal mirip sosok Black Swan judul film besutan Sutradara asal Amerika Darren Arronofsky yang populer pada tahun 2010. Sementara, pada kanvas satunya, tergambar dua sosok manusia pria dan wanita telanjang.

Di depan lukisan itu, berdiri seorang lelaki mengenakan tutup kepala yang tengah sibuk mengukur besaran api. Api itu, sesekali dibakarkan pada kanvas untuk membentuk rambut pada sosok perempuan yang dilukisnya dalam kanvas.Yah, Pria yang mengenakan penutup kepala itu bernama lengkap Destria Nugroho Pramdito Kauwang, pelukis yang tercatat unik, karena menggunakan media kanvas dan bara api dalam melahirkan karya.

“ Lukisan yang ini, berkisah tentang Adam dan Eva. Lekukan tubuhnya tampak telanjang tapi dinamis. Seperti perjalanan hidup,”ujar Destria Nugroho Pramdito Kauwang.

Pria yang intim disapa Didit ini mengatakan, dua lukisan yang dihadapannya itu, sudah selesai 90 persen dan tinggal penyelesaian. Dua lukisan tersebut dipersiapkan untuk Pameran Seni Rupa Jelang Hari Jadi Wonosobo Juli mendatang. Menariknya, dua lukisan itu hampir keseluruhan dihasilnya dengan media kanvas yang dibakar menggunakan api.

“ Hampir dominan pengerjaan lukisan ini menggunakan api,”aku pria kelahiran Wonosobo 11 Desember 1974 ini.

Ayah satu anak suami dari Suyanti ini membeberkan, untuk melahirkan satu karya lukisanya membutuhkan waktu sekitar satu bulan. Proses pembuatanya menggunakan media kanvas yang kemudian dibakar menggunakan api, untuk menciptakan garis berwarna kuning keemasan serta hitam. Sedangkan untuk membuat background warna hitam pekat menggunakan pecahan arang.

“ Untuk di luar warna itu, saya tetap menggunakan cat. Namun dalam tiap lukisan saya hanya beberapa persen saja, hampir dominan menggunakan api,”kata ayah Daniel.

Alat yang digunakan untuk menggoreskan api, Didit mengaku menggunakan beberapa alat yang tergolong unik. Diantaranya untuk membuat garis ukuran tebal dia menggunakan kompor gas serta blower. Sedangkan untuk membentuk garis tipis seperti pelipis mata serta bibir pada objek gambar manusia dia menggunakan soldir dengan ukuran bara api disesuaikan.

“Untuk menentukan lebar garis, serta bubuhan warna sangat tergantung pada ukuran apinya,” jelasnya.

Dalam menciptakan alat lukisnya tersebut, Didit mengaku dirangkai sendiri, persoalan ini dinilai tidak sulit, karena dia merupakan sarjana elektro alumni Sekolah Tinggi Teknologi Nasional (STTNAS) Jakarta, bahkan sempat mengajar pelajaran elektro di Sekolah Tuna Rungu Don Bosco Wonosobo.

“Semua alat lukisan saya buat sendiri, karena memang belum ada alat menggunakan api yang dijual di pasar,”ujar pria beragama Kristen yang juga mengantongi gelar sarjana dari Jurusan Tarbiyah Universitas Sains Alquran (Unsiq) Wonosobo ini.

Diakuinya, melukis sudah disukai sejak dia masih duduk di bangku SMP. Namun media yang digunakan tercatat umum, menggunakan kanvas dan cat. Namun sejak dua tahun terakhir, dia memilih melukis menggunakan media api dan kanvas. Untuk menemukan mode lukisan ini, dia melakukan latihan beberapa kali, bahkan sebelumnya beberapa kali gagal karena kanvas terbakar.

“Kalau melukis menggunakan cat, begitu salah bisa dibenahi, namun melukis menggunakan api, begitu salah kanvas terbakar. Khusunya ketika akan membuat goresan yang tebal,”kata, sembari menyebutkan sudah sekitar 20 kanvas yang terbakar.

Dia mengaku, tantangan dalam melukis menggunakan api tidak hanya menentukan pada ukuran besaran api. Namun, kondisi emosi sangat berpengaruh. Diakui kegagalan dalam melukis sebelumnya karena belum bisa mengatur antara besaran api serta kondisi emosi.

“Emosi, api, otak serta penjiwaan sangat menentukan lukisan dengan media ini. karena tiap garis dihasilkan dari proses pergulatan emosi dan pikiran yang disalurkan melalui pembakaran api dan rekatan kanvas,” pungkasnya. (rase)

 

1 3 4 5 6 7 ••• 43 44